29.9 C
Sidoarjo
Wednesday, October 21, 2026
spot_img

Perangi Stunting Lewat Pendekatan Empati dan Blusukan Malam


M Nawawi
Bagi masyarakat Kota Pasuruan, Wakil Wali Kota, M. Nawawi atau yang akrab disapa Mas Nawawi dikenal bukan sekadar sebagai pejabat administratif.

Di balik jabatannya, ia menempatkan diri sebagai penggerak lapangan yang menekankan pendekatan berbasis empati dan kepedulian sosial, terutama dalam isu-isu krusial seperti penanganan stunting.

Menurutnya, penanganan stunting bukan sebatas angka statistik atau formalitas pembagian gizi. Namun, persoalannya adalah perang melawan benteng psikologis warga, yakni rasa malu dan stigma.

Ia menyoroti masih kuatnya pandangan salah kaprah di masyarakat yang menganggap stunting pada anak sebagai sebuah aib keluarga.

Anggapan inilah yang dinilainya paling berbahaya karena membuat orang tua memilih menutup diri, enggan berinteraksi dengan petugas, hingga akhirnya menutup akses anak terhadap intervensi gizi.

“Jangan sampai stunting dianggap sebagai aib. Kita harus mengedukasi masyarakat agar orang tua tidak merasa malu atau takut untuk terbuka. Yang terpenting adalah bagaimana anak mendapatkan asupan gizi yang cukup dan penanganan yang dibutuhkan,” ujar Mas Nawawi saat membuka Kick-off Grebek Stunting Tahap II di Ruang Unsur Kota Pasuruan, Rabu (21/10).

Gaya kepemimpinan Mas Nawawi juga dikenal cair dan solutif. Mengetahui dinamika sosial warga Kota Pasuruan, terutama keluarga pekerja yang sulit dijangkau pada jam kerja formal.

Mas Nawawi tak ragu menginstruksikan jajarannya untuk membalik pola kerja konvensional.

Berita Terkait :  Betah Tinggal di Tulungagung

Ia mendorong petugas lapangan, camat, lurah, hingga kader posyandu untuk melakukan pendampingan di luar jam kerja umum, termasuk blusukan pada malam hari.

“Kalau orang tua bekerja pada pagi atau siang hari sehingga sulit ditemui, penjangkauan bisa dilakukan pada malam hari. Kita harus menyesuaikan dengan kondisi warga agar keluarga yang membutuhkan tetap bisa dijangkau,” tegas Mas Nawawi.

Langkah itu memperlihatkan komitmennya agar pelayanan publik Pemkot Pasuruan yang menyesuaikan kebutuhan warga, bukan sebaliknya.

Sikap kritis Mas Nawawi juga terlihat dalam pengelolaan data sasaran. Walaupun Pemkot Pasuruan telah mengantongi 529 balita sasaran yang siap diintervensi, ia mengingatkan seluruh perangkat daerah, RT/RW, dan kader posyandu untuk tidak pasif dan berpuas diri pada data di atas kertas.

Ia meminta seluruh pihak aktif menyisir lapangan untuk memastikan tidak ada anak yang terlewat.

“Jangan hanya terpaku pada 529 balita yang sudah masuk data. Kita perlu memastikan apakah masih ada balita lain yang membutuhkan bantuan, tetapi belum terjangkau. Makanya, peran camat, lurah, RT/RW, dan kader posyandu sangat penting,” kata Mas Nawawi.

Meski prevalensi stunting turun ke angka 8,2 persen, Mas Nawawi tetap memberikan catatan tajam terhadap penurunan cakupan penimbangan balita (D/S) di posyandu maupun puskesmas.

Menurutnya, keberhasilan menekan stunting akan sia-sia jika kesadaran masyarakat untuk memeriksakan tumbuh kembang anak justru mengendur.

Berita Terkait :  Pakar ITS: Perlintasan KA Tidak Sebidang Solusi Cegah Kecelakaan

“Penurunan prevalensi stunting harus kita pertahankan dan tingkatkan. Namun, kita juga perlu memperhatikan cakupan penimbangan balita yang menurun. Saya meminta camat dan lurah untuk aktif menggerakkan masyarakat agar rutin membawa balitanya,” tegas Mas Nawawi.

Di bawah pengawalan ketat jajaran Pemkot Pasuruan, angka prevalensi stunting di Kota Pasuruan sebenarnya menunjukkan tren penurunan yang cukup signifikan.

Yakni, berhasil ditekan dari 9,71% menjadi 8,2%. Cakupan penimbangan itu mengalami penurunan dari 76,3% (Februari) ke 72,3% (Agustus). Strategi penjangkauan adalah fleksibel, termasuk penjangkauan malam hari. [hil.gat]

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img
spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!