Sidoarjo, Bhirawa. – Politeknik Kesehatan (Polkesbaya) Kementerian Kesehatan Surabaya melaksanakan Pengabdian Kepada Masyarakat Program Pengembangan Desa Mitra (PPDM) di Desa Wonoayu, Kabupaten Sidoarjo, Jumat (18/9), dengan menghadirkan Aplikasi Smart Health Monitoring untuk mencegah data tidak hilang.
Pengabmas Polkesbaya Mengusung tema ‘Penerapan Smart Health Monitoring dan Telekonsultasi dalam Mendukung Keputusan Medis Dini terhadap Risiko Stunting Anak pada Program Pengembangan Desa Mitra (PPDM) Desa Wonoayu Sidoarjo’. Program ini menyasar Kader Posyandu sebagai garda terdepan pencegahan stunting.
Tim Pengabmas Polkesbaya diketuai Guru Besar Prof Dr Endro Yulianto ST MT dengan anggota Syaifudin ST MT, Anita Miftahul Maghfiroh SST MT, serta dibantu tiga mahasiswa Polkesbaya.
Program Pengembangan Desa Mitra (PPDM) Poltekkes Kemenkes Surabaya di Desa Wonoayu, Sidoarjo. Dalam Pengabmas ini Tim menyoroti masalah klasik penanganan stunting bukan hanya tingginya kasus stunting pada anak-anak, tapi juga resiko hilangnya data pemantauan. Hal ini disampaikan Ketua Pengabmas, Prof Endro saat kegiatan Penerapan Smart Health Monitoring dan Telekonsultasi untuk Keputusan Medis Dini Risiko Stunting.
Dalam paparannya di hadapan perangkat desa dan kader, Prof Endro menjelaskan urgensi aplikasi yang mereka buat. Menurutnya, bukan stunting yang tinggi tapi memang (data yang bermasalah). ”Sehingga kami membuat aplikasi ini untuk mengurangi itu. Supaya datanya bisa diinput dan data tidak akan hilang. Kenapa? Karena disimpan di internet. Disimpan di internet maka keamanan data akan terjamin dari kehilangan,” ujar Pro Endro.
Prof Endro menjelaskan, masalah utama di lapangan bukan hanya pada tingginya risiko stunting, melainkan manajemen data Balita yang masih manual dan rawan hilang. Aplikasi Smart Health Monitoring ini dilengkapi dengan fitur telekonsultasi, sehingga kader dapat langsung berkonsultasi dengan tenaga medis ketika menemukan Balita dengan risiko stunting.
Selain tim teknologi, kegiatan ini juga menghadirkan narasumber ahli gizi, Nurul Hindaryani SPd MGz dari Jurusan Gizi Poltekkes Kemenkes Surabaya yang juga Pengurus DPD PERSAGI Jatim 2021-2025. Nurul memberikan edukasi gizi spesifik untuk pencegahan stunting pada seribu Hari Pertama Kehidupan (HPK).
Sementara itu, Anita Miftahul Maghfiroh SST MT yang tampil sebagai pemateri pelatihan aplikasi menjelaskan tata cara input data Balita, mulai dari nama, usia, berat badan, hingga grafik pertumbuhannya yang terpantau secara digital.
”Dengan sistem ini, diharapkan Desa Wonoayu dapat menjadi desa percontohan desa bebas stunting berbasis teknologi, di mana data Balita tersimpan aman, pemantauan lebih akurat, dan keputusan medis bisa dilakukan lebih dini,” jelas Anita.
Pengabmas Polkesbaya yang digelar di Balai Desa Wonoayu ini merupakan bagian dari pengabdian sebagai pemenuhan dari Tri Dharma Perguruan Tinggi. Polkesbaya berkeinginan menjadikan Wonoayu sebagai Desa Percontohan yakni Desa Bebas Stunting berbasis teknologi.
Turut mendampingi di meja pimpinan, Tim Dosen Poltekkes Surabaya lainnya yang terus melakukan pendampingan penggunaan aplikasi kepada para kader. [kus.fen]




