Penggunaan alat dan mesin pertanian (Alsintan) moderen, menandai dukungan riil tekad swasembada pangan. Presiden Prabowo Subianto merayakan panen jagung di desa Tuwiri Wetan, kabupaten Tuban, Jawa Timur. Areal binaan Polri. Bagai nostalgia yang dilakukan Presiden Soeharto, 4 dekade silam, sering mengikuti panen raya. Sekaligus berdialog dengan petani. Presiden Prabowo, menyetir mobil combine harvester, membabat tanaman jagung yang tumbuh subur.
Panen raya jagung menggunakan Alsintan moderen. Jagung bukan dipetik dengan tangan. Melainkan dengan mobil combine harvester, tebang batang sekaligus petik tongkol jagung. Rakyat senang diperkenalkan dengan Alsintan. Selanjutnya menggunakan corn sheller untuk memipil jagung, kapasitas 1 ton per-jam. Jika dilakukan secara tradisional, dipipil dengan tangan, butuh waktu 10 jam. Tinggal dimasukkan mesin pengering (dryer). Sehingga proses panen lebih effisien. Mengurangi faktor kehilangan sampai 22%.
Panen raya jagung di Tuban, dilakukan pada areal seluas 101,5 hektar, pemanfaatan program Perhutanan Sosial. Lahan telah dikerjasamakan dengan petani, dengan hak garap selama 30 tahun. Terdapat empat kelompok pengelola. Yakni Kelompok Tani Hutan (KTH) Wonolestari, LMDH Jenggolomanik, LMDH Wonomoyo, dan lahan PT Semen Indonesia. Panen raya juga diikuti di luar area hutan oleh kelompok tani (Poktan) Ngudi Makmur, pada areal seluas 631,7 hektar, dengan 750 penggarap.
Sebagai areal binaan, Poktan dan KTH memperoleh fasilitasi. Terutama pupuk yang mudah (dan murah, bersubsidi), dan KUR (Kredit Usaha Rakyat). Selama dua kali musim tanam, berjalan lancar. Namun masih diperlukan sistem pengairan dengan menggunakan pompa, campuran ukuran sedang, dan besar. Karena hampir seluruh areal di kabupaten Tuban tergolong tadah hujan. Bahkan tanahnya, sebagian (30%) tergolong padas, terdiri batuan kapur.
Penggunaan alsintan sebagai modernisasi sarana pertanian tergolong tidak mudah. Terutama disebabkan harga yang mahal. Misalnya, combine harvester mencapai Rp 450 juta. Sehingga pada era Presiden Jokowi, digagas pemilikan oleh kelompok tani secara kredit. Sedangkan alat-nya bisa disewakan ke kelompok tani tetangga. Seperti taksi. Bahkan patut dimulai adanya BUMN alsintan. Terutama oleh PT Boma Bisma Indra, dan PT Pindad. Selama ini, alsintan masih di-impor dari China.
Alsintan menjadi konsekuensi logis tekad swasembada pangan. Serasa percaya tak percaya, Presiden Prabowo dengan keyakinan yang mantap, menyatakan, “Bismillah, pada 7 Januari 2026, saya Presiden Prabowo Subianto, mengumumkan telah tercapainya swasembada pangan bagi rakyat Indonesia.” Diperlukan upaya sistemik ke-pertani-an, termasuk modernisasi alat dan mesin pertanian (alsintan). Sebelumnya Presiden memerintahkan menggunakan metode kearifan tradisional “Lumbung Pangan” dimulai dari tingkat desa.
Presiden Prabowo Subianto, menyatakan tekad swasembada jagung, sejak Juni 2025. Dalam pidato di St Petersburg International Economic Forum (SPIEF), Rusia. Berdasar catatan BPS (Badan Pusat Statistik), produksi jagung dalam negeri tahun 2025, mencapai 16,55 juta ton. Sudah melebihi kebutuhan nasional sebesar 15,65 juta ton. Bahkan setiap kabupaten dan kota bisa swasembada pangan. Bukan sekadar beras, melainkan diversi (berbagai jenis) bahan pangan khas daerah.
Instruksi diberikan kepada jajaran Kementerian Pangan, dan jajaran terkait untuk mencapai swasembada pangan. Bahkan sekarang, swassembada pangan ditopang oleh TNI dan Polri. TNI AD, ditugaskan mengelola produksi pertanian beras, jagung, dan palawija. Sedangkan TNI AL, fokus pada pengembangan dan peningkatan produksi kedelai. Pangan akan menjadi transformaso Satua Militer, dengan pembentukan Batalyon Teritorial Pembangunan.
Empat dekade silam, Presiden RI ke-2, pak Harto, juga mengikuti panen raya. Berpuncak pada penerimaan medali (Ceres Medal), oleh Badan Pangan Dunia, tahun 1985. Tidak mudah mempertahankan.
——— 000 ———


