Surabaya, Bhirawa – Adhy Karyono, Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Timur, resmi menyandang gelar Doktor Ilmu Kesejahteraan Sosial dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia (FISIP UI) setelah mempertahankan disertasinya dalam Sidang Terbuka Senat Akademik pada Kamis (9/7) di Depok. Dengan IPK 3,86 dan predikat Yudisium Sangat Memuaskan, Adhy menjadi Doktor ke-83 Program Studi Ilmu Kesejahteraan Sosial FISIP UI.
Dalam disertasinya yang berjudul Dari Bantuan Sosial ke Warga Negara Produktif, Program Keluarga Harapan sebagai Investasi Sosial, Adhy mengusulkan model PKH Produktif-Inklusif. Konsep ini memandang perlindungan sosial bukan sekadar belanja negara, melainkan investasi jangka panjang untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia sehingga menghasilkan warga yang produktif, mandiri, dan berdaya saing.
“Perlindungan sosial tidak lagi dapat dipandang sebagai beban anggaran, melainkan investasi jangka panjang untuk membangun kualitas sumber daya manusia sekaligus memperkuat pertumbuhan ekonomi,” kata Adhy.
Adhy mencatat bahwa selama hampir dua dekade, PKH telah menjadi penyangga bagi keluarga miskin melalui peningkatan akses pendidikan dan layanan kesehatan. Tantangannya kini adalah memastikan peningkatan kualitas tersebut berujung pada kemandirian ekonomi penerima manfaat.
Penelitiannya juga menempatkan reformasi perlindungan sosial di Indonesia sebagai bagian penting evolusi PKH. Pembaruan kebijakan pada masa Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa, sekarang Gubernur Jawa Timur, seperti penguatan basis data, digitalisasi bantuan, dan pengembangan model perlindungan yang adaptif serta inklusif, menjadi pijakan penting dalam analisisnya.
“Berangkat dari temuan ini, saya menawarkan konsep PKH Produktif-Inklusif sebagai model baru perlindungan sosial di Indonesia. Model ini menekankan bahwa negara perlu memberikan perlindungan sosial yang inklusif sebagai fondasi sebelum mendorong produktivitas masyarakat melalui peningkatan kapasitas, perluasan kesempatan kerja, dan akses terhadap pasar,” urai Adhy.
Adhy menegaskan bahwa keberhasilan proses graduasi keluarga penerima manfaat tak cukup diukur dari berhentinya bantuan, melainkan harus terlihat dari tercapainya kemandirian ekonomi yang berkelanjutan.
“Kesejahteraan tidak berhenti pada berkurangnya kemiskinan. Tujuan akhirnya adalah melahirkan warga negara yang produktif, mandiri, dan berdaya saing,” tegasnya.
Menutup orasinya, Adhy mengingatkan bahwa ilmu pengetahuan harus berujung pada pelayanan bagi masyarakat.
“Pada akhirnya, ilmu pengetahuan hanya akan menemukan kemuliaannya ketika ia menjelma menjadi pengabdian. Disertasi ini bukanlah garis akhir, melainkan awal dari tanggung jawab yang lebih besar untuk menghadirkan kebijakan publik yang semakin berbasis ilmu pengetahuan demi kemanfaatan masyarakat,” pungkasnya.
Sidang terbuka tersebut dihadiri oleh Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak, pimpinan DPRD Provinsi Jawa Timur, anggota Komisi IX DPR RI, akademisi, serta sejumlah pejabat dan tamu undangan. [aya.kt]


