30 C
Sidoarjo
Monday, April 20, 2026
spot_img

Perempuan, Literasi, dan Kuasa Digital

Oleh:
Nur Cholissiyah
Pendidik di SMPN 3 Kedungadem, Bojonegoro, Jawa Timur

Di tengah derasnya arus informasi yang tak pernah berhenti, semangat R.A. Kartini menemukan relevansi baru. Jika dahulu Kartini berjuang melalui surat-suratnya untuk membuka akses pendidikan bagi perempuan, kini perempuan Indonesia dihadapkan pada medan perjuangan yang berbeda: dunia digital yang masif, cepat, dan sering kali tak ramah. Era “scroll tanpa batas” menghadirkan peluang besar, tetapi sekaligus ancaman yang tidak kalah serius. Dalam konteks ini, literasi digital dan penguasaan teknologi menjadi kunci bagi perempuan untuk tidak sekadar menjadi pengguna, melainkan juga pengendali arah perubahan.

Perempuan di Tengah Banjir Informasi Digital
Fenomena penggunaan media sosial di Indonesia menunjukkan lonjakan signifikan dalam satu dekade terakhir. Perempuan, termasuk ibu rumah tangga dan remaja putri, menjadi kelompok pengguna aktif platform seperti Instagram, TikTok, dan WhatsApp. Namun, intensitas penggunaan ini tidak selalu diiringi dengan kecakapan literasi digital yang memadai. Akibatnya, perempuan kerap menjadi sasaran empuk hoaks, penipuan daring, hingga eksploitasi data pribadi.

Salah satu fenomena nyata adalah maraknya penyebaran informasi kesehatan palsu yang sering kali menyasar grup percakapan keluarga. Banyak perempuan yang berperan sebagai “penyambung informasi” dalam lingkar sosialnya tanpa sempat melakukan verifikasi. Sebuah laporan dari Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia menyebutkan, “Sebagian besar penyebaran hoaks terjadi melalui platform percakapan, dan kelompok keluarga menjadi salah satu jalur utama distribusi informasi yang tidak terverifikasi.” Fenomena ini menunjukkan bahwa akses terhadap informasi belum tentu berbanding lurus dengan kemampuan memilah informasi.

Berita Terkait :  Digital Parenting Bentengi Anak dari Kekerasan Digital

Di sisi lain, algoritma media sosial sering kali memperkuat bias dan mempersempit sudut pandang. Konten yang viral belum tentu benar, tetapi lebih sering menarik secara emosional. Tanpa literasi digital yang kuat, perempuan berisiko terjebak dalam pusaran informasi yang menyesatkan. Inilah tantangan baru yang mungkin tidak pernah dibayangkan Kartini, tetapi selaras dengan semangatnya dalam memperjuangkan pencerahan melalui pengetahuan.

Literasi Digital sebagai Benteng dan Jembatan
Literasi digital bukan sekadar kemampuan menggunakan gawai, tetapi mencakup kemampuan berpikir kritis, memahami konteks informasi, serta menjaga etika dalam ruang digital. Bagi perempuan, literasi digital memiliki dua fungsi utama: sebagai benteng dari ancaman dan sebagai jembatan menuju pemberdayaan.

Sebagai benteng, literasi digital melindungi perempuan dari berbagai risiko seperti kekerasan berbasis gender online (KBGO), penipuan digital, hingga manipulasi informasi. Kasus pelecehan di media sosial terhadap perempuan, baik figur publik maupun masyarakat biasa, menunjukkan bahwa ruang digital masih belum sepenuhnya aman. Dalam laporan UN Women disebutkan, “Perempuan secara global lebih rentan mengalami kekerasan berbasis gender di ruang digital dibandingkan laki-laki, terutama dalam bentuk pelecehan verbal dan ancaman.”

Namun, literasi digital juga berfungsi sebagai jembatan. Banyak perempuan Indonesia yang berhasil memanfaatkan platform digital untuk mengembangkan usaha, menyuarakan isu sosial, hingga membangun komunitas belajar. Fenomena perempuan pelaku UMKM yang memasarkan produknya melalui media sosial menjadi contoh nyata bagaimana teknologi dapat menjadi alat pemberdayaan. Dari penjual makanan rumahan hingga pengrajin lokal, perempuan menunjukkan bahwa mereka tidak hanya mampu beradaptasi, tetapi juga berinovasi.

Berita Terkait :  Anggota Komite III DPD RI Agita Dorong Perlindungan Anak, Perempuan, dan Penyandang Disabilitas

Kisah-kisah ini mencerminkan semangat Kartini yang percaya bahwa pendidikan adalah jalan menuju kemandirian. Bedanya, jika dulu pendidikan diperjuangkan melalui akses sekolah, kini pendidikan juga hadir dalam bentuk akses digital. Tantangannya adalah memastikan bahwa akses tersebut diiringi dengan kecakapan yang memadai.

Dari Pengguna Menjadi Penguasa Ruang Digital
Perempuan di era digital tidak boleh berhenti pada posisi sebagai konsumen konten. Mereka perlu didorong untuk menjadi produsen, kreator, dan bahkan pengambil keputusan dalam ekosistem digital. Kuasa digital tidak hanya berarti kemampuan menggunakan teknologi, tetapi juga kemampuan memengaruhi narasi dan arah perkembangan teknologi itu sendiri.

Fenomena meningkatnya jumlah kreator konten perempuan di Indonesia menunjukkan potensi besar dalam hal ini. Banyak perempuan yang menggunakan platform digital untuk edukasi, advokasi, dan inspirasi. Mereka membahas isu kesehatan mental, pendidikan anak, hingga kesetaraan gender dengan cara yang mudah dipahami dan menjangkau audiens luas. Ini adalah bentuk baru dari “surat-surat Kartini” yang kini hadir dalam format video, podcast, dan tulisan daring.

Namun, jalan menuju kuasa digital tidak tanpa hambatan. Perempuan masih menghadapi stereotip, bias gender, hingga keterbatasan akses teknologi di beberapa wilayah. Data dari Badan Pusat Statistik menunjukkan adanya kesenjangan akses internet antara laki-laki dan perempuan di beberapa daerah, terutama di wilayah pedesaan. “Akses dan penggunaan teknologi informasi masih menunjukkan disparitas gender, terutama pada kelompok usia dan wilayah tertentu,” demikian salah satu temuan yang sering muncul dalam laporan statistik nasional.

Berita Terkait :  Peringati Kemerdekaan, GP Ansor Jombang Gelar Jalan Sehat

Untuk itu, diperlukan upaya kolektif dari berbagai pihak: pemerintah, lembaga pendidikan, komunitas, dan keluarga. Program literasi digital harus dirancang secara inklusif dan sensitif gender. Perempuan perlu diberikan ruang aman untuk belajar, bereksperimen, dan berkembang dalam dunia digital.

Pada akhirnya, semangat Kartini tidak pernah usang. Ia hanya berubah bentuk mengikuti zaman. Di era scroll tanpa batas, perjuangan perempuan tidak lagi sebatas membuka pintu sekolah, tetapi juga membuka kesadaran kritis di tengah banjir informasi. Literasi digital menjadi alat baru untuk mencapai cita-cita lama: kebebasan berpikir, kemandirian, dan kesetaraan.

Perempuan Indonesia hari ini memiliki peluang yang mungkin tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Namun, peluang itu hanya akan bermakna jika diiringi dengan kemampuan untuk mengelolanya. Seperti Kartini yang menulis untuk melawan keterbatasan, perempuan masa kini perlu “menulis” dalam bentuk baru-melalui konten, inovasi, dan partisipasi aktif di ruang digital.

Karena pada akhirnya, di tengah dunia yang terus bergerak dan layar yang terus bergulir, perempuan tidak boleh hanya menjadi penonton. Mereka harus menjadi penentu arah. Dan di situlah, semangat Kartini menemukan rumah barunya. Fastabikhul khoirot.

———– *** ————-

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!