29 C
Sidoarjo
Monday, April 20, 2026
spot_img

Riset Industri Minim, Kadin Jatim: Dibutuhkan Pendekatan Demand-Driven

Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jawa Timur, Adik Dwi Putranto dalam kegiatan Dialog Strategis ‘Direktorat Riset dan Inovasi (DRI) Week Universitas Airlangga’ di Kampus Unair, Surabaya, Selasa (14/4).

Surabaya, Bhirawa
Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jawa Timur, Adik Dwi Putranto, menegaskan, sejauh ini riset yang dilakukan hanya terhenti pada publikasi. Adopsi riset oleh industry dinilai sangat minim, padahal untuk mendorong transformasi ekonomi di Jawa Timur membutuhkan sinergi yang kuat antara dunia riset dan industri.

Hal ini disampaikan dalam paparan bertajuk ‘Dari Riset ke Dampak: Sinergi Inovasi dan Industri untuk Transformasi Jawa Timur’ dalam kegiatan Dialog Strategis ‘Direktorat Riset dan Inovasi (DRI) Week Universitas Airlangga’ di Kampus Unair, Surabaya.

Adik mengungkapkan, secara makro, posisi Jawa Timur dalam perekonomian nasional tergolong sangat strategis. Pada 2025, nilai Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) provinsi ini mencapai sekitar Rp3.403 triliun dengan pertumbuhan ekonomi sebesar 5,33%. Jawa Timur juga menjadi salah satu kontributor utama Produk Domestik Bruto (PDB) nasional.

Dari sisi struktur ekonomi, sektor industri pengolahan menyumbang sekitar 31%, sementara konsumsi rumah tangga mendominasi hingga 60%. Selain itu, sektor transportasi dan logistik menunjukkan pertumbuhan yang cukup tinggi, yakni di atas 9%, menandakan semakin kuatnya peran Jawa Timur sebagai pusat distribusi.

”Peran strategis Jawa Timur semakin terlihat sebagai hub manufaktur dan logistik di kawasan Indonesia Timur, sekaligus menjadi basis utama ekspor nasional. Dengan fondasi itu, Jawa Timur dinilai telah memiliki kekuatan skala ekonomi yang solid,” terangnya, Rabu (15/4).

Berita Terkait :  Wali Kota Eri Ajak DPRD Surabaya Kolaborasi Dongkrak PAD dari Pajak

Namun ada tantangan yang belum terselesaikan, yaitu meningkatkan kelas ekonomi melalui inovasi yang berdampak pada terciptanya efisiensi di berbagai sektor. Padahal peningkatan efisiensi sebesar 1 persen saja diperkirakan mampu memberikan dampak ekonomi hingga puluhan triliun rupiah.

”Masih terdapat persoalan mendasar yang menghambat optimalisasi potensi tersebut, yakni kesenjangan antara riset dan industri. Meskipun kapasitas riset terus meningkat, banyak hasil riset yang berhenti pada tahap publikasi dan belum diimplementasikan secara luas. Keterlibatan industri dalam proses riset juga masih minim, sehingga adopsi hasil penelitian menjadi rendah,” jelasnya.

Selain itu, belum adanya mekanisme hilirisasi yang kuat membuat hasil riset sulit diterjemahkan menjadi produk atau solusi yang bernilai ekonomi. Kondisi ini menyebabkan ketimpangan, di mana Indonesia, termasuk Jawa Timur, kuat dalam menghasilkan output riset, namun lemah dalam menciptakan dampak ekonomi nyata.

”Maka diperlukan kolaborasi yang lebih erat antara akademisi, peneliti, pelaku industri, dan pemerintah agar inovasi yang dihasilkan benar-benar mampu mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan,” ujarnya.

Adik menegaskan, transformasi riset di Jawa Timur harus mulai diarahkan pada perubahan paradigma yang lebih relevan dengan kebutuhan industri. Pendekatan lama yang bersifat supply-driven, di mana akademisi menentukan topik riset, dinilai sudah tidak lagi memadai untuk menjawab tantangan ekonomi saat ini. [riq.fen]

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!