29.6 C
Sidoarjo
Wednesday, May 20, 2026
spot_img

Trump Datang ke Beijing, Ada Apa Ini?

Oleh:
Dr. Hendrizal, S.IP., M.Pd.
Dosen Bidang PPKn Prodi S2 Pendidikan Dasar-PGSD FKIP Universitas Bung Hatta (UBH) Padang

Donald Trump akhirnya tiba di Beijing. Dunia pun mendadak terasa seperti panggung reuni dua rival lama yang sama-sama sedang berhitung soal tagihan hidup. Tidak ada lagi suara keras perang dagang seperti beberapa tahun lalu. Tidak ada ancaman tarif yang ditembakkan seperti peluru. Kali ini Trump datang lebih sopan, lebih teduh, bahkan nyaris terdengar seperti tamu yang tahu dirinya tidak bisa lagi terlalu banyak marah.

Mungkin beginilah suara dunia ketika negara adidaya mulai sadar bahwa kekuasaan global ternyata ada masa kedaluwarsanya. Selama puluhan tahun, Amerika Serikat menikmati posisi sebagai ‘polisi dunia’. Sebuah pekerjaan internasional yang unik: bisa marah ke mana-mana, memberi sanksi kepada siapa saja, masuk ke negara mana saja, lalu tetap dianggap penyelamat demokrasi. Dunia dibiasakan percaya bahwa stabilitas global hanya mungkin terjadi jika Washington memegang tongkat komando.

Masalahnya, menjadi polisi dunia ternyata mahal. Sangat mahal. Bahkan mungkin terlalu mahal. Afghanistan menghabiskan dua dekade perang tanpa akhir yang jelas. Irak meninggalkan luka geopolitik panjang. Libya berubah menjadi puing ketidakpastian. Kini Iran kembali memanaskan Timur Tengah dan membuat Washington harus membagi perhatian, uang, serta tenaga politiknya. Selat Hormuz yang mengalirkan hampir 20% minyak dunia mendadak menjadi titik cemas global baru.

Amerika masih tampak besar, tapi mulai terlihat seperti petugas keamanan mal yang tetap gagah memakai seragam meski lututnya sudah sering nyeri. Di saat Washington sibuk memadamkan api di berbagai sudut dunia, Cina justru bekerja dengan cara yang lebih sunyi. Tidak terlalu sibuk berkhotbah soal demokrasi universal. Tidak banyak mengajari dunia tentang moral internasional. Beijing cukup membangun pelabuhan, menguasai rantai pasok, membeli pengaruh ekonomi, lalu perlahan menempatkan dirinya di pusat percakapan global.

Berita Terkait :  Ciptakan Duta Keselamatan Cilik, KAI Daop 7 Ajak Siswa Naik KA

Dan sekarang, Trump harus datang ke Beijing. Di situlah ironi geopolitik abad ke-21 terasa sangat telanjang. Negara yang dulu paling percaya diri mengatur dunia kini harus menjaga hubungan baik dengan rival utamanya agar ekonomi global tidak ikut ambruk. Amerika masih memiliki kapal induk terbanyak di dunia. Anggaran militernya tetap mendekati 900 miliar dollar AS per tahun. Tapi rupanya kapal induk tidak bisa memproduksi baterai kendaraan listrik, mengolah mineral tanah jarang, atau memastikan pasokan semikonduktor tetap aman.

Joseph Nye Jr. (2004) pernah mengatakan, kekuatan global tidak lagi hanya soal hard power berupa militer, tapi juga soft power: kemampuan memengaruhi dunia lewat ekonomi, teknologi, budaya, dan diplomasi. Ironisnya, teori itu sekarang justru sedang dipraktikkan sangat rapi oleh Cina.

Amerika masih unggul dalam banyak hal. Dolar tetap menjadi raja transaksi dunia. Silicon Valley masih menjadi simbol inovasi global. Universitas-universitas Amerika masih memproduksi ilmuwan terbaik dunia. Tapi aura hegemoninya mulai retak. Dan dalam politik internasional, retakan psikologis sering kali lebih berbahaya daripada kekalahan militer.

Samuel Huntington (1999) pernah memperingatkan, dunia tidak akan selamanya tunduk pada satu kekuatan tunggal. Pada akhirnya, dunia akan bergerak menuju sistem multipolar: banyak pusat kekuatan, banyak kepentingan, dan semakin sedikit negara yang mau diatur seenaknya.

Hari ini gejala itu terlihat jelas. Rusia berani menantang NATO. Negara-negara Arab makin nyaman mendekat ke Beijing. India tumbuh menjadi pemain baru. Bahkan sekutu tradisional Amerika di Eropa dan Asia kini mulai bermain aman: urusan keamanan tetap bersama Washington, tapi urusan bisnis jangan sampai jauh dari Cina.

Berita Terkait :  Gandeng ITS, Bakom RI Gelar Diskusi Kebijakan Pemerintah

Dunia rupanya mulai bosan dipatroli satu polisi saja. Dan seperti polisi yang mulai menua, Amerika kini menghadapi masalah klasik: sirenenya masih nyaring, tapi tidak semua orang mau lagi berhenti ketika mendengarnya.

Trump ke Beijing akhirnya menjadi simbol yang sulit disembunyikan. Dulu Washington mendatangi banyak negara sambil membawa daftar tuntutan. Kini Washington sendiri datang ke Beijing demi memastikan perdagangan dunia tetap berjalan dan harga minyak tidak meledak terlalu tinggi.

Hubungan Amerika dan Cina pun kini terdengar seperti dua rival yang saling curiga tapi tidak bisa saling meninggalkan. Amerika membutuhkan pasar dan stabilitas manufaktur Cina. Cina membutuhkan akses teknologi dan pasar global yang masih dipengaruhi Amerika. Mereka bersaing keras, tapi sama-sama tahu bahwa dunia terlalu mahal untuk dihancurkan bersama.

A.F.K. Organski (1958) menyebut situasi seperti ini sebagai power transition: fase ketika kekuatan lama mulai menghadapi penantang baru. Dalam sejarah, momen seperti ini biasanya penuh ketegangan. Graham Allison (2017) bahkan mengingatkan tentang Thucydides Trap, ketika negara lama dan negara baru sama-sama takut kehilangan posisi sehingga dunia bergerak menuju konflik besar.

Tapi yang paling menarik hari ini bukan hanya ancaman konfliknya. Yang menarik justru perubahan nadanya. Amerika tidak lagi berbicara dengan suara absolut seperti era pasca-Perang Dingin. Bahasa diplomasi Washington kini lebih hati-hati, lebih realistis, dan lebih penuh kompromi. Pendek kata, polisi dunia itu tampaknya mulai sadar bahwa dunia tidak lagi otomatis patuh hanya karena peluit ditiup.

Berita Terkait :  Program Double Track SMA Negeri 1 Banyuputih

Amerika tentu belum runtuh. Terlalu dini menyimpulkan itu. Militernya masih terbesar. Pengaruh ekonominya tetap luar biasa. Tapi dunia kini tidak lagi sepenuhnya takut kepada Washington. Dan dalam sejarah politik internasional, hilangnya rasa takut sering kali menjadi tanda pertama bahwa zaman sedang berubah.

Karena itu, perjalanan Trump ke Beijing bukan sekadar kunjungan kenegaraan biasa. Ia adalah simbol sebuah dunia baru: dunia yang tidak lagi tunduk pada satu pusat kekuasaan tunggal. Dan mungkin, di situlah ironi paling pahit bagi Amerika. Setelah terlalu lama sibuk mengatur dunia, kini Washington sendiri harus belajar hidup di dunia yang tidak lagi bisa diaturnya sendirian.

  • Dr. Hendrizal, S.IP., M.Pd. adalah Dosen pascasarjana bidangPPKnProdi S2 Pendidikan Dasar-PGSD FKIP Universitas Bung Hatta (UBH) Padang.

————– *** ——————

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!