Jombang, Bhirawa – Ritual pencucian wayang Topeng Ki Purwo, Desa Jatiduwur, Kecamatan Kesamben, Kabupaten Jombang, di Sanggar Tri Purwo Budoyo, Selasa (7/7) berlangsung sakral.
Acara diawali pembukaan kotak topeng berjumlah 33 karakter oleh Sulastrri Widiyanti, pengelola wayang Topeng, yang juga merupakan keturunan ke-7 Ki Purwo. Kemudian dilanjutkan penyajian sandingan, sajen, dupa, dan minyak wangi,
Sesepuh wayang Topeng Ki Purwo, Mbah Giman melakukan pelepasan dari sarungnya, diikuti seluruh cucu, cicit dan canggah, kemudian diletakkan di meja beralaskan kain putih.
Isma Hakim Rahmat, suami Sulastri, memberikan narasi singkat tujuan pencucian topeng di bulan Asyuro ini sebagai tradisi ritual warisan yang turun temurun dilakukan untuk menghormati karya agung Ki Purwo, pembawa kesenian wayang topeng pertama di Jati Duwur, dan kini menjadi kesenian tradisional wariaan Majapahit yang dimiliki Kabupaten Jombang.
“Mari kita panjatkan doa, dan kirim Fatihah kepada cangga Purwo, dan seluruh dzuriyah yang telah wafat,” kata Isma Hakim.
“Dengan harapan beliau-beliau ditempatkan di surganya Allah SWT, gusti ingkang murbeng dumadi dan kita berharap kesenian warisan ini akan tetap lestari dan berkembang,” bebernya.
Setelah pembacaan doa berbahasa Arab yang dipimpin Mas Hakim, acara dilanjutkan penghormatan haturan pembakaran dupa untuk menambah aura sakral dan sejuk bagi yang hadir mengikuti ritual.
Acara kemudian dilanjutkan doa berbahasa Jawa yang disampaikan oleh tokoh spiritual, Ki Budi dari Kediri.
Posisi topeng 33 karakter ditempatkan di atas meja, kemudian di bawahnya ada sesajen dan dupa. Di sampingnya terdapat among – among terdiri dari 5 piring nasi lengkap lauk pauk, 5 gelas kopi, 5 batang rokok, seperangkat alat nginang, dan tempat air bunga 7 rupa.
Usai diamini oleh seluruh dzuriyah yang hadir, 3 buah topeng asli yakni Klono (warna emas) dan Panji (warna hijau botol), ditempatkan di nampan.
Kemudian seluruh dzuriyah dipimpin Sulastri, berjalan berarak menuju Makam Ki Purwo, di kompleks pemakaman umum desa setempat, untuk melakukan kirim doa dan tahlil.
Tahlil singkat dipimpin Isma Hakim, dan dilanjutkan mengarak 3 wayang Topeng asli menuju punden, salah satu tempat sakral di Desa Jatiduwur.
Konon, punden yang ditumbuhi pohon beringin kembar itu sebagai muasal Ki Purwo menerima kemunculan dua topeng warna emas dan hijau tersebut saat bertapa.
Rombongan menuju ke punden. Biasanya pengarak topeng berjalan kaki dari sanggar, ke makam, hingga punden.
Namun pada tahun ini, dilakukan naik mobil mengingat cuaca sedang panas terik, dan dzuriyahnya banyak anak kecil dan ibu-ibu.
“Kalau proses jalan, tidak masalah digantikan naik mobil. Kemarin ada tamu juga dari Surabaya, sebaanyak 2 mobil, ditambah keluarga ada dua mobil. Jadi menambah kekhidmatan,” terang Isma Hakim.
Di punden, suasana semakin sakral dan khidmat. Terlihat saat 3 dzuriyah Ki Purwo berpakaian lengkap menyuguhkan tarian Klono, hingga tuntas, 9 menit 10 detik. Ditambah lagi saat prosesi Tarik Kupat Luar, tradisi satu-satunya di Indonesia untuk meminta kabul hajat dan keselamatan ini.
Sejumlah pegiat seni dan praktisi dari Kediri, Komunitas Amongjito Mojowarno, Sumobito, Surabaya dan Pojokrejo ini terlihat khusyuk mengikuti doa tahlil, dan ngujub dari Ki Budi,
Setelah rangkaian acara tersebut, seluruh hadirin melakukan bancakan tumpeng di atas tikar yang dibeber. Tunpeng dengan lauk ingkung atau panggang ayam, urap-urap, tahu, tempe, dan telur ini dibagikan dan dimakan bersama.
“Suasana ini bagi kita sungguh jadi momentum tak ada duanya. Karena kami keluarga bisa silaturahim dengan semua saudara, baik dekat hingga jauh. Dan makan bersama sambil menikmati tarian Klono, menjadi nikmat, dan mengesankan,” papar Sulastri usai acara.
Para pengikut dan dzuriyah yang mengikuti acara dari awal hingga prosesi di punden lalu kembali ke sanggar. Untuk melakukan persiapan pementasan di panggung sanggar, sebagai rangkaian akhir Ruwatan Wayang Topeng Ki Purwo, Desa Jati Duwur, Kecamatan Kesamben, Kabupaten Jombang yang menjadi agenda rutin pada bulan Asyuro. [rif.kt]


