Surabaya, Bhirawa
Pakar transportasi darat Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya Prof Hera Widyastuti menyatakan perlintasan kereta api tidak sebidang menjadi solusi efektif menekan kecelakaan menyusul insiden dekat Stasiun Bekasi Timur yang menimbulkan korban jiwa.
“Perlintasan sebidang memiliki kelemahan dari sisi geometrik,” kata Prof Hera di Surabaya, Kamis.
Posisi rel yang umumnya lebih tinggi dari permukaan jalan membuat kendaraan harus melintas dalam kondisi menanjak, sehingga meningkatkan potensi kesalahan teknis pengemudi.
“Kepanikan saat menanjak membuat pengendara kadang salah pindah gigi, sehingga berisiko mesin mobil mati tepat di atas rel,” katanya.
Selain faktor geometrik, ia menyoroti bahwa perlintasan sebidang sangat bergantung pada kepatuhan pengguna jalan serta fungsi palang pintu.
Padahal, kereta api kategori heavy train dapat melaju hingga 110 kilometer per jam dan membutuhkan jarak pengereman panjang, sehingga tidak bisa berhenti mendadak.
“Perlintasan sebidang akan selalu menjadi titik rawan selama masih terjadi pertemuan langsung antara arus kendaraan dan laju kereta api,” ujarnya.
Sebagai solusi jangka panjang, Hera mendorong pembangunan perlintasan tidak sebidang, baik berupa jalan layang maupun jalan bawah tanah, guna memutus total pertemuan antara kendaraan bermotor dan kereta api.
“Jika kita ingin menghindari benturan langsung, perlintasan tidak sebidang adalah jawaban utamanya,” ujar Hera.
Di Surabaya, urgensi pembangunan infrastruktur tersebut meningkat seiring rencana pengoperasian Surabaya Regional Railways Line (SRRL) yang akan menghubungkan Kota Surabaya dengan wilayah sekitarnya, dengan frekuensi perjalanan kereta yang diprediksi lebih padat.
“Sudah saatnya kita mengawal transisi ini agar perlintasan sebidang, terutama di area padat penduduk, segera ditiadakan demi keselamatan bersama,” tuturnya. [ant.kt]


