Universitas Ma Chung Bentuk Mahasiswa Berkarakter (2)
Di balik udara sejuk kawasan Puncak Tidar, Kota Malang, berdiri Universitas Ma Chung yang selama ini kerap dipersepsikan publik sebagai kampus dengan identitas etnis atau agama tertentu. Namun, realitas di area kampus justru menunjukkan suasana inklusif tempat berjumpanya mahasiswa dari beragam suku, agama, dan latar belakang pendidikan.
M. Taufik, Wartawan Bhirawa Kota Malang
Salah satu potret keberagaman itu tecermin dari sosok Jazuli, mahasiswa semester VII Program Studi Desain Komunikasi Visual (DKV). Alumni Pondok Pesantren Bahrul Magfiroh Kota Malang tersebut mengaku memilih Universitas Ma Chung atas inisiatif pribadi demi mengejar minat di bidang desain dan multimedia.
“Saya cari sendiri kampusnya karena memang ingin ambil DKV. Fasilitas di sini sangat lengkap untuk menggambar, fotografi, hingga videografi. Dosen-dosennya juga ramah dan komunikatif. Kalau ada kekurangan dalam tugas, mereka memberi motivasi dan arahan secara langsung,” ujar Jazuli.
Ia tak menampik, sebelum melangkah ke kampus tersebut sempat mendengar berbagai stereotip masyarakat. Namun usai menjalani perkuliahan, seluruh kekhawatiran itu perlahan runtuh.
“Awalnya saya sempat kaget karena ada mata kuliah Bahasa Mandarin. Ternyata teman-teman saling membantu. Tidak semenakutkan seperti anggapan orang di luar,” tuturnya.
Sebagai lulusan pesantren, ia mengaku tidak menemui hambatan berarti dalam menjalankan aktivitas ibadah harian. Pihak kampus menyediakan musala yang representatif serta memberi ruang dan keleluasaan penuh bagi mahasiswa muslim, termasuk untuk menunaikan salat Jumat.
Saat ini, Jazuli tengah fokus merancang tugas akhir berupa video dokumenter yang mengangkat kesenian tradisional Malang, yakni Bantengan.
“Pesan saya untuk calon mahasiswa baru, jangan ragu atau takut. Belajar saja dulu dan nikmati setiap prosesnya,” pesannya.
Dosen Prodi DKV Universitas Ma Chung, Ayub Ansori menjelaskan bahwa suasana ramah yang dirasakan para mahasiswa lahir dari kultur akademik yang menempatkan mahasiswa sebagai mitra belajar.
“Kami memosisikan mahasiswa seperti teman. Menyapa dan tersenyum saat bertemu itu hal dasar yang membangun keterbukaan komunikasi. Pendekatan seperti ini ternyata membuat mahasiswa merasa nyaman,” jelas Ayub.
Menanggapi anggapan bahwa Ma Chung merupakan kampus yang eksklusif bagi kelompok tertentu, Ayub menegaskan bahwa pandangan tersebut keliru.
“Sejarah pendiriannya memang melibatkan para pengusaha Tionghoa, sehingga sebagian masyarakat mengasumsikan ini kampus etnis tertentu. Padahal mahasiswa kami sangat beragam. Bahkan, salah satu lulusan terbaik dari etnis Arab sangat mahir berbahasa Mandarin,” paparnya.
Pendekatan multikultural tersebut juga ditanamkan melalui Mata Kuliah Umum (MKU). Mahasiswa diajak berinteraksi langsung dengan berbagai komunitas lintas golongan, agama, dan suku guna memperluas perspektif sosial.
“Kami mendorong mahasiswa turun ke lapangan dan berbaur dengan komunitas lintas kelompok. Langkah ini efektif membuka pola pikir mahasiswa agar tidak mudah terjebak dalam stigma atau kotak-kotak perbedaan,” jelasnya lagi.
Usia ke-19 di tahun 2026 ini, Universitas Ma Chung (UMC) Malang menunjukkan akselerasi yang luar biasa dalam peta persaingan perguruan tinggi nasional. Mengusung semangat “Many Disciplines. One Vision. Real Impact”, kampus legendaris di Kota Malang ini sukses melakukan lompatan besar sepanjang tahun akademik 2025-2026. Salah satu capain paling bergengsi yakni keberhasilan mengantarkan 50 persen program studi (prodi) mengantongi predikat Akreditasi Unggul.
Rektor Universitas Ma Chung, Prof. Dr. Ir. Stefanus Yufra Menahen Taneo, M.S., M.Sc, menegaskan bahwa periode 2025-2026 menjadi fase krusial percepatan transformasi menuju visi sebagai universitas unggul, pilihan utama masyarakat, dan mandiri berlandaskan Rencana Strategis (Renstra) 2023-2027.
“Saat ini enam dari 12 prodi di Universitas Ma Chung telah berstatus Unggul. Capaian ini menjadi tonggak strategis yang melampaui persyaratan minimal untuk mengantarkan institusi secara keseluruhan meraih Akreditasi Perguruan Tinggi (APT) Unggul dalam waktu dekat,” ungkap Prof. Yufra saat menyampaikan Laporan Rektor pada Puncak Dies Natalis ke-19 di kampus setempat, lalu.
Tidak hanya fokus pada peningkatan akreditasi prodi, kualitas sumber daya manusia (SDM) pengajar juga terus dipacu secara masif. Saat ini UMC diperkuat oleh 82 dosen tetap yang terdiri dari 20 doktor dan 62 magister. Peningkatan jumlah doktor dan dosen berjabatan fungsional Lektor Kepala dalam tiga tahun terakhir ini membuka peluang besar lahirnya Guru Besar (Profesor) baru di lingkungan UMC. Guna memperkuat mutu pembelajaran jarak jauh yang adaptif, UMC juga resmi menjalin kolaborasi strategis bersama SEAMEO SEAMOLEC.
Lompatan tajam turut diukir di bidang penelitian dan pengabdian masyarakat. Produktivitas riset para dosen UMC melonjak signifikan dengan menelurkan 116 judul penelitian sepanjang 2025-2026. Fokus penelitian kini benar-benar diarahkan pada hilirisasi dan penyelesaian persoalan riil di tengah masyarakat, baik dalam bentuk hak cipta, pengembangan perangkat lunak, penulisan buku, hingga inovasi teknologi tepat guna. Ekosistem akademik ini didukung penuh oleh fasilitas perpustakaan yang kini mengoleksi 9.641 buku serta akses ke 229 jurnal open access.
“Kami berkomitmen agar riset tidak berhenti sebatas dokumen di atas kertas, melainkan memberikan dampak nyata bagi masyarakat luas. Dari sisi mahasiswa, pembinaan talenta yang holistik juga membuahkan hasil membanggakan melalui torehan 22 prestasi akademik dan 22 prestasi non-akademik di tingkat regional hingga internasional,” tegas Rektor penuh optimisme.

Jejaring kemitraan UMC pun makin mengakar kuat. Hingga saat ini, Universitas Ma Chung mengantongi 184 mitra aktif di dalam negeri serta 25 mitra internasional yang mencakup unsur lembaga pendidikan, instansi pemerintah, NGO, hingga korporasi lintas negara. Bahkan pada tahun ini, UMC berhasil memperluas ekspansi globalnya dengan menandatangani empat Memorandum of Understanding (MoU) internasional baru.
Meski berhasil menorehkan rapor hijau di berbagai sektor, Prof. Yufra tidak menampik adanya tantangan strategis yang kian kompleks di masa depan. Mulai dari semakin ketatnya kompetisi pendidikan tinggi, percepatan lahirnya Guru Besar, peningkatan publikasi internasional bereputasi, hingga penguatan inovasi berbasis industri.
Menjawab tantangan tersebut, UMC bergerak cepat dengan menetapkan enam agenda prioritas strategis untuk tahun akademik 2026-2027. Agenda fokus tersebut meliputi persiapan mutlak menuju APT Unggul, pencapaian kemandirian finansial melalui optimalisasi aset dan diversifikasi usaha, percepatan studi doktoral bagi dosen, hingga penguatan tata kelola kampus berbasis digital yang modern dan transparan.
“Seluruh capaian dan kerja keras ini menandakan Universitas Ma Chung berada di jalur transformasi yang tepat untuk terus berkontribusi nyata bagi kemajuan bangsa dan dunia,” pungkasnya. (habis)
———— *** ————-


