Calon Murid Diminta Memahami Rayon dan Sistem Pemeringkatan
Pemprov, Bhirawa
Tahapan pengambilan PIN Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) 2026 jenjang SMA/SMK di Jawa Timur resmi berakhir pada Selasa (9/6).
Berdasarkan data TIKP Dinas Pendidikan Jawa Timur per 10 Juni 2026 pukul 11.30 WIB, sebanyak 296.287 calon murid baru telah mendapatkan PIN setelah melalui proses verifikasi dan validasi data dari total 316.078 calon murid yang mengajukan.
Sementara itu, terdapat 4.006 calon murid yang belum mendapatkan PIN hingga penutupan tahapan tersebut.
Kepala Dinas Pendidikan Jawa Timur, Aries Agung Paewai menegaskan tidak ada perpanjangan waktu dalam pengambilan PIN. Kendati demikian, pihaknya meminta calon murid yang belum memperoleh PIN agar tetap semangat melanjutkan pendidikan.
“Alhamdulillah untuk tahapan pengambilan PIN sudah rampung. Bagi calon murid yang belum mendapatkan jangan patah semangat. Sebab, di sekolah swasta juga memberikan beasiswa, kualitas sekolah negeri dan swasta pun sama. Jadi tetap semangat mengenyam pendidikan,” ujar Aries, Rabu (10/6).
Aries menjelaskan, selama proses pengambilan PIN, Posko SPMB Dindik Jatim menemukan berbagai kendala di lapangan. Di antaranya calon murid mengalami kesulitan saat login karena lupa tanggal terbit kartu keluarga (KK), sekolah SMP/MTs belum menginput nilai rapor siswa, hingga banyak siswa belum melakukan verifikasi nilai rapor secara mandiri.
Selain itu, terdapat pula siswa yang meminta pembatalan verifikasi karena ditemukan kesalahan nilai setelah diverifikasi, kesalahan memilih kondisi KK dan Surat Keterangan Domisili (SKD), serta perubahan status disabilitas atas permintaan orang tua.
Dalam pelaksanaan SPMB tahun ini, Dindik Jatim juga memfasilitasi simulasi pendaftaran bagi calon murid baru. Dari total 316.078 calon murid yang mengajukan PIN, sebanyak 146.503 siswa mengikuti simulasi pendaftaran. Sedangkan 169.575 siswa lainnya telah mengambil PIN namun belum mengikuti latihan pendaftaran.
Menurut Aries, simulasi pendaftaran memang tidak bersifat wajib. Namun, ia menilai tahapan tersebut penting agar calon murid memiliki gambaran proses pendaftaran sebenarnya.
“Memang tidak wajib mengikuti. Tapi tahapan ini jika tidak diikuti calon murid akan rugi. Karena akan kesulitan saat SPMB berlangsung,” ungkapnya.
Ia menjelaskan, simulasi dibuat semirip mungkin dengan proses pendaftaran sebenarnya. Pada jalur domisili misalnya, calon murid dapat mengetahui rayon reguler maupun rayon sebaran sesuai domisilinya, termasuk jarak sekolah tujuan.
“Jadi kalau sudah mengikuti simulasi mereka mengetaui dan ada gambaran nanti kira-kira kalau ikut daftar jalur domisili mereka akan sekolah dimana. Jaraknya berapa itu akan diketahui saat simulasi,” jelasnya.
Begitupun, untuk jalur Prestasi Nilai Akademik SMA dan SMK, mereka bisa mengetahui nilai akhir yang akan digunakan untuk mendaftar di jalur ini.
“Simulasi pendaftaran ini kami buat agar siswa ada gambaran. Agar mereka faham nanti saat pendaftaran sebenarnya,”terangnya.
Terkait Jalur Domisili SMA dengan kuota 35 persen dan SMK 10 persen yang akan dimulai Kamis-Jumat (11-12/6), Kadindik mengimbau agar para murid memperhatikan waktu pendaftaran dan rayon sekolah dengan domisilinya. Sebab, dalam Jalur Domisili, pemeringkatan didasarkan nilai, jarak dan waktu pendaftaran.
Sebagai informasi, setelah tahapan Jalur Domisili, pada SPMB, tahap kedua dibuka untuk jalur Mutasi SMA/SMK, Afirmasi SMA (30%), Afirmasi SMK (15%), Mutasi Orang Tua (5%) dan Prestasi Hasil Lomba (5%) dibuka pada 17-18 Juni 2026. Sedangkan jalur Nilai Prestasi Akademik SMA dengan kuota 25% berlangsung pada 24-25 Juni 2026 dan jalur Nilai Prestasi Akademik SMK dengan kuota 65% dibuka pada 30 Juni dan 1 Juli 2026. [ina.gat]


