Surabaya, Bhirawa – Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Timur (Disperindag Jatim) meluncurkan program JXTA 2026 yang dirancang untuk memperkuat kapasitas industri kecil dan menengah (IKM) serta unit usaha mikro, kecil, dan menengah (UKM) agar siap bersaing di pasar global.
Program JXTA (J-Export and Trade Assistance) adalah inisiatif pendampingan ekspor inklusif yang diselenggarakan oleh Disperindag Jatim yang bekerjasama dengan Bank Jatim.
Program ini dirancang khusus untuk mendampingi UKM dan IKM lokal agar produk mereka mampu menembus dan bersaing di pasar global.
Selain itu, program ini menekankan pendampingan dan pelatihan bertahap untuk memperbesar peluang pelaku usaha daerah menembus pasar ekspor.
“Tujuan JXTA adalah memberikan pendampingan dan coaching bagi IKM dan UKM di Jawa Timur agar siap memasuki pasar global,” cetus Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Jawa Timur, Dr. Iwan, S.Hut., M.M., yang diwakili oleh Lucky, Kepala Bidang Pengembangan Perdagangan Luar Negeri Disperindag Jatim, saat dikonfirmasi Bhirawa, Minggu (21/6/2026).
Program ini hadir di tengah kebutuhan penguatan daya saing IKM di Jawa Timur. Provinsi tersebut tercatat memiliki sekitar 800 ribu IKM yang tersebar pada sektor manufaktur skala kecil, kerajinan, pangan olahan, dan produk kreatif lain.
Ketersediaan jumlah besar pelaku usaha ini menjadi potensi sekaligus tantangan. Artinya, tanpa pembinaan terarah, banyak usaha masih berkutat pada pasar domestik dengan kapasitas produksi dan standar mutu yang belum memenuhi persyaratan ekspor.
“Jawa Timur memiliki sekitar 800 ribu IKM yang memerlukan pembinaan. Salah satu cara meningkatkan pertumbuhan ekonomi adalah melalui ekspor,” ujar Lucky menambahkan.
Strategi JXTA dirancang bertahap. Tahap awal akan memberikan pengenalan dasar tentang mekanisme ekspor, persyaratan sertifikasi, pengemasan, manajemen rantai pasok, serta penguatan brand dan pemasaran internasional kepada 100 IKM terpilih.
Setelah penilaian dan kurasi, program akan memfokuskan bimbingan intensif secara offline kepada 30 IKM yang menunjukkan potensi tertinggi untuk menembus pasar asing.
“Harapannya, melalui program ini, IKM yang potensial dapat naik kelas dan meluaskan pasarnya hingga ke luar negeri, sehingga turut berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi Jawa Timur,” tegasnya lagi.
“Target program ini adalah sebanyak 100 IKM di Jatim yang akan memperoleh ilmu awal pengenalan ekspor, yang selanjutnya akan dikurasi lagi menjadi 30 IKM yang akan mendapatkan bimbingan intensif offline,” paparnya menutup.
Langkah ini sangat relevan dilakukan untuk mendorong diversifikasi pasar dan nilai tambah produk lokal. Namun, keberhasilan program akan bergantung pada beberapa faktor, antara lain akses pembiayaan untuk meningkatkan kapasitas produksi, kemitraan dengan distributor internasional, penjaminan mutu berkelanjutan, serta dukungan logistik dan kebijakan yang mempermudah ekspor bagi usaha kecil.
Dala keaempatan itu, Lucky juga menyatakan perlunya kolaborasi lintas instansi dan sektor, termasuk perbankan, asosiasi IKM, serta lembaga sertifikasi agar proses peningkatan kapabilitas berjalan menyeluruh.
Jika berjalan lancar, ekspor yang dibangun dari basis IKM berpotensi menciptakan lapangan kerja baru, meningkatkan pendapatan daerah, dan memperkuat ekosistem industri kecil di Jawa Timur. [aya.kt]


