“ Di Bawah Puncak Purnama, Refleksi Raja Hayam Wuruk Menari Topeng Berwarna Emas “
Jombang, Bhirawa
Sanggar Wayang Topeng Tri Purwo Budoyo Desa Jatiduwur, Kecamatan Kesamben, Kabupaten Jombang pada Jumat malam (01/05) tampil menjadi tempat sakral untuk mendoakan kebangkitan Nusantara.
Di tempat itu, peran doa tokoh besar Nusantara yakni, Raja Majapahit Hayam Wuruk dan Sang Proklamator, Ir. Soekarno dibedah. Semangat kedua tokoh besar tersebut diharapkan menjadi spirit untuk kebangkitan Nusantara di masa kini. Acara menjadi purna dengan doa bersama untuk kebangkitan Nusantara dan menyanyikan lagu Bagimu Negeri.
Acara yang dikemas dengan jagongan budaya dan doa bersama menjemput kebangkitan Nusantara itu berjalan dengan khidmat.
Setelah dibuka dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, acara inti masuk pada penampilan Tari Klono Wayang Topeng Jatiduwur di bawah Purnama.
Tari ini dimainkan langsung oleh pengelola Sanggar Wayang Topeng Tri Purwo Budoyo, Isma Hakim. Tari ini ditampilkan sebagai refleksi Raja Hayam Wuruk menari topeng berwarna emas.
Seperti diketahui dalam narasi sejarah yang ada, Majapahit adalah kerajaaan besar dari Nusantara. Pada masa pemerintahan Raja Hayam Wuruk dan Mahapatih Gajah Mada, Majapahit mengalami puncak keemasannya.
Untuk diketahui, di Kitab Negarakertagama yang ditulis oleh Mpu Prapanca, membicarakan Raja Hayam Wuruk pernah menari dengan menggunakan topeng berwarna emas.
Dan di Sanggar Wayang Topeng Tri Purwo Budoyo, Jatiduwur, Kesamben, Jombang, hingga saat ini masih disimpan dua topeng yang dibuat pada masa Majapahit yakni, Topeng Klono yang berwarna emas dan Topeng Panji berwarna hijau.
Topeng tersebut diwariskan secara turun temurun dari generasi pertama yang bernama Ki Purwo. Bahkan ada penelusur sejarah yang meyakini bahwa Ki Purwo adalah Ki Ageng Jatiduwur, tokoh yang pernah memberikan andil menyelamatkan Raja Mahapatih Jayanegara saat berkecamuk pemberontakan Ra Kuti.
Ki Ageng Jatiduwur juga diyakini sebagai seorang telik sandi kerajaan Singosari yang hidup hingga masa Majapahit.
“Kami berharap spirit kebesaran Nusantara pada masa Raja Hayam Wuruk dapat membangkitkan Nusantara pada masa kini,” kata Isma Hakim.
Isma Hakim mengatakan, pada perkembangannya, karakter pada Wayang Topeng Jatiduwur berkembang menjadi 33 karakter, lengkap dengan perangkat gamelan dan dalangnya.
Wayang Topeng Jatiduwur memiliki lakon khas tentang Panji dari Kadiri.
Isma Hakim menambahkan, terkait hal tersebut, ada yang berpendapat bahwa Panji adalah sastra asli Nusantara yang diciptakan pada masa Majapahit dengan memakai setting Kadiri.
“Wayang Topeng Jatiduwur salah satu instrumen Panji,” tutur Isma Hakim.
Dia berharap, makin banyak pihak ikut melestarikan artefak sejarah peninggalan Ki Purwo itu dan dapat dikembangkan sebagai basis pengembangan nilai-nilai sejarah, wisata, hingga ekonomi.
“Kami juga berharap semua pihak termasuk pemerintah, menghormati jasa Ki Purwo. Tanpa Ki Purwo, tidak akan ada tarian Wayang Topeng Jatiduwur di manapun,” tandas Isma Hakim. [rif.kt]


