DPRD Jatim, Bhirawa
Meningkatnya kasus suspek campak di sejumlah daerah di Jawa Timur mendapat sorotan dari DPRD Jawa Timur. Anggota Komisi E DPRD Jatim, Puguh Wiji Pamungkas, meminta Pemerintah Provinsi Jawa Timur segera mengambil langkah strategis untuk mencegah penyebaran penyakit tersebut semakin meluas.
Politisi PKS ini mengungkapkan, laporan dari sejumlah dinas kesehatan daerah menunjukkan adanya tren kenaikan kasus suspek campak dibandingkan tahun sebelumnya. Bahkan, di Kabupaten Tulungagung tercatat sudah ada satu pasien yang terkonfirmasi positif campak.
Menurutnya, kondisi tersebut menjadi sinyal serius bahwa potensi penyebaran campak di Jawa Timur masih cukup tinggi dan perlu penanganan cepat.
“Kalau kita lihat, bukan hanya di Tulungagung, di beberapa daerah juga sempat terjadi kejadian luar biasa (KLB). Ini harus menjadi atensi serius bagi Pemerintah Provinsi Jawa Timur, khususnya Dinas Kesehatan, agar kasus seperti ini tidak semakin banyak muncul di berbagai daerah,” ujar Puguh saat dikonfirmasi Bhirawa, Kamis (12/3).
Ia menilai langkah awal yang perlu segera dilakukan adalah memperkuat koordinasi antara Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur dengan dinas kesehatan di seluruh kabupaten/kota. Selain itu, pemerintah juga perlu melakukan pemetaan wilayah berdasarkan tingkat risiko penyebaran campak.
Menurutnya, pemetaan tersebut dapat dilakukan dengan mengelompokkan wilayah ke dalam zona merah, kuning, dan hijau berdasarkan tingkat kerawanan penularan.
“Pemetaan ini penting untuk mengetahui daerah dengan potensi penularan tinggi, sedang, maupun rendah. Salah satu indikatornya bisa dilihat dari capaian angka imunisasi di wilayah tersebut,” katanya.
Selain pemetaan wilayah, Puguh juga menekankan pentingnya percepatan program imunisasi campak-rubella secara masif. Ia mendorong agar program tersebut dilakukan dengan pendekatan jemput bola melalui berbagai fasilitas yang sudah tersedia di masyarakat.
“Imunisasi harus dimasifkan melalui sekolah-sekolah, posyandu, serta fasilitas kesehatan. Infrastruktur kesehatan yang sudah ada harus dimanfaatkan secara maksimal agar cakupan imunisasi bisa meningkat,” jelasnya.
Di sisi lain, ia juga meminta penguatan pengawasan serta deteksi dini melalui sistem surveilans kesehatan di seluruh fasilitas pelayanan kesehatan. Rumah sakit, puskesmas, hingga klinik diminta aktif memantau gejala awal penyakit campak seperti demam, ruam, batuk pilek, hingga mata merah.
Menurut Puguh, Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur perlu mengeluarkan surat edaran agar seluruh fasilitas kesehatan melakukan pemantauan secara sistematis.
“Dengan adanya surveilans yang aktif, Dinas Kesehatan Provinsi bisa memiliki database yang kuat sehingga dapat melakukan respons cepat melalui tim penanganan ketika ditemukan kasus,” katanya.
Ia juga menekankan pentingnya edukasi kepada masyarakat, terutama para orang tua, agar tidak menunda pemberian imunisasi kepada anak. Upaya edukasi ini, lanjutnya, dapat melibatkan berbagai unsur masyarakat mulai dari kader kesehatan desa, puskesmas pembantu, hingga organisasi masyarakat.
“Di tingkat desa sudah ada kader kesehatan, puskesmas pembantu, hingga puskesmas. Semua itu bisa dilibatkan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya imunisasi,” ujarnya.
Puguh juga mengingatkan bahwa menjelang periode mudik Lebaran, mobilitas masyarakat diperkirakan akan meningkat sehingga berpotensi mempercepat penularan penyakit menular, termasuk campak.
“Momentum mudik ini harus menjadi perhatian bersama karena mobilitas dan interaksi masyarakat sangat tinggi. Ini berpotensi meningkatkan penularan penyakit, termasuk campak,” katanya.
Karena itu, ia berharap Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur segera mengoordinasikan langkah penanganan bersama seluruh pemerintah kabupaten/kota agar potensi penyebaran campak dapat segera dikendalikan.
Sementara itu, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Tulungagung, Aris Setiawan, mengungkapkan bahwa berdasarkan data periode Januari hingga Februari 2026 terdapat 38 kasus suspek campak di wilayahnya.
Jumlah tersebut meningkat tajam dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
“Awal tahun 2025 lalu ada 12 kasus suspek campak. Kemudian awal tahun 2026 naik menjadi 38 suspek campak,” kata Aris, Rabu (11/3/2026). [geh.kt]


