Pemprov Jatim, Bhirawa
Pemerintah Provinsi Jawa Timur terus memperkuat posisinya sebagai daerah lumbung pangan nasional melalui peluncuran Program Jatim Agro, yang mulai digalakkan pada triwulan II Tahun 2026. Program ini diarahkan untuk meningkatkan kesejahteraan petani, peternak, dan nelayan dengan memperkuat ketahanan pangan, meningkatkan kesejahteraan petani, serta mendorong transformasi sektor pertanian menuju pertanian modern, produktif, dan berdaya saing.
“Program Jatim Agro diarahkan untuk meningkatkan kesejahteraan Petani, Peternak dan Nelayan melalui penguatan ketahanan pangan, peningkatan kesejahteraan petani, serta mendorong transformasi sektor pertanian menuju pertanian modern, produktif dan berdaya saing yang dilakukan secara terintegrasi dari hulu hingga hilir,” tegas Kepala Biro Perekonomian Sekretariat Daerah Provinsi (Setdaprov) Jatim, MHD Aftabuddin Rijaluzzaman, Senin (1/6/2026).
Selain fokus pada produksi, Program Jatim Agro juga memperkuat ekosistem agroindustri melalui pengembangan hilirisasi dan korporasi pertanian (agri-industry pedesaan). Upaya ini bertujuan agar petani dan pelaku usaha mendapatkan manfaat ekonomi yang lebih besar dari setiap rantai nilai produksi.
Lebih jauh, program ini menargetkan peningkatan kualitas sumber daya manusia, khususnya generasi muda di Jawa Timur. “Program ini juga menargetkan peningkatan kapasitas sumber daya manusia melalui Youth Agriculture-Hub guna mendorong keterlibatan generasi muda dalam sektor pertanian modern berbasis inovasi dan teknologi,” papar Afta.
Sasaran Program Jatim Agro mencakup penguatan produksi dan produktivitas pada sektor pertanian, peternakan, perkebunan, perikanan, dan kelautan melalui pengembangan kawasan Agro-Hub serta penguatan korporasi pertanian berbasis hilirisasi.
Dengan pendekatan terintegrasi dari hulu ke hilir, perhatian tidak hanya pada peningkatan kuantitas produksi, tetapi juga pada penambahan nilai dan daya saing produk agro asal Jawa Timur. “Diharapkan, langkah ini dapat meningkatkan kesejahteraan petani, menjaga stabilitas inflasi pangan, memperkuat ekonomi daerah, serta berkontribusi pada ketahanan pangan nasional yang berkelanjutan,” tutup Afta.[aya.ca]


