Probo Darono Yakti
Sekretaris Dewan Kebudayaan Surabaya, Dr. Probo Darono Yakti, menekankan bahwa pelestarian cagar budaya di Indonesia tidak boleh hanya bergantung pada regulasi pemerintah atau kebanggaan akan masa lalu.
Ia menegaskan perlunya keterlibatan aktif masyarakat dan generasi muda untuk menghidupkan kembali fungsi candi sebagai ruang spiritual dan edukasi.
Hal tersebut disampaikan Probo saat menanggapi kegiatan Sarasehan bertajuk “Candhika Yatra Prasangga: Edukasi Pemanfaatan Candi untuk Ritus Hindu Sejalan dengan Pelestarian Cagar Budaya” yang digelar Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Jawa Timur di Wantilan Dewaruci, Pura Segara Kenjeran.
“Cagar budaya tidak akan bertahan hanya dengan regulasi atau romantisme sejarah. Yang membuat warisan budaya hidup adalah keterlibatan masyarakat, pendidikan kebudayaan, serta kemampuan generasi muda membaca relevansi masa lalu terhadap tantangan masa kini,” ujar akademisi Hubungan Internasional Universitas Airlangga tersebut.
Probo mengingatkan agar forum kebudayaan seperti ini tidak berhenti menjadi agenda seremonial tahunan. Ia mendorong sarasehan ini menjadi ruang konsolidasi lintas komunitas dan generasi untuk memperkuat kesadaran publik di tengah derasnya disrupsi digital.
Menurutnya, kolaborasi antara komunitas keagamaan, pemerintah, akademisi, media, hingga pegiat sejarah menjadi kunci dalam mengembangkan model pelestarian yang adaptif. Ia menyarankan pemanfaatan media digital dan diplomasi budaya sebagai instrumen untuk memperluas jangkauan edukasi kepada masyarakat luas.
“Kita perlu penguatan kolaborasi untuk mengembangkan model pelestarian budaya yang lebih partisipatif,” tambahnya.
Kegiatan yang merupakan rangkaian Perayaan Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1948 ini juga menghadirkan narasumber lain, yakni Taufiqur Rahman (Harian Disway), Satria Devi Kurniawan (Disbudpar Jatim), dan Asies Sigit Pramujo (Balai Pelestarian Kebudayaan Jatim).
Dalam diskusi tersebut, para panelis sepakat bahwa candi bukan sekadar objek wisata atau benda arkeologis mati. Candi adalah ruang hidup kebudayaan yang menyimpan ekosistem pengetahuan, nilai, dan ritus yang masih relevan bagi kehidupan masyarakat modern saat ini.
Melalui acara ini, PHDI Jawa Timur diharapkan terus berperan sebagai penggerak kebudayaan yang mampu mempertemukan aspek spiritual, historis, dan kebangsaan dalam satu wadah edukasi publik yang berkelanjutan. [rac.gat]


