Gresik, Bhirawa
Meski lokasinya tersembunyi di gang sempit Kampung Kajen, Desa Giri, Kecamatan Kebomas. Antusias warga tetap memadati pasar Panganan Giri Biyen, atau pasar jajan jadul peninggalan Sunan Giri. Yang menjadi legenda, dan terus dirawat dan dijaga keberadaanya oleh masyarakat setempat.
Sebanyak 120 jenis panganan dan jajanan tradisional tempo dulu, dijajakan di 43 stan sepanjang jalan kampung. Tidak kurang dari waktu sekitar 2 jam ludes terjual, dengan harga yang cukup ekonomis. Mulai Rp2 ribu hingga Rp10 ribu, menjadi daya tarik utama bagi para pengunjung.
Pasar bukak sekitar pukul 06.30 WIB, pasar sudah dipadati pengunjung. Menariknya tak hanya warga Gresik, masyarakat dari berbagai daerah seperti Surabaya, Sidoarjo, Mojokerto hingga Lamongan. Juga turut meramaikan pasar bernuansa tempo dulu, karena jajanan yang mereka buru.
Ketua Pasar Panganan Giri Biyen Nurul Huda mengatakan, bahwa pasar telah digelar untuk ketiga kalinya. Kegiatan tersebut bertujuan melestarikan makanan dan jajanan jadul peninggalan Sunan Giri, sekaligus menghidupkan kembali nilai kebersamaan dan budaya lokal masyarakat tempo dulu.
“Sekitar 120 jenis panganan dan jajanan jadul yang dijual di 43 stan, selain melestarikan warisan budayam. Kegiatan juga untuk mengangkat perekonomian UMKM setempat, agar lebih sejahtera,”ujarnya.
Sementar pencetus ide Pasar Panganan Giri Biyen Muhammad Ma’arif mengatakan, bahwa sejumlah makanan khas yang dijajakan di antaranya kupat ketek berbahan beras ketan, bubur masenm. Sego roomo, nasi bukhori, serta berbagai panganan unik lainnya yang menjadi ciri khas Kampung Kajen.
“Makanan jadul yang kita angkat seperti kupat ketek, Alhamdulillah sudah menjadi warisan budaya tak benda. Makanan disini memang aneh, dan unik, harganya paling murah dua ribu rupiah,”ungkapnya.
Para pengunjung pasar, berburu jajanan tempo dulu juga sarapan pagi. Meski sederhana dan tempat duduk lesehan, tetap dinikmati bahkan juga ada yang membawa pulang. Dengan alasan untuk yang dirumah, juga katanya untuk di buat makan ringan siang nanti.
Dalam melakukan transaksi jual beli makanan, uniknya menggunakan uang dobog. Uang yang menyerupai koin berlubang, yang semakin menguatkan nuansa tempo dulu. Jika para pengunjung kehabisan uang dobog, mereka bisa menukar uang rupiahnya pada panitia yang telah menyediakan.
“Ada juga selain makanan, para pedagang menjual mainan anak-anak tradisional. Seperti kapal-kapalan, sehingga menambah suasana nostalgia pedesaan.”pungkasnya.
Salah satu pembeli Hamida warga setempat mengatakan, bahwa berkunjung kepadar. Mengaku penasaran dengan Pasar Panganan Giri Biyen, dan makanan yang dijual benar-benar jadul dan harganya sangat murah. Ada nasi bukhori khas Giri, juga pleret dan lontong roomo khas Giri. [kim.wwn]


