Ipda Pol Purnomo bersama ratusan ODGJ yang dirawatnya di Yayasan Berkas Bersinar Abadi di Desa Nguwok Kecamatan Modo Kabupaten Lamongan . suprayitno/bhirawa
Penerima Penghargaan Polisi Inspiratif dari Presiden RI
Lamongan, Bhirawa – Seragam polisi bagi Ipda Purnomo bukan sekadar simbol pengabdian kepada negara. Di balik tugasnya sebagai anggota Polres Lamongan, tersimpan perjalanan panjang seorang polisi yang memilih memberikan perhatian kepada mereka yang kerap luput dari perhatian banyak orang.
Pria yang akrab disapa Pak Pur itu dikenal luas sebagai “Polisi Baik” karena kepeduliannya terhadap Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ). Selama sekitar satu dekade, ia mendedikasikan waktu, tenaga, bahkan sebagian penghasilannya untuk merawat dan merehabilitasi ribuan ODGJ dari berbagai daerah.
Kini, Ipda Purnomo menjabat sebagai Kepala Unit Pembinaan Ketertiban Masyarakat (Kanit Binpolmas) Satbinmas Polres Lamongan. Namun, kesibukan sebagai polisi tidak membuat langkah kemanusiaannya berhenti.
Di Desa Nguwok, Kecamatan Modo, Kabupaten Lamongan, rumah pribadinya bahkan disulap menjadi tempat penampungan sekaligus rehabilitasi ODGJ. Tempat tersebut menjadi bagian dari aktivitas Yayasan Berkas Bersinar Abadi, yang didirikannya untuk memberikan perawatan kepada para ODGJ yang membutuhkan.
Jumlah ODGJ yang pernah didampingi Pak Pur selama sekitar 10 tahun diperkirakan mencapai 7.000 orang. Saat ini, yayasan tersebut masih merawat sekitar 395 ODGJ. Bukan pekerjaan ringan. Dalam menjalankan aktivitasnya, Pak Pur dibantu sekitar 45 relawan yang terdiri dari dokter, perawat, guru ngaji, juru masak hingga tenaga pendamping lainnya.
Kepedulian Pak Pur terhadap ODGJ bermula ketika dirinya bertugas di Polsek Babat. Saat itu, ia dipercaya sebagai Bhabinkamtibmas di Kelurahan Banaran. Dalam kesehariannya berkeliling di tengah masyarakat, ia kerap melihat ODGJ berkeliaran tanpa mendapatkan perhatian maupun perawatan yang layak.
“Melihat ada ODGJ berkeliaran jadi kasihan, makanya muncul inisiatif untuk menolong,” demikian kisah Pak Pur mengenai awal mula dirinya terjun dalam aksi kemanusiaan tersebut.
Pertolongan yang awalnya dilakukan secara sederhana itu ternyata menjadi panggilan hati. Setiap kali berhasil membantu seorang ODGJ mendapatkan perawatan dan menemukan kembali keluarganya, muncul keinginan untuk membantu lebih banyak orang. Dari satu orang, kemudian bertambah menjadi beberapa orang. Hingga akhirnya, kegiatan tersebut terus berlanjut selama bertahun-tahun.
Pak Pur juga mendapatkan dukungan besar dari keluarganya, terutama sang istri, Lilik Ika Wahyuni. Dukungan keluarga menjadi salah satu kekuatan baginya untuk tetap menjalankan aktivitas sosial tersebut. Pada masa awal membantu ODGJ, Pak Pur bahkan rela menggunakan uang dari tunjangan yang diterimanya sebagai anggota kepolisian.
Salah satu persoalan muncul ketika ada ODGJ yang dirawatnya mengalami kondisi tidak terkendali hingga merusak barang dan membuat warga sekitar resah. Pak Pur kemudian mengambil langkah dengan membawa ODGJ tersebut ke rumah sakit jiwa untuk mendapatkan penanganan. Pada saat yang sama, ia berusaha mencari keberadaan keluarganya.
Media sosial Facebook pun dimanfaatkannya untuk melacak identitas maupun keluarga ODGJ yang ditemukan. Pengalaman demi pengalaman tersebut akhirnya membuat Pak Pur berpikir bahwa dibutuhkan sebuah wadah yang lebih terorganisasi.
Ia kemudian membulatkan tekad mendirikan yayasan. Sebelum melangkah, Pak Pur meminta izin kepada Bupati Lamongan dan melakukan koordinasi dengan Dinas Kesehatan serta Dinas Sosial Kabupaten Lamongan.
Dari sanalah Yayasan Berkas Bersinar Abadi berkembang menjadi tempat yang memberikan pendampingan dan rehabilitasi bagi ODGJ.
Bagi Pak Pur, membantu ODGJ bukan semata-mata soal menyembuhkan seseorang dari gangguan yang dialaminya. Lebih dari itu, ia ingin mengembalikan martabat mereka sebagai manusia. Ada ODGJ yang datang tanpa identitas. Ada pula yang bertahun-tahun hidup terlantar dan bahkan dijauhi lingkungan.
Melalui proses perawatan, pendampingan, pembinaan dan pendekatan secara perlahan, Pak Pur berharap mereka dapat kembali pulih dan diterima keluarga maupun masyarakat.
Semangat itu pula yang membuat aktivitas sosial Pak Pur tidak hanya berhenti pada persoalan ODGJ.
Ia juga aktif memberikan beasiswa kepada anak yatim piatu, menyediakan ojek gratis bagi pelajar, membantu bedah rumah warga kurang mampu hingga mendistribusikan air bersih kepada masyarakat yang terdampak kekeringan.
Untuk menopang berbagai kegiatan tersebut, Pak Pur juga memanfaatkan hasil dari aktivitasnya sebagai kreator konten melalui kanal YouTube Purnomo Belajar Baik. Pendapatan dari kanal tersebut digunakan untuk mendukung kegiatan kemanusiaan dan perawatan ODGJ.
Selain itu, terdapat dukungan dari para dermawan dan berbagai pihak yang memiliki kepedulian terhadap kegiatan sosial. Rumah Pak Pur di Desa Nguwok kini bukan lagi sekadar tempat tinggal keluarga.
Di tempat itu, terdapat kisah ratusan manusia yang sedang berjuang untuk kembali mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Ada tenaga medis yang merawat. Ada relawan yang mendampingi. Ada guru ngaji yang memberikan pembinaan keagamaan. Ada juru masak yang menyiapkan kebutuhan makanan.
Semua bekerja dalam satu tujuan: memberikan ruang bagi ODGJ untuk mendapatkan perawatan dan kesempatan kembali ke tengah masyarakat.
Perjalanan panjang tersebut akhirnya mendapatkan perhatian di tingkat nasional.
Pada peringatan HUT Bhayangkara ke-80 tahun 2026, Ipda Purnomo menerima penghargaan sebagai Polisi Inspiratif yang diserahkan langsung oleh Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto.
Penghargaan tersebut menjadi pengakuan atas dedikasinya di bidang kemanusiaan. Namun bagi Pak Pur, penghargaan bukanlah tujuan utama. Sebab jauh sebelum namanya dikenal sebagai “Polisi Baik”, ia telah memilih jalan sederhana: melihat orang yang membutuhkan pertolongan, lalu berusaha hadir untuk membantu.
Di tengah tugasnya sebagai seorang polisi, Pak Pur membuktikan bahwa penegakan ketertiban dan pelayanan kepada masyarakat tidak selalu harus dilakukan dengan pendekatan yang keras. Rerkadang, pengabdian justru hadir melalui tangan yang mau merawat, hati yang mau menerima, dan keberanian untuk memperhatikan mereka yang selama ini kerap dilupakan. [yit.hel].


