27 C
Sidoarjo
Tuesday, September 1, 2026
spot_img

28 Persen Program Magang Guru SMK ke Luar Negeri dari Jatim


Dindik Jatim, Bhirawa – Sebanyak 14 guru Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Jawa Timur terpilih mengikuti Program Magang Luar Negeri bagi Guru SMK Tahun 2026 di Jerman. Jumlah tersebut mencapai 28 persen dari total 50 guru SMK terpilih se-Indonesia.

Program yang diselenggarakan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) bekerja sama dengan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) tersebut menjadi pengakuan atas kompetensi dan kualitas guru vokasi Jawa Timur di tingkat nasional maupun internasional.

Ke-14 guru tersebut berasal dari SMK negeri dan swasta di berbagai daerah di Jawa Timur. Mereka secara resmi dilepas Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti di Jakarta untuk mengikuti program peningkatan kompetensi dan pengalaman pembelajaran berbasis dunia industri di Jerman.

Para peserta nantinya akan menjalani pendidikan di Festo Didactic dan Technische Universität Dresden (TU Dresden).

Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur Aries Agung Paewai mengapresiasi capaian tersebut. Menurutnya, proporsi 14 guru atau hampir sepertiga dari total peserta nasional menunjukkan kualitas guru SMK Jawa Timur semakin mendapat kepercayaan.

“Kami tentu sangat bangga. Dari 50 guru SMK yang terpilih se-Indonesia, 14 di antaranya berasal dari Jawa Timur. Ini bukan jumlah yang kecil. Hampir sepertiga peserta nasional berasal dari Jawa Timur dan mereka datang dari SMK negeri maupun swasta. Artinya, kualitas guru-guru kita semakin mendapat kepercayaan dan mampu bersaing di tingkat nasional bahkan internasional,” ujar Aries, Selasa (1/9).

Menurut Aries, lolosnya para guru dalam program tersebut tidak boleh dipandang semata-mata sebagai sebuah prestasi individual. Kesempatan ini harus menjadi bagian dari upaya memperkuat kualitas pendidikan vokasi Jawa Timur secara lebih luas.

Ia menegaskan bahwa keberhasilan seorang guru mengikuti program internasional pada akhirnya harus memberikan dampak langsung terhadap kualitas pembelajaran dan kompetensi murid.

“Saya berpesan kepada 14 guru ini, jangan hanya membawa pulang sertifikat internasional. Bawa pulang standar dunia untuk Jawa Timur. Bawa pulang ilmu, teknologi, budaya kerja, disiplin, produktivitas, inovasi, dan cara berpikir baru yang nanti dapat diterapkan di sekolah,”tambah dia.

Berita Terkait :  Menyambut Peringatan Hari Santri Nasional 2025, LPBI NU dan HIMAKA Tanam Ribuan Bibit Pohon

Menurut Aries, guru memiliki posisi yang sangat strategis dalam membentuk kualitas lulusan SMK. Ketika kompetensi guru terus diperbarui sesuai perkembangan teknologi dan kebutuhan industri dunia, pengetahuan tersebut akan langsung ditransfer kepada murid.

“Guru yang berkualitas akan menghasilkan proses pembelajaran yang berkualitas. Ketika guru memahami teknologi terbaru, budaya industri dan standar kompetensi internasional, maka murid-murid kita juga akan mendapatkan pengalaman belajar yang semakin relevan dengan kebutuhan dunia kerja,” jelasnya.

Pengalaman Jerman Harus Diimbaskan
Mantan Pj Wali Kota Batu ini berharap para guru tidak hanya membawa pengalaman tersebut kembali ke sekolah masing-masing. Setelah mengikuti program di Jerman, mereka diharapkan menjadi penggerak sekaligus sumber belajar bagi guru-guru SMK lainnya di Jawa Timur.

Menurutnya, keberhasilan program akan jauh lebih besar apabila pengetahuan yang diperoleh 14 guru tersebut dapat diimbaskan secara sistematis kepada sekolah lainnya. “Jangan sampai pengalaman di Jerman berhenti pada 14 orang. Satu guru harus mampu menginspirasi puluhan guru lain dan berdampak kepada ratusan bahkan ribuan murid. Inilah yang kami maksud dengan pendidikan berdampak,”tegas Aries.

Dari 14 guru SMK Jawa Timur yang terpilih, mayoritas berasal dari bidang Teknologi Manufaktur dan Rekayasa, serta terdapat peserta dari bidang Energi dan Pertambangan.

Mereka berasal dari SMKS Semen Gresik, SMKN 3 Tuban, SMKN 3 Buduran, SMKN 2 Sampang, SMKN 2 Pamekasan, SMKN 10 Malang, SMKN 1 Gedangan, SMKN 1 Udanawu, SMKS Krian 2 Sidoarjo, SMKN 1 Bangil, SMK Muhammadiyah 7 Gondanglegi, SMKN 2 Singosari, SMKN 1 Singosari, dan SMKN 1 Bendo Magetan.

Aries menilai keterlibatan guru dari sekolah negeri maupun swasta sekaligus menunjukkan bahwa peningkatan kualitas pendidikan vokasi Jawa Timur dilakukan secara bersama-sama tanpa membedakan status sekolah.

“Yang ingin kita bangun adalah ekosistem pendidikan vokasi Jawa Timur. Negeri maupun swasta harus sama-sama maju. Karena yang kita perjuangkan bukan semata-mata nama sekolah, tetapi masa depan anak-anak Jawa Timur,” tegasnya.

Berita Terkait :  Cegah Kerentanan Remaja di Era Digital, TP PKK Jatim Mulai Implementasikan PKK Masuk Sekolah

Dikatakan Aries, pengalaman internasional para guru diharapkan dapat memperkuat link and match antara pembelajaran di SMK dengan perkembangan dunia usaha, dunia industri dan dunia kerja.

Para guru juga diharapkan dapat mempelajari langsung budaya kerja industri Jerman yang dikenal kuat dalam kedisiplinan, presisi, produktivitas, keselamatan kerja dan penguasaan teknologi.

“Yang kita harapkan bukan sekadar mereka melihat bagaimana industri di Jerman bekerja. Tetapi memahami mengapa mereka bisa memiliki standar yang tinggi, kemudian kita adaptasi sesuai kebutuhan sekolah dan industri di Jawa Timur,”jelasnya.

Dengan semakin banyak guru memperoleh pengalaman internasional, Aries optimistis kualitas pendidikan vokasi Jawa Timur akan semakin kuat. Ia berharap capaian 14 guru tersebut juga menjadi pemantik bagi guru-guru lainnya agar tidak berhenti meningkatkan kompetensi.

“Guru harus menjadi pembelajar sepanjang hayat. Dunia industri berubah sangat cepat, teknologi juga terus berkembang. Karena itu, guru SMK harus berada selangkah di depan agar mampu menyiapkan murid menghadapi perubahan tersebut,” katanya.

Menurut Aries, keberhasilan 14 guru SMK Jawa Timur menembus program internasional tersebut semakin memperkuat semangat mewujudkan pendidikan vokasi Jawa Timur yang adaptif, produktif, kompetitif dan berwawasan global.

Sementara itu, Mendikdasmen Abdul Mu’ti menyebut para peserta yang berangkat merupakan guru SMK yang telah melalui proses seleksi sangat ketat. Selama mengikuti program, masing-masing peserta mendapatkan biaya akomodasi sebesar Rp28 juta per bulan. Karena itu, Mu’ti berharap para guru tetap semangat dan mampu melampaui berbagai keterbatasan selama menjalani program.

Dikatakan Mu’ti, upaya meningkatkan kompetensi guru SMK merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari upaya mewujudkan pendidikan bermutu untuk semua. Sebab, kualitas pembelajaran sangat ditentukan oleh guru sebagai agent of learning dan agent of civilization.

“Bapak dan ibu adalah pionir yang diharapkan memberikan yang terbaik bagi anak-anak SMK di tempat mengajar. Maupun bagi SMK lain yang gurunya belum mendapatkan kesempatan mengikuti program magang guru luar negeri,” jelas Mu’ti.

Berita Terkait :  Budayawan Jombang Harap Desa Jatiduwur jadi Kampung Panji

Karena itu, lanjut dia, pengalaman yang diperoleh selama mengikuti magang kerja di Jerman diharapkan dapat memberikan trickle down effect. Para guru peserta magang diharapkan mampu mentransformasikan pengalaman dan pengetahuan yang diperoleh kepada guru-guru lain.

“Sehingga dapat terjadi peningkatan mutu yang berjalan seiring dengan pengalaman bapak dan ibu selama magang di Jerman,” imbuhnya.

Mu’ti juga menyebut pemerintah saat ini memiliki program Melanjutkan, Wirausaha, dan Bekerja (MWB). Melalui program tersebut, lulusan SMK didorong memiliki beragam pilihan setelah menyelesaikan pendidikan, baik melanjutkan ke perguruan tinggi, bekerja, maupun menjadi entrepreneur.

“Kita juga tekankan berulang kali agar muatan kurikulum yang berkaitan dengan kewirausahaan harus memadai sehingga memiliki jiwa kewirausahaan. Karena selama ini banyak peluang untuk dapat berwirausaha dari kemampuan yang dimiliki,” ujarnya.

Selain Jerman, Mu’ti mengungkapkan terdapat sejumlah tawaran program magang bagi guru SMK dari Jepang. Salah satu syaratnya, guru SMK dapat mengarahkan siswanya untuk bekerja di Jepang.

India juga menawarkan kerja sama dalam peningkatan kualitas guru SMK. Terbaru, University of St. Michael’s College mengajak kerja sama dalam peningkatan pembelajaran STEAM bagi guru serta penguatan kualitas pembelajaran mendalam.

“Ini bagian dari upaya kami bagaimana di tengah keterbatasan anggaran yang ada, kami tetap berkomitmen untuk meningkatkan kualitas para guru dengan partisipasi semesta. Di antaranya membangun kemitraan yang terjalin bersama LPDP dengan Festo,” kata Mu’ti.

Menurutnya, setiap pengalaman memiliki makna penting bagi pengembangan kompetensi guru. Karena itu, para peserta diminta memanfaatkan kesempatan magang selama tiga bulan secara maksimal, termasuk untuk memperluas jejaring.

“Setiap pengalaman memiliki makna yang sangat penting. Pentingnya jejaring. Tiga bulan terlalu singkat, tetapi ini harus dimaksimalkan untuk meningkatkan kualitas dan bidang ilmu serta meningkatkan potensi masing-masing,” pungkas Mu’ti. [ina.wwn]

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!