35.9 C
Sidoarjo
Thursday, October 22, 2026
spot_img

Bukan Sekadar Enak, IKM Jatim Harus Unggul dalam Mutu dan Kemasan

Surabaya, Bhirawa – Produk yang enak dan menarik belum cukup menjadi bekal bagi pelaku Industri Kecil Menengah (IKM) untuk memenangkan persaingan. Konsistensi mutu, kelengkapan legalitas, kemasan yang representatif, serta ketepatan membaca pasar harus berjalan beriringan agar usaha mampu berkembang.

Pesan itu disampaikan Kepala UPT Industri Makanan, Minuman dan Kemasan Surabaya Disperindag Jatim, Nuring Retnowati, dalam Seminar dan Pelatihan Kewirausahaan Penguatan Ekonomi Produktif dan Peningkatan Daya Saing Usaha DWP se-Jawa Timur, Kamis (22/10/2026) pagi.

Kegiatan bertema “Usaha Bermutu dan Berdaya Saing, Keluarga Mandiri dan Sejahtera” tersebut berlangsung di Ruang Rapat Hayam Wuruk, Kantor Sekretariat Daerah Jawa Timur, Jalan Pahlawan 110, Surabaya. Hadir pula dalam kegiatan itu CEO Botega.id, Evelyn Wijaya.

Nuring menjelaskan, pengembangan IKM tidak cukup berhenti pada kemampuan menghasilkan barang. Pelaku usaha juga perlu membangun fondasi usaha yang kuat melalui standardisasi, legalitas, serta akses pasar. Kemasan menjadi bagian penting untuk mendukung daya saing produk tersebut.

Menurutnya, IKM paripurna merupakan IKM yang memiliki daya saing tinggi. Untuk menuju ke sana, pelaku usaha perlu mengenali sekaligus membenahi persoalan yang masih dihadapi dalam kegiatan produksi dan pemasaran.

Salah satu tantangan yang kerap ditemukan dalam pembinaan adalah mutu produk yang belum konsisten. Pelaku usaha bisa menghasilkan produk berkualitas pada produksi awal, tetapi belum tentu mampu mempertahankan kualitas yang sama pada produksi berikutnya.

Berita Terkait :  Pertamina Dukung Integrasi Pipa Transmisi Gas Bumi Sumatera - Jawa

“Pada saat tahapan pertama mungkin ibu-ibu semuanya berproduksi dengan mutu yang baik, tetapi yang kedua, ketiga mungkin kurang begitu baik. Jadi mutu ini harus selalu konsisten,” ujar Nuring.

Karena itu, semangat memulai usaha perlu diikuti perhatian terhadap tahapan produksi. Ketersediaan ide dan bahan baku harus ditopang proses yang mampu menjaga kualitas produk dari waktu ke waktu.

Selain mutu, Nuring menyoroti kemasan yang belum mendukung penampilan produk. Menurutnya, produk dengan rasa yang lezat atau kualitas isi yang baik tetap berpotensi kurang menarik perhatian apabila dikemas seadanya.

Ia mengibaratkan kemasan sebagai pakaian sebuah produk. Sebelum mengenal isinya, calon pembeli terlebih dahulu melihat tampilan luarnya. Pada titik itulah kemasan berperan membangun ketertarikan awal.“Jadi kita melihat dulu pakaiannya dari produk itu,” katanya.

Namun, kemasan bukan semata-mata soal tampilan. Nuring menjelaskan, kemasan juga memiliki fungsi melindungi produk, membangun identitas merek, serta menyampaikan informasi kepada konsumen.

Informasi tersebut dapat membantu pembeli mengenali isi produk, bahan yang digunakan, hingga masa kedaluwarsa. Dengan demikian, desain kemasan perlu mempertemukan unsur daya tarik dan kebutuhan informasi, bukan hanya mengejar keindahan.

Untuk mendukung kebutuhan itu, UPT Industri Makanan, Minuman dan Kemasan Surabaya menyediakan layanan desain maupun desain ulang kemasan. Nuring menegaskan, layanan tersebut tidak terbatas pada produk makanan dan minuman, tetapi juga menjangkau produk nonpangan.

Berita Terkait :  Luncurkan GPIPS, Pemerintah dan BI Perkuat Ketahanan Pangan dan Pengendalian Inflansi

“Jadi kami di UPT Mamin Kemasan ini bukan hanya sekadar membuat kemasan untuk makanan, minuman ibu-ibu. Tidak. Jadi kami di sini juga membuat kemasan untuk semua produk,” jelasnya.

Dalam kesempatan itu, ia menunjukkan sejumlah contoh kemasan, termasuk kemasan batik dan produk minuman. Contoh tersebut memperlihatkan bahwa kebutuhan pengemasan dapat disesuaikan dengan karakter produk yang dihasilkan pelaku usaha.

Nuring menyebut, layanan UPT tidak semata berorientasi bisnis, melainkan juga mendukung perkembangan pelaku usaha di Jawa Timur.

“Kami bukan sekadar orientasi kepada bisnis, tapi kami juga orientasi kepada perkembangan dari ibu-ibu pelaku usaha semua di Jawa Timur,” tuturnya.

Di sisi lain, pembenahan produk dan kemasan perlu disertai pemahaman terhadap pasar yang dituju. Pelaku usaha diingatkan agar mengetahui calon konsumennya sejak merencanakan produksi.

Apabila menyasar anak muda, misalnya, pelaku usaha perlu mengikuti perkembangan selera kelompok tersebut. Namun, mengikuti tren tetap perlu diiringi kemampuan mengembangkan produk yang sesuai dengan kebutuhan pasar.

“Jika kita melakukan produksi, itu kita harus sudah tahu segmen mana yang akan kita bidik,” tegasnya.

Nuring juga mengingatkan pentingnya legalitas usaha dan pemenuhan ketentuan produk. Ia mendorong peserta untuk memperhatikan Nomor Induk Berusaha (NIB), sekaligus memahami kebutuhan perizinan sesuai jenis usaha dan produk yang dikembangkan.

Perhatian terhadap standar dan keamanan, lanjutnya, tidak hanya berlaku bagi makanan dan minuman. Produk nonpangan seperti lilin dan aromaterapi juga perlu memperhatikan keamanan bahan serta penggunaannya.

Berita Terkait :  Peringati Hari Pelanggan Nasional, PLN Sapa Pelanggan Berbagai Sektor

Melalui pembinaan tersebut, Nuring menekankan bahwa pengembangan IKM merupakan proses yang saling berkaitan. Daya saing dibangun dengan menjaga mutu, memenuhi legalitas, memperkuat kemasan, dan memahami konsumen, bukan sekadar menghasilkan produk lalu menawarkannya ke pasar. [aya.kt]

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img
spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!