Bondowoso, Bhirawa
Kondisi bangunan SD Negeri Klabang II di Kecamatan Tegalampel, Kabupaten Bondowoso, kian memprihatinkan. Sejumlah ruang kelas yang mengalami kerusakan parah masih digunakan untuk kegiatan belajar mengajar oleh siswa kelas 1 hingga kelas 6.
Beberapa ruang kelas bahkan harus disangga menggunakan bambu untuk menopang bagian bangunan yang rapuh. Atap dan plafon yang banyak ambrol menjadi pemandangan sehari-hari di dalam kelas.
Meski berada dalam kondisi tidak layak, proses pembelajaran tetap berlangsung karena tidak ada ruang alternatif yang dapat digunakan. Salah satu guru di sekolah tersebut, Mula Wiji Lestari, mengatakan kerusakan bangunan telah terjadi sejak beberapa tahun terakhir.
Namun hingga kini belum ada perbaikan signifikan meskipun pihak sekolah telah beberapa kali melaporkan kondisi tersebut kepada pihak terkait. “Kami khawatir sewaktu-waktu bangunan ini roboh saat anak-anak sedang belajar,” ujarnya, Kamis (5/3).
Ia menambahkan, kekhawatiran para guru semakin meningkat ketika musim hujan tiba. Kondisi atap dan plafon yang sudah banyak ambruk serta kayu penyangga yang mulai lapuk membuat aktivitas belajar mengajar berlangsung dalam situasi yang penuh kewaspadaan. “Tapi kami tetap mengajar karena ini satu-satunya tempat belajar anak-anak di sini,” tambahnya.
SD filial yang berada di Dusun Sumber Biru tersebut merupakan satu-satunya pusat kegiatan belajar bagi masyarakat setempat. Sekolah ini menjadi tumpuan utama anak-anak untuk memperoleh pendidikan dasar.
Gedung sekolah diketahui dibangun sejak tahun 2005 dan hingga kini belum pernah mendapatkan renovasi. “Usia gedung sekolah ini sudah 21 tahun, jadi wajar kalau ada kerusakan, jadi perlu perbaikan,” ungkapnya.
Saat ini terdapat 14 siswa yang menempuh pendidikan di sekolah tersebut, mulai dari kelas 1 hingga kelas 6. Keberadaan sekolah ini merupakan kelas jauh yang dibentuk untuk menjangkau anak-anak di Dusun Sumber Biru agar tetap dapat mengakses pendidikan dasar. “Kalau harus bersekolah ke SD induk, jaraknya sekitar 2 hingga 3 kilometer. Sementara ke SD Mandiro 1, jaraknya lebih jauh lagi,”terangnya.
Kekhawatiran juga disampaikan oleh para orang tua siswa. Salah satunya, Mosleh, mengaku cemas melihat kondisi bangunan sekolah yang semakin rapuh. Namun sebagai orang tua, mereka tidak memiliki banyak pilihan selain tetap menyekolahkan anak-anaknya di tempat tersebut.
“Kami sebagai orang tua tentu khawatir melihat kondisi kelas seperti itu. Tapi anak-anak tetap harus sekolah. Kami berharap pemerintah segera memperbaiki agar mereka bisa belajar dengan aman dan nyaman,” pungkasnya.
Masyarakat berharap adanya perhatian serius dari pemerintah daerah maupun dinas terkait sebelum terjadi hal yang tidak diinginkan. Mereka khawatir jika kondisi ini terus dibiarkan, keselamatan siswa dapat terancam dan masa depan pendidikan anak-anak di Dusun Sumber Biru akan terabaikan. [san.wwn]


