Pasuruan, Bhirawa – Pemkab Pasuruan mengalokasikan anggaran Bantuan Tidak Terduga (BTT) sekitar Rp1 miliar untuk memulihkan jaringan pipa air bersih yang hancur diterjang kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di lereng Gunung Arjuno dan Gunung Ringgit.
Krisis pasokan air yang melumpuhkan kebutuhan harian lebih dari 7.000 warga Desa Jatiarjo, Kecamatan Prigen, tersebut ditargetkan mulai teratasi seiring pengerjaan fisik perbaikan yang dijadwalkan bergulir pekan depan.
Bencana kebakaran di kawasan Taman Hutan Raya (Tahura) Raden Soerjo tak sekadar melahap vegetasi lereng gunung, namun juga melubangi infrastruktur vital masyarakat.
Suhu ekstrem dari kobaran api melelehkan pipa-pipa instalasi berbahan polyvinyl chloride (PVC) yang mengalirkan air mendatar dari sumber mata air pegunungan menuju pemukiman warga.
Berdasarkan pendataan awal Dinas Cipta Karya dan Tata Ruang Kabupaten Pasuruan, kerusakan paling parah menerpa jaringan pipa berdiameter 3 inci dan 5 inci. Jaringan ini merupakan urat nadi penyaluran air bersih bagi warga di kawasan tersebut.
“Nanti yang kami tangani segera adalah pipa 3 inci sepanjang 750 meter dan pipa 5 inci sepanjang 3,7 kilometer. Insya Allah, minggu depan mulai kita kerjakan. Perkiraan kebutuhan anggarannya sekitar Rp 1 miliar,” ujar Kepala Dinas Cipta Karya dan Tata Ruang Kabupaten Pasuruan, Eko Bagus Wicaksono, Selasa (20/10/2026).
Eko menjelaskan, tim teknis menerapkan strategi penanganan terukur. Pada pipa berdiameter 5 inci yang masih relatif utuh, petugas hanya akan mengganti bagian sambungan yang rusak.
“Tapi, pada titik-titik yang terbakar habis, penggantian jaringan pipa menjadi prioritas mutlak,” imbuh Eko.
Adapun dampak kerusakan jaringan air bersih ini meluas cepat. Di Desa Jatiarjo saja, sedikitnya 7.000 penduduk yang tersebar di tiga dusun kehilangan akses air bersih secara normal.
Sementara itu, pendataan khusus mencatat setidaknya 1.616 jiwa mengalami krisis air total akibat seluruh pipa yang terhubung langsung dari sumber mata air hancur tak bersisa.
Kepala Desa Jatiarjo. Muhammad Hudan Dardiri menyampaikan terhentinya alir air mengganggu aktivitas rutin harian warga, mulai dari kebutuhan memasak, sanitasi hingga konsumsi air minum.
”Dan kerusakan pipa ini membuat distribusi air terganggu total. Ada sekitar 7.000 penduduk di tiga dusun yang terdampak. Pemerintah desa bersama warga sudah meminta bantuan kepada berbagai pihak agar kebutuhan air bersih tetap terpenuhi selama proses perbaikan berlangsung,” kata Kang Jodi, sapaan akrabnya.
Guna mengantisipasi dampak krisis air yang kian meluas, Bupati Pasuruan, HM Rusdi Sutejo menggelar rapat terbatas penanganan pascabencana bersama relawan, pemerintah desa, dan sejumlah Organisasi Perangkat Daerah (OPD) di Kantor Desa Jatiarjo, Kecamatan Prigen, Senin (19/10/2026) kemarin.
Mas Rusdi sapaan akrabnya menegaskan, penanganan bencana di lereng Arjuno dilakukan lewat skema ganda. Yakni, penanganan darurat jangka pendek dan mitigasi struktural jangka panjang.
”Untuk solusi sementara krisis air bersih, kami lakukan melalui pemberian air dengan menggunakan mobil tangki dan pihak lainnya. Sedangkan jangka panjang mengganti dengan pipa besi yang lebih tahan jika terjadi kebakaran,” tegas Mas Rusdi.

Penggunaan material besi dipandang strategis mengingat kawasan lereng Arjuno dan Ringgit memiliki risiko kerentanan tinggi terhadap paparan api saat musim kemarau.
Bahan besi diharapkan membuat instalasi pipa lebih tangguh dan tahan panas sehingga risiko krisis air akibat kebakaran hutan tidak berulang di masa mendatang.
Sembari menunggu bergulirnya pengerjaan proyek perbaikan dari pemkab pekan depan, denyut swadaya masyarakat di kaki gunung mulai bergerak. Lebih dari 200 warga Desa Jatiarjo turun ke lapangan secara bergotong royong pada Selasa pagi.
Masing-masing Rukun Tetangga (RT) mengutus perwakilannya untuk menyisir jalur pipa di lereng terjal.
Mereka memotong ranting dan semak belukar yang hangus, membersihkan sisa abu yang menutupi jalur, serta mengumpulkan sisa-sisa pipa yang masih dapat difungsikan kembali.
”Hari ini, setiap RT kami minta mengirimkan warganya untuk resik-resik sisa jaringan,” kata Kang Jodi.
Aksi gotong royong warga di tengah sisa puing kebakaran menjadi langkah awal penyiapan jalur sebelum pipa besi resmi dipasang.
Pemerintah Kabupaten Pasuruan berjanji akan terus menyalurkan bantuan air bersih menggunakan mobil tangki hingga seluruh bentang pipa pengganti terpasang dan aliran air bersih kembali normal ke rumah-rumah warga. [hil.kt]




