Surabaya, Bhirawa – RS Ubaya mengadakan Seminar membahas pentingnya kecepatan-ketapatan dalam menangani Stroke, diskusi bertajuk Every Minute Counts: Save Time, Save Brain, Save Love di Ruang Serbaguna lantai 9 RS Ubaya.
Selain seminar, RS Ubaya juga menerima Gold Status pada ajang World Stroke Organization (WSO) Angels Award kuartal II atau Q2 2026, Penghargaan internasional diberikan sebagai bentuk pengakuan terhadap upaya rumah sakit dalam memenuhi standar pelayanan stroke, Kamis (29/10).
Angels Consultant Angels Initiative, Rani Peni Wasiat, menjelaskan bahwa penghargaan WSO Angels Award tidak cuman jadi pengakuan di tingkat nasional tapi internasional, penilaian berkaitan dengan pemenuhan standar pelayanan stroke sesuai standar internasional. “Untuk mencapai seperti ini dibutuhkan kerja keras yang luar biasa dari tim stroke, terutama, dan juga tentu dari dukungan manajemen,” jelas Rani.
Lanjut Rani mengatakan kecepatan dan ketepatan penanganan menjadi salah satu indikator yang diperhatikan dalam penilaian WSO Angels Award. “Raihan Gold Status juga menjadi bagian dari kontribusi RS Ubaya dalam mendukung program Surabaya Siaga Stroke, program ini mendorong optimalisasi layanan rumah sakit supaya pasien stroke mendapatkan penanganan yang cepat dan tepat,” ujarnya.
Sementara itu, Dokter Spesialis Neurologi RS Ubaya, dr. Ricky Dany Agus Wicaksono, Sp. N, mengukapkan tantangan penanganan stroke masih terletak pada keterlambatan pasien mendapatkan pertolongan medis, sebagian pasien baru tiba di rumah sakit setelah melewati 4,5 jam sejak gejala pertama muncul, kondisi ini membuat pilihan terapi untuk menekan risiko kecacatan menjadi lebih terbatas.
“Banyak pasien belum mengenali gejala stroke, menganggap keluhan akan membaik sendiri sehingga memilih menunggu, Padahal, penanganan dalam 4,5 jam pertama sangat penting karena memungkinkan pemberian terapi yang lebih agresif untuk menekan kecacatan,” tuturnya.
dr. Ricky menyebutkan, kasus stroke masih banyak ditemukan pada kelompok usia 40 tahun ke atas, Namun pasien berusia muda juga tidak jarang mengalami penyakit tersebut, RS Ubaya pernah menangani pasien stroke perdarahan berusia sekitar 18 hingga 19 tahun.
“Pola hidup sehari-hari menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan, mulai dari kebiasaan merokok, kurang tidur akibat begadang, hingga konsumsi makanan instan dan ultra-proses secara berlebihan, faktor bawaan atau kelainan tertentu juga dapat berperan dalam terjadinya stroke,” pungkasnya.
dr. Ricky memperkirakan tren kejadian stroke masih berpotensi meningkat seiring pola hidup masyarakat. Karena itu, upaya mitigasi perlu diperkuat melalui peningkatan kualitas layanan sekaligus edukasi kepada masyarakat agar mampu mengenali gejala sejak dini.
“Pada sisi pelayanan, jumlah pasien stroke yang ditangani RS Ubaya tidak selalu sama setiap hari, memperkirakan kunjungan pasien akut berkisar satu hingga tiga orang per hari, sedangkan pasien yang menjalani pemeriksaan di poliklinik jumlahnya lebih banyak,” paparnya.
Untuk meningkatkan keberhasilan penanganan, dr. Ricky menambahkan pihaknya mendorong penguatan kolaborasi dengan tenaga kesehatan di fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama, seperti puskesmas dan klinik, edukasi kepada tenaga kesehatan yang berinteraksi langsung dengan masyarakat dinilai penting agar pengenalan gejala dan rujukan pasien dapat dilakukan lebih cepat.
“Pengenalan awal sangat penting, berharap kegiatan edukasi seperti ini lebih sering dilakukan sehingga tenaga kesehatan dan masyarakat semakin memahami tanda serta gejala stroke,” tambahnya.
Ia juga mengigatkan selain pengenalan gejala, pencegahan melalui perubahan gaya hidup juga perlu menjadi perhatian, masyarakat diimbau menjaga aktivitas fisik dengan berolahraga secara teratur, menerapkan pola makan seimbang, mencukupi waktu istirahat, serta membatasi konsumsi rokok dan makanan ultra-proses.
“Penguatan edukasi, pencegahan, dan koordinasi antarfasilitas kesehatan, penanganan stroke diharapkan dapat dilakukan lebih cepat sehingga risiko kecacatan dapat ditekan dan kualitas hidup pasien tetap terjaga,” imbuhnya. [ren.wwn]




