29 C
Sidoarjo
Sunday, April 19, 2026
spot_img

Menghidupkan “Kartini Baru” di Era Digital

Seratus dua puluh tahun lebih telah berlalu sejak Raden Ajeng Kartini menuangkan kegelisahannya dalam surat-surat yang kemudian mendunia. Namun, jika kita menyelami lebih dalam, esensi dari perjuangan Kartini bukanlah sekadar tentang kain kebaya atau seremoni tahunan setiap 21 April. Kartini adalah simbol dari sebuah “pemberontakan” intelektual-sebuah keberanian untuk mendobrak dinding pingitan, baik yang nyata maupun yang ada dalam pikiran.

Di era digital hari ini, tantangan yang dihadapi perempuan Indonesia telah berubah wujud. Kita tidak lagi dipingit secara fisik oleh tradisi kolonial, namun seringkali kita terpingit oleh standar ganda media sosial, keterbatasan akses ekonomi, hingga kurangnya rasa percaya diri untuk memimpin. Menginspirasi semangat Kartini saat ini berarti berani menjadi subjek aktif dalam perubahan, bukan sekadar objek dari perkembangan zaman.

Semangat Kartini adalah semangat literasi. Beliau percaya bahwa hanya dengan ilmu pengetahuan, martabat sebuah bangsa bisa terangkat. Maka, menghidupkan Kartini di masa kini berarti terus belajar tanpa henti (lifelong learning). Baik itu seorang ibu rumah tangga yang melek literasi digital demi melindungi anaknya dari hoaks, seorang mahasiswi yang menekuni bidang STEM (Science, Technology, Engineering, and Math), hingga para pelaku UMKM perempuan yang gigih menembus pasar global. Mereka semua adalah Kartini-Kartini masa kini yang sedang menulis “surat-surat” mereka sendiri melalui karya dan tindakan.

Berita Terkait :  Stadion Soeprijadi Jadi Kandang Arema, Pemkot Belum Berikan Izin Tanding

Lebih dari itu, Kartini mengajarkan tentang empati. Beliau tidak hanya memikirkan nasibnya sendiri, tapi juga nasib kaumnya dan bangsanya. Di tengah maraknya individualisme, semangat ini sangat relevan untuk dipupuk kembali. Perempuan harus menjadi penyokong utama bagi sesama perempuan (women supporting women). Kita perlu menciptakan ekosistem yang inklusif, di mana setiap individu memiliki kesempatan yang sama untuk bermimpi dan mewujudkannya, tanpa terhambat oleh stigma gender.

Habis gelap terbitlah terang. Kalimat legendaris ini bukan sekadar janji akan hari esok yang lebih baik, melainkan sebuah instruksi untuk terus bergerak meski dalam kegelapan. Jangan biarkan semangat Kartini menguap bersamaan dengan berakhirnya bulan April. Mari kita jadikan setiap hari sebagai momentum untuk membuktikan bahwa kecerdasan, ketegasan, dan kelembutan hati adalah kekuatan utama untuk membangun Indonesia yang lebih beradab.

Mari kita terus menyalakan pelita yang telah dihidupkan Kartini. Sebab, sebuah bangsa tidak akan pernah maju jika salah satu sayapnya-yaitu kaum perempuan-dibiarkan patah atau tak berdaya.

Siti Fatimah
Penggiat Literasi Masyarakat, Gresik jawa Timur

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!