Irpan Hilmi (empat dari kanan) saat bersama guru dalam sebuah acara baru baru ini. sawawi/bhirawa
Situbondo, Bhirawa
Menjadi seorang ahli ilmu falak bukanlah jalan yang instan. Kisah inspiratif datang dari Irpan Hilmi, Ketua Badan Hisab Rukyat (BHR) Kabupaten Situbondo, yang menceritakan perjalanan panjangnya mendalami ilmu falak hingga dipercaya mengemban tugas penting penentuan awal bulan Hijriah di daerahnya.
Kecintaannya pada ilmu falak bermula dari sebuah warisan buku tulis tangan peninggalan sang kakek yang penuh dengan angka Arab. Meski awalnya tidak mengerti bahwa buku tersebut berisi ilmu falak, warisan itu menjadi awal mula ketertarikannya.
Baru pada tahun 2006, takdir membawanya memperdalam ilmu tersebut saat ia mendapat kesempatan belajar di Pesantren Sukorejo untuk menggantikan Kiai Afifuddin Muhajir yang berhalangan karena sakit. Berbekal izin dari almarhum Kiai Fawaid, Irpan mulai belajar ilmu falak perwakilan pesantren di Kemenag Jawa Timur.
Pelatihan falak yang dijalaninya bersifat rutin bulanan dengan sistem satu bulan satu kitab, yang idealnya ditempuh selama 3 tahun mulai dari tingkat dasar hingga mahir. Namun, berkat dasar keilmuan yang sudah ia miliki, Irpan berhasil melompati kelas tingkat dasar dalam waktu singkat dan dinyatakan lulus tingkat mahir hanya dalam kurun waktu 2 tahun saja.
Dari total 100 peserta se-Jawa Timur saat itu, hanya 5 orang yang dinyatakan lulus, termasuk perwakilan dari Situbondo, Bondowoso, Jember, dan Lamongan.
Seiring berjalannya waktu, Irpan digandeng oleh Kemenag Situbondo untuk aktif dalam kegiatan Rukyatul Hilal.
Hingga akhirnya dibentuklah Badan Hisab Rukyat (BHR) yang mengukuhkannya sebagai Ketua Tim Ahli. Kendati sempat terkendala oleh surat keputusan (SK) kepengurusan yang tidak diperpanjang, Irpan tetap memegang tanggung jawab penuh yang diamanatkan oleh Pemkab dan Kemenag Situbondo.
Hingga saat ini, Irpan secara rutin memimpin pelaksanaan rukyatul hilal yang biasanya dilangsungkan tiga kali dalam setahun, yakni pada awal Syawal, awal Ramadan, dan Zulhijah di Kalibut. Tidak hanya fokus pada rukyat, ia juga memikirkan kaderisasi generasi muda dari berbagai pondok pesantren agar ilmu falak tidak punah.
Namun, Irpan mengakui bahwa mempelajari ilmu falak bukanlah hal yang mudah. Selain harus memahami kitab kuning, seorang calon ahli falak juga wajib memiliki dasar matematika yang kuat serta pemahaman mendalam mengenai fisika tata surya.
Kata Irpan, upaya kaderisasi ilmu falak di Kabupaten Situbondo terus menunjukkan perkembangan positif. Irpan Hilmi, Ketua Badan Hisab Rukyat (BHR) Kabupaten Situbondo, mengungkapkan bahwa pihaknya kini mulai merangkul kalangan pelajar tingkat sekolah sebagai langkah jangka panjang regenerasi ahli falak di daerahnya.
Setelah melalui berbagai upaya pendekatan dalam beberapa tahun terakhir, gagasan kaderisasi ini akhirnya mendapat respons positif dari kepemimpinan Bupati Situbondo yang baru, Mas Rio, di penghujung tahun 2025. Melalui kolaborasi dengan unsur Kemenag dan pesantren, program pelatihan kini mulai menyasar anak-anak sekolah menengah.
”Kami berpikirnya ini adalah kaderisasi jangka panjang. Anak sekolah diberikan basic pengetahuan tentang ilmu falak, tapi pelatihan mereka didampingi oleh guru fisika dan guru agama,” jelas Irpan Hilmi.
Saat ini, terdapat delapan sekolah di Kabupaten Situbondo yang dilibatkan dalam program tersebut. Masing-masing sekolah mendelegasikan lima siswa pilihan, didampingi oleh satu guru fisika dan satu guru kimia.
Meski sebagian besar peserta masih berstatus pelajar, Irpan bersyukur karena Bupati Situbondo memberikan komitmen kuat dengan menyiapkan beasiswa khusus bagi siswa peserta pelatihan yang nantinya melanjutkan kuliah di jurusan ilmu falak.
Dalam kesempatan yang sama, Irpan juga menyoroti potensi geografis Kabupaten Situbondo yang sangat strategis untuk pemantauan rukyatul hilal. Letak wilayahnya yang menjorok ke utara dinilai sangat ideal dibandingkan daerah lain di Jawa Timur.
”Kalau lihat peta, Kalibut itu paling menjorok ke utara, bisa tidak terhalang, sangat jelas aslinya. Harapan saya, kita punya lokasi yang strategis, tinggal penataan tempatnya bisa dijadikan wisata edukasi dan wisata religi,” ungkapnya.
Ke depan, dengan usianya yang telah mendekati 60 tahun, Irpan sangat berharap lahir kader-kader muda yang siap meneruskan tongkat estafet kepemimpinan ilmu falak di Situbondo. Dengan dukungan penuh dari pemerintah daerah, ia optimis para pelajar yang mengikuti pelatihan hari ini kelak akan menjadi sarjana ilmu falak yang siap mengabdi bagi masyarakat. awi.wwn




