Pemprov Jatim, Bhirawa. – Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa memastikan penguatan dan perluasan Program Rumah Tidak Layak Huni (Rutilahu) terus dilakukan dengan menyasar warga miskin dan kelompok rentan. Program Rutilahu diarahkan tak sekadar memperbaiki bangunan rumah, tetapi juga memastikan hunian memenuhi aspek kesehatan, sanitasi, keamanan, dan kenyamanan.
”Pemerintah terus menghadirkan hunian yang layak, sehat dan berkeadilan bagi seluruh masyarakat. Bagaimana kondisi bangunannya, apakah sanitasi memadai atau tidak, kita upayakan hal ini,” kata Khofifah saat meninjau rumah penerima bantuan Rutilahu di Kabupaten Sumenep, pekan lalu.
Menurut Khofifah, rumah merupakan kebutuhan dasar yang berpengaruh terhadap kualitas hidup masyarakat. Karena itu, penanganan rumah tidak layak huni perlu dilakukan secara berkelanjutan, terutama bagi masyarakat berpenghasilan rendah yang membutuhkan tempat tinggal layak dan aman.
”Tentu harapannya kebutuhan dasar masyarakat terkait rumah layak huni terutama untuk warga miskin di Jawa Timur dapat terpenuhi,” ujarnya.
Khofifah menegaskan, perluasan program Rutilahu membutuhkan kolaborasi antara Pemprov Jatim, pemerintah kabupaten, Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS), serta Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Jawa Timur. Sinergi ini dinilai penting agar jangkauan bantuan semakin luas dan lebih banyak warga yang membutuhkan dapat memperoleh perbaikan rumah.
”Penguatan dan perluasan untuk Rutilahu harus membangun sinergi bersama BAZNAS. Kuncinya sinergi, sinergi, sinergi,” tegasnya.
Dalam kunjungannya di Sumenep, Khofifah meninjau rumah Santi B Ali (85), warga Dusun Dajar, Desa Bates, yang menerima bantuan renovasi senilai Rp40 juta. Bantuan ini berasal dari BAZNAS Provinsi Jatim sebesar Rp20 juta dan BAZNAS Kabupaten Sumenep Rp20 juta.
Khofifah juga meninjau rumah Fatima (90) di Dusun Tajjan Laok, Desa Slopeng, yang mendapat bantuan Rp25 juta. Bantuan ini berasal dari BAZNAS Provinsi Jatim Rp20 juta dan BUMD Jatim Rp5 juta.
Secara keseluruhan, terdapat lima penerima manfaat bedah rumah di Kabupaten Sumenep dalam rangka Hari Jadi ke-81 Provinsi Jawa Timur. Dukungan tersebut menjadi bentuk sinergi lintas lembaga dalam membantu pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat, khususnya warga yang membutuhkan perbaikan tempat tinggal.
Khofifah juga meminta proses renovasi dilakukan dengan cepat agar rumah segera dapat dimanfaatkan penerima bantuan. Ia menargetkan pekerjaan renovasi dapat diselesaikan dalam waktu satu bulan.
”Selain itu ditargetkan selesai satu bulan, jadi butuh tiga minggu lagi,” jelasnya.
Sementara itu, Suhatmina (45), anak Fatima, mengungkapkan kondisi rumah ibunya sebelum direnovasi cukup memprihatinkan. Sejumlah bagian rumah mengalami kerusakan dan dinilai membahayakan keselamatan penghuni.
”Atap jebol, kamar mandi mau rubuh dan lantai sudah mau ambles,” ungkapnya.
Suhatmina mengaku bersyukur bantuan itu membuat rumah ibunya dapat diperbaiki sehingga menjadi lebih layak, aman, dan nyaman ditempati. ”Saya sebagai anak mengucapkan terima kasih sekaligus bahagia dan bangga ibu saya sudah dibantu bedah rumah sehingga bisa tinggal dengan layak,” katanya. [Ina.fen]




