Hari Kemerdekaan Republik Indonesia yang kita peringati setiap tanggal 17 Agustus selalu menjadi momentum yang sakral. Di tengah kepungan bendera merah putih yang berkibar di sepanjang jalan, umbul-umbul yang meriah, dan riuhnya perlombaan kampung, ada satu pertanyaan mendasar yang harus kita tanyakan pada diri sendiri: sudahkah kita benar-benar merdeka secara hakiki? Merdeka bukan sekadar lepas dari penjajahan fisik bangsa asing, melainkan bagaimana kita berdaulat penuh atas masa depan bangsa kita sendiri, terutama di era disrupsi digital yang bergerak begitu cepat seperti saat ini.
Tantangan generasi masa kini tentu sudah jauh berbeda dengan era Bung Karno dan Bung Hatta. Jika dahulu musuh terlihat nyata dengan senjata di tangan, hari ini musuh kita adalah ketidaksiapan menghadapi perubahan global, maraknya hoaks yang memecah belah, kemiskinan ekstrem, serta ketimpangan akses pendidikan. Menyambut HUT RI tahun ini, sudah saatnya kita mengalihkan fokus perayaan dari yang sifatnya seremonial belaka menjadi aksi nyata yang berdampak. Kita butuh kemerdekaan berpikir untuk menyaring informasi, kemerdekaan dari kebodohan ekonomi, dan kemerdekaan untuk berkarya tanpa batas.
Gotong royong, yang menjadi akar budaya bangsa, harus ditransformasikan ke dalam ruang-ruang digital dan kolaborasi modern. Anak muda tidak boleh lagi hanya menjadi konsumen teknologi, melainkan harus tampil sebagai inovator yang membawa solusi bagi masalah sosial di sekitarnya. Semangat persatuan yang tertuang dalam Bhinneka Tunggal Ika harus tetap menjadi jangkar agar kita tidak mudah terombang-ambing oleh polarisasi politik maupun isu suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA) yang kerap sengaja diembuskan di media sosial.
Melalui surat pembaca ini, saya ingin mengajak seluruh lapisan masyarakat-mulai dari pemerintah, pendidik, pelaku usaha, hingga generasi z-untuk menjadikan momentum 17 Agustus sebagai titik balik. Mari kita tingkatkan literasi digital, perkuat solidaritas sosial kepada sesama yang masih prasejahtera, dan terus rawat toleransi di tengah keberagaman. Kemerdekaan adalah sebuah jembatan emas yang telah dibangun oleh para pahlawan dengan tumpahan darah. Tugas kita sekarang adalah memastikan bahwa di atas jembatan itulah seluruh rakyat Indonesia bisa berjalan bersama menuju kesejahteraan yang berkeadilan, menyongsong impian besar Indonesia Emas. Merdeka!
Yunita Sari Dewi
Warga Sawunggaling, Wonokromo Kota Surabaya


