30 C
Sidoarjo
Thursday, July 16, 2026
spot_img

UMKM Dapur Al Desa Sukowati Kini Punya Website Berkat Pendampingan Mahasiswa Untag Surabaya


Gresik, Bhirawa – Bertahun-tahun mengandalkan promosi dari mulut ke mulut, UMKM Dapur Al di Desa Sukowati, Kecamatan Bungah, Kabupaten Gresik, akhirnya punya wajah baru di dunia digital. Usaha rumahan yang dikenal dengan produk Al Pizza & Donuts ini kini memiliki website resmi sebagai etalase informasi bisnisnya, hasil dari program pengabdian masyarakat mahasiswa Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya.

Program bertajuk Pelatihan dan Pendampingan Pengelolaan Website Sebagai Sarana Informasi Usaha ini berlangsung selama dua pekan, tepatnya sejak 6 hingga 17 Juli 2026. Empat mahasiswa dari berbagai jurusan dilibatkan dalam kegiatan ini, yakni Gita Dina Marina Yuliandari Hasibuan (Psikologi), Cut Kilau Dara Fonna (Ilmu Komunikasi), Olivia Lovina Hermanto (Akuntansi), dan Noval Ardiansyah (Teknik Informatika), di bawah arahan Dosen Pembimbing Lapangan Dr. Tan Evan Tandiyono, S.E., S.Pd.K., M.PSDM., CHCM., CKWU.

Persoalan yang dihadapi Dapur Al sebenarnya cukup umum ditemui di kalangan UMKM desa. Tanpa media informasi digital yang representatif, profil usaha, katalog produk, hingga kontak resmi sulit dijangkau oleh calon pelanggan di luar Desa Sukowati.

“Selama ini mitra belum mengoptimalkan pemanfaatan teknologi informasi untuk pemasaran produknya. Ketiadaan platform digital yang representatif membuat potensi produk Dapur Al kurang dikenal masyarakat luas,” kata Tan Evan.

Ia menyoroti bahwa masalah utamanya bukan sekadar minimnya alat promosi, melainkan keterbatasan pemahaman dan keterampilan pengelola usaha dalam membangun serta mengelola website secara mandiri. Jika dibiarkan, kondisi ini berisiko membuat Dapur Al kalah bersaing dengan pelaku usaha lain yang sudah lebih dulu melek digital.

Berita Terkait :  Lewat STP, Upaya ITS Perkuat Hilirisasi Produk Riset

Melihat kondisi tersebut, tim mahasiswa merancang program dengan tiga tahapan: persiapan, pelaksanaan, dan evaluasi. Tahap persiapan diawali dengan wawancara dan observasi langsung ke lokasi usaha untuk memetakan kendala, mengenali produk unggulan, dan mengukur literasi digital pengelola sebelum menyusun struktur website serta modul pelatihannya.

“Kami tidak mau langsung memberi materi tanpa tahu dulu apa yang sebenarnya dibutuhkan mitra. Makanya sebelum menyusun modul, kami survei dan wawancara dulu ke lapangan,” ujar salah satu anggota tim.

Ketika masuk tahap pelaksanaan, pengelola Dapur Al lebih dulu mengerjakan pre-test untuk mengukur pemahaman awal mereka soal website. Barulah setelah itu materi disampaikan secara tatap muka, mencakup pengenalan dasbor admin, cara mengunggah profil usaha, teknik memotret produk kue agar lebih menarik, hingga cara memperbarui harga di katalog digital.

“Bukan cuma dijelaskan teori, mitra langsung kami dampingi praktik di gawai mereka sendiri. Jadi mereka bisa langsung coba mengganti foto, menambah menu baru, sampai mengatur tata letak halaman,” kata anggota tim lainnya.

Hasilnya terlihat jelas ketika program memasuki tahap evaluasi. Skor post-test pengelola Dapur Al meningkat signifikan dibandingkan hasil pre-test, menandakan materi yang diberikan terserap dengan baik. Selain aspek pemahaman, kemampuan praktik pengelola juga diuji secara mandiri, seperti mengganti harga atau menambahkan varian produk baru tanpa bantuan tim mahasiswa.

Berita Terkait :  Kunjungi Museum Daerah, Bupati Kediri Hanindhito Ingin Pulangkan Prasasti Harinjing Asli

Pemilik UMKM Dapur Al mengaku sangat terbantu dengan pendampingan ini.

“Sekarang saya sudah bisa sendiri ganti foto produk, tambah menu, sampai ubah harga di website, tanpa perlu minta bantuan siapa-siapa lagi. Dulu saya benar-benar tidak tahu caranya,” ujarnya.

Ia menambahkan, modul pelatihan yang diberikan sangat membantu karena disusun dengan bahasa sederhana dan dilengkapi tangkapan layar langkah demi langkah dari dasbor website miliknya sendiri.

“Kayak buku saku. Enggak ribet, tinggal ikuti gambarnya. Jadi kalau nanti lupa caranya, saya masih bisa buka-buka modul itu lagi,” katanya.

Program ini menghasilkan dua luaran utama, yaitu Laporan Akhir Kegiatan sebagai dokumen pertanggungjawaban akademis, serta Modul Pelatihan Pengelolaan Website yang diserahkan langsung kepada mitra sebagai panduan operasional jangka panjang.

Tan Evan menilai keberhasilan program ini tak lepas dari kemampuan tim menerjemahkan istilah teknologi yang rumit menjadi bahasa yang mudah dipahami pelaku usaha mikro. Ke depan, ia berharap Dapur Al dapat mengintegrasikan website tersebut dengan media sosial agar visibilitas usahanya semakin luas.

“Kuncinya konsistensi. Website ini sudah jadi, tinggal bagaimana mitra terus memperbarui informasinya. Kalau digabung dengan media sosial, dampaknya bisa jauh lebih besar,” pungkasnya. [why]

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!