Kabupaten Malang, Bhirawa – Wilayah Kabupaten Malang dalam beberapa bulan terakhir mencatat ratusan kejadian bencana hidrometeorologi. Fenomena ini mencakup segala bencana alam yang dipengaruhi kondisi cuaca, dan terbagi menjadi dua jenis hidrometeorologi basah seperti banjir, tanah longsor, dan angin kencang; serta hidrometeorologi kering seperti kekeringan, krisis air bersih, dan kebakaran hutan serta lahan (karhutla). Seiring masuknya musim kemarau, BPBD Kabupaten Malang kini memfokuskan upaya kesiapsiagaan menghadapi bencana kekeringan.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Malang, Sadono Irawan, menjelaskan Kamis (16/7/2026), saat ini penanganan kekeringan menjadi prioritas utama, terutama ketersediaan air bersih. Ancaman awalnya menyasar 6 kecamatan, namun diprediksi akan meluas hingga mencakup 21 desa di 7 kecamatan.
“Dari total 378 desa dan 12 kelurahan di 33 kecamatan, sekitar 3–5 persen berpotensi mengalami krisis air bersih, dengan konsentrasi terbesar di wilayah Malang Selatan,” ujarnya.
Sepanjang tujuh bulan terakhir, tercatat 150 kejadian bencana hidrometeorologi basah: 42 angin kencang, 9 banjir, 31 pohon tumbang, dan 66 tanah longsor. Selain itu terjadi 2 gempa yang merusak rumah warga, serta 79 gempa lain akibat aktivitas lempeng Indo-Australia yang berskala kecil dan tidak berakibat fatal.
“Curah hujan kini berkurang drastis dan cuaca cenderung panas. Kami juga menerima laporan ancaman kekeringan di tiga desa Kecamatan Sumbermanjing Wetan,” tambahnya.
BPBD kini memetakan zona rawan berdasarkan data sejarah, menyiapkan armada truk tangki untuk penyaluran air bersih, serta memantau debit mata air dan sumur warga. Kekeringan juga berisiko menyebabkan gagal panen pada sawah tadah hujan dan peningkatan gangguan pernapasan akibat debu. Pihaknya terus bersinergi dengan instansi terkait demi meminimalkan dampak buruk. [cyn.kt]


