Kota Probolinggo, Bhirawa – Rencana Pemerintah Kota Probolinggo menyulap kawasan Jalan Cokroaminoto sisi barat menjadi jalur pedestrian menyerupai Malioboro memicu sorotan tajam dari jajaran legislatif. Proyek ini menelan anggaran Rp4,8 Miliar untuk panjang lintasan hanya 200 meter.
Dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi III DPRD Kota Probolinggo bersama DPUPRPKP dan Bagian Pengadaan Barang dan Jasa (PBJ), Senin (29/6), dewan mempertanyakan besaran anggaran tersebut.
Kepala DPUPRPKP Kota Probolinggo, Gofur Effendi, memberikan klarifikasi teknis. Menurutnya, proyek itu bukan sekadar pembenahan estetika permukaan, melainkan restrukturisasi total sistem drainase bawah tanah guna mengatasi banjir tahunan.
“Kapasitas saluran di Jalan Cokro existing itu kurang mampu menampung debit air jika ada hujan deras tambahan. Sehingga, dimensinya kita ubah menggunakan sistem U-ditch tumpuk dua. Kapasitasnya menjadi 2 meter dikali 2 meter (4 kubik). Komponen penutupnya menggunakan box culvert beton tebal sebagai perata beban, baru di atasnya dipasang batu granit,” beber Gofur.
Gofur mengakui adanya keterlambatan start proyek yang seharusnya diluncurkan Juni ini, akibat proses penyesuaian perubahan harga material di tingkat regulasi. Namun karena material berbasis pabrikan, pihaknya optimistis proyek selesai tepat waktu. Penataan lanjutan ke arah selatan sepanjang 1,3 kilometer akan dilanjutkan secara bertahap tahun depan. [fir.kt]


