29.6 C
Sidoarjo
Wednesday, May 20, 2026
spot_img

Mengunjungi Monumen dan Museum dr Soetomo, Ngepeh, Nganjuk


Membakar Kembali “Roh” Pergerakan Dr Soetomo untuk Swasembada Pangan di Era Prabowo
Oleh:
Endro Budi S, Kabupaten Nganjuk

Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) yang kita peringati setiap tanggal 20 Mei sering kali terjebak dalam romantisme sejarah ruang kelas: kisah anak-anak muda STOVIA yang berkumpul di Jakarta.

Bhirawa menyenpatkan diri mengunjungi Museum dan Monumen Dr. Soetomo di Ngepeh, Loceret Nganjuk , tempat lahir Dr. Soetomo mencoba membuka kembali rekam jejak sosialnya..

Prasati di Monumen dr Soetomo, terukir kata
“Di sana harus ditunjukkan keberanian, keperwiraan dan kesatriaan kita… Marilah kita bekerja di sana, di tanah tumpah darah kita.” Hari ini, kerja nyata itu ada di hamparan sawah-sawah kita”.

dari sini , kita akan menemukan bahwa esensi kebangkitan yang beliau perjuangkan sangat membumi, salah satunya adalah kedaulatan ekonomi dan perut rakyat.

Mengapa, ternyata Soetomo bukan hanya diplomat meja bundar, ia adalah pencetus organisasi Rukun Tani dan penggerak ekonomi kerakyatan. Baginya kemerdekaan sejati tidak akan pernah tercapai jika bangsa ini masih bergantung pada belas kasihan pangan bangsa lain.

Hari ini, di tahun 2026, di bawah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto yang menempatkan Swasembada Pangan sebagai pilar utama Astacita, roh pergerakan dr. Soetomo menemukan relevansi tertingginya. Kebangkitan nasional hari ini tidak lagi diukur dari angkat senjata, melainkan dari kemampuan kita menegakkan kedaulatan di atas tanah dan sawah kita sendiri.

Berita Terkait :  Pemkot Surabaya Tegaskan Balai Pemuda Tetap Terbuka, Penataan Dilakukan untuk Perjelas Regulasi

Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto secara agresif mendorong cetak sawah baru, digitalisasi pertanian, dan penguatan posisi nilai tawar petani. Upaya ini bukan sekadar program teknokratis, melainkan sebuah perjuangan geopolitik. Di tengah ketidakpastian global dan krisis iklim, pangan adalah pertahanan negara yang paling utama.

Namun, mengaca pada kritik sejarah dan tulisan Prof. Paul W. van der Veur mengenai dr. Soetomo, yang naskahnya ada di Musem dr Soetomo,, sebuah pergerakan besar hanya akan berhasil jika ia digerakkan dari bawah secara kolektif, bukan sekadar instruksi dari atas.

Ada tiga refleksi mendasar yang bisa kita petik dari pemikiran Dr. Soetomo untuk menyukseskan swasembada pangan hari ini:

Pertama ,menghidupkan Kembali “Rukun Tani” Modern (Korporasi Petani). Soetomo mendirikan Rukun Tani untuk melepaskan petani dari jerat ketergantungan. Di era modern ini, swasembada pangan tidak akan tercapai jika petani kita berjalan sendiri-sendiri dengan lahan yang makin menyusut (petani gurem).

Refleksi: Program lumbung pangan (food estate) atau intensifikasi pertanian era Prabowo harus berbasis pada penguatan kelembagaan petani lokal. Petani harus dikonsolidasikan ke dalam kelompok atau korporasi tani modern agar memiliki posisi tawar terhadap pasar, akses teknologi, dan permodalan.

Kedua , Kritik Konstruktif atas Infrastruktur Pangan. Dalam catatan sejarah, dr. Soetomo adalah figur yang sangat terbuka terhadap kritik demi perbaikan bangsa. Beliau menghadapi kritik dari Muso hingga majalah Panggugah Rakyat dengan kepala dingin.

Berita Terkait :  Lindungi Kelompok Rentan dan Entas Kemiskinan, Gubernur Salurkan Bansos Rp12,9 Miliar di Bondowoso

Refleksi: Dalam mengejar target swasembada, pemerintah harus membuka ruang bagi kritik konstruktif di lapangan. Sebagai contoh konkret di daerah seperti Nganjuk, keberadaan mega proyek seperti Bendungan Semantok harus dipastikan benar-benar mengalir sampai ke sawah-sawah ujung (functional delivery), bukan sekadar selesai secara seremonial. Swasembada pangan membutuhkan sinkronisasi antara cetak sawah, kesiapan irigasi, dan distribusi pupuk yang tepat sasaran.

Ke tiga, Kemandirian Berdikari: Keluar dari Jebakan Impor,esensi dari Boedi Oetomo dan pergerakan nasional adalah kemandirian. Impor pangan yang masif adalah bentuk “penjajahan gaya baru” yang meruntuhkan mentalitas produktif bangsa.

Refleksi: Target swasembada pangan era Prabowo harus diletakkan sebagai momentum pembuktian harga diri bangsa. Kita harus bangkit dari mentalitas instan penikmat impor menuju bangsa produsen. Ini melibatkan regenerasi petani-mengajak anak-anak muda modern untuk melihat sektor pertanian sebagai sektor yang terhormat dan menjanjikan lewat mekanisasi dan pertanian pintar (smart farming).

Catatan Akhir dari Tanah Ngepeh
Menulis refleksi Harkitnas dari bumi Anjuk Ladang (tanah kemenangan) membawa kita pada satu kesimpulan: Dr. Soetomo telah meletakkan fondasi bahwa pergerakan nasional harus berdampak langsung pada kesejahteraan sosial.

Swasembada pangan di era Prabowo Subianto adalah ujian kebangkitan nasional kita yang sesungguhnya di abad ke-21. Jika 118 tahun lalu Boedi Oetomo berhasil mengonsolidasikan belasan ribu orang untuk bangkit melawan keterpurukan politik, maka hari ini, seluruh elemen bangsa-dari pembuHarkitnas 2026: Membakar Kembali “Roh” Pergerakan Dr. Soetomo untuk Swasembada Pangan Era Prabowo.

Berita Terkait :  Pendakian Gunung Semeru Resmi Ditutup Usai Status Naik ke Level IV (Awas)

Selamat Hari Kebangkitan Nasional. [end.gat]

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!