31 C
Sidoarjo
Wednesday, September 2, 2026
spot_img

Jembatan Garuda Merah Putih Bantu Mobilitas Distribusi Logistik dan Ekonomi Warga

Situbondo, Bhirawa – Keberadaan pembangunan jembatan Garuda Merah Putih menurut pemetaan  Kodim 0823 Situbondo memiliki dampak langsung bagi masyarakat Situbondo. Apa saja ? Diantaranya dapat membantu distribusi logistik, mobilitas warga dan ekonomi warga.

Menurut Dandim 0823 Situbondo, Letkol Ferry Ardian, keberadaan jembatan Garuda perintis Merah Putih memiliki dampak sangat nyata. Pertama, aku Ferry Ardian, dapat mempermudah mobilitas masyarakat, termasuk anak-anak yang berangkat sekolah.

“Kedua, mempercepat akses pelayanan kesehatan dan pemerintahan. Ketiga, mempermudah distribusi kebutuhan pokok dan hasil pertanian masyarakat. Keempat, membuka akses terhadap pusat-pusat ekonomi dan pasar. Dan yang tidak kalah penting adalah meningkatkan rasa aman dan nyaman masyarakat dalam beraktivitas,” aku Ferry.

Ferry kembali menontohkan, keberadaan Jembatan Bentapen–Krajan di Desa Sumbertengah, Kecamatan Bungatan, menghubungkan dua dusun yang sebelumnya harus melintasi sungai untuk melakukan aktivitas sehari-hari. “Jembatan sepanjang 35 meter tersebut kini sudah dapat dimanfaatkan masyarakat,” terang Ferry.

Dengan adanya jembatan ini, lanjutnya, Kodim 0823 memiliki prediksi perubahan pola mobilitas di wilayah. “Ya, kami memprediksi akan terjadi perubahan yang cukup signifikan. Yang sebelumnya masyarakat harus memutar jauh atau bahkan melewati medan yang berbahaya, nantinya dapat menggunakan jalur yang lebih pendek dan aman,” tuturnya.

Selain itu, lanjut Ferry dampaknya bukan hanya menghemat waktu dan biaya transportasi, tetapi juga akan meningkatkan interaksi antar wilayah dan aktivitas ekonomi masyarakat.

Berita Terkait :  Keluarga Komuter dan Upaya Menuju Sakinah

“Dalam jangka panjang, akses ini akan mendorong berkembangnya wilayah-wilayah yang sebelumnya relatif tertinggal,” bebernya.

Apa saja tantangan terbesar dalam pembangunan jembatan perintis ini di lapangan? Mulai dari medan, cuaca, hingga sosial? Kata Ferry, tantangan pertama, medan, karena beberapa lokasi berada di daerah pegunungan dan pelosok.

“Kedua, akses menuju lokasi pembangunan, terutama untuk membawa material dan peralatan. Ketiga, faktor cuaca dan kondisi alam, termasuk potensi banjir maupun perubahan debit sungai. Keempat, faktor sosial dan koordinasi, karena pembangunan harus memperhatikan kepentingan masyarakat dan kondisi lingkungan sekitar,” ujarnya.

“Tetapi, justru di sinilah fungsi TNI sebagai bagian dari komponen bangsa. Kami hadir untuk mencari solusi, berkoordinasi dan membantu agar hambatan tersebut tidak mengganggu tujuan utama pembangunan,” tegasnya.

Terakhir, sebut Ferry, TNI memastikan proyek strategis nasional ini berjalan transparan, tepat waktu, dan tepat sasaran, serta tidak disusupi kepentingan tertentu.  Karena pada prinsipnya jelas dan bekerja sesuai aturan, transparan, akuntabel dan berorientasi pada kepentingan masyarakat.

“Setiap pembangunan harus berdasarkan kebutuhan dan hasil survei lapangan. Kami juga melaksanakan monitoring dan koordinasi secara berjenjang dengan komando atas, pemerintah daerah dan stakeholder terkait,” tambahnya.

Justeru yang paling penting, ulas Ferry, jangan sampai program yang tujuan awalnya untuk membantu masyarakat justru dimanfaatkan untuk kepentingan pribadi atau kelompok. “TNI dalam hal ini fokus pada pengabdian dan kepentingan masyarakat serta keberhasilan program pemerintah,” pungkas Ferry.  [awi.kt]

Berita Terkait :  Fraksi PDIP-PAN Dorong APBD Surabaya 2026 Makin Dekat dengan Kebutuhan Warga

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!