Sidoarjo, Bhirawa
Di SMP PGRI 1 Buduran, Kamis (5/3) kemarin, lain daripada yang lain. Sehari di SMP itu, para siswa -siswinya dan warga sekolah lain juga melaksanakan pembiasaan sehari berbahasa Jawa.
Kepala SMP PGRI 1 Buduran, Indrajayanti Ratnaningsih, S.Si, M.Pd, Gr. mengatakan, kegiatan tersebut menindaklanjuti program revitalisasi bahasa daerah, khususnya bahasa Jawa.
“Program ini bertujuan untuk melestarikan bahasa Jawa. Sebagai upaya menghidupkan kembali dan melestarikan bahasa daerah yang terancam punah atau kurang digunakan,” komentarnya, saat dikonfirmasi, Kamis (5/3) kemarin, di kantornya.
Kegiatan tersebut bertajuk Kamajaya Ratih kepanjangan dari Kamis Anjaga Budaya Terampil Terlatih. Semua warga sekolah di SMP PGRI 1 Buduran , diharuskan agar berbahasa Jawa sebagai media komunikasi.
Dikatakan Ratnaningsih, bahasa daerah merupakan bagian penting dari identitas budaya bangsa. Namun dalam perkembangannya mengalami penurunan jumlah penutur. Bahkan menurut UNESCO, banyak bahasa daerah yang punah.
Khusus untuk revitalisasi bahasa Jawa, Kabupaten Sidoarjo mempunyai bahasa lokal dialek bahasa Jawa Sidoarjan (Sidoarjoan). Maka harus dilestarikan untuk mencegah kepunahan, caranya dengan menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari.
Kaur Humas SMP PGRI 1 Buduran yang juga guru Bahasa Jawa, Drs. Koesmoko menyampaikan, saat kegiatan Kamajaya Ratih, laki-laki mengenakan busana tradisional Jawa motif lurik, dan perempuan mengenakan kebaya tradisional. Pada saat istirahat siswa -siswi juga diperdengarkan tembang-tembang berbahasa.
Koesmoko mengatakan seperti pada hari Kamis, 5 Maret 2026, meski dalam suasana bulan suci Ramadan 1447 H, para guru, tenaga kependidikan, dan murid SMP PGRI 1 Buduran datang di sekolah dengan mengenakan busana tradisional Jawa.
Pada saat itu, para bapak guru dan murid laki-laki mengenakan baju lurik. Sedangkan para ibu guru dan murid perempuan mengenakan busana kebaya tradisional Jawa. Di depan pintu gerbang utama sekolah terdengar sapaan “sugeng enjing Bapak, sugeng enjing Ibu”, “sugeng rawuh Bapak, sugeng rawuh Ibu”.
Menurut Koesmoko, program Kamajaya Ratih sudah dilaksanakan sejak hari Kamis, tanggal 28 Januari 2026. Dengan demikian, sudah terlaksana berlangsung sekitar satu setengah bulan. Dengan harapan, target-target yang sudah ditetapkan bisa dicapai dengan baik dan benar. “Program ini sudah saya laporkan di grup MGMP Bahasa Jawa Kabupaten Sidoarjo,” kata Koesmoko. [kus.wwn]


