Sebagai salah satu hari besar yang dinantikan umat Islam, Iduladha (sering juga ditulis Idul Adha) selalu membawa getaran spiritual yang mendalam. Momen ini bukan sekadar rutinitas tahunan untuk menyembelih dan membagikan daging hewan kurban. Di balik setiap prosesi tersebut, tersimpan nilai-nilai luhur kemanusiaan yang sangat relevan untuk terus kita renungkan, terutama dalam konteks kehidupan bermasyarakat saat ini.
Esensi utama dari perayaan ini adalah meneladani totalitas ketaatan dan keikhlasan Nabi Ibrahim AS bersama putranya, Nabi Ismail AS. Ketika dihadapkan pada perintah yang sangat berat, keduanya membuktikan bahwa kecintaan kepada Sang Pencipta harus berada di atas segala-galanya. Namun, hikmah terbesar yang bisa kita petik bukanlah sekadar tentang perintah pengorbanan fisik, melainkan bagaimana kita mengaplikasikan semangat “berkurban” itu sendiri ke dalam realitas kehidupan sehari-hari.
Saat ini, di tengah berbagai dinamika dan tantangan zaman, semangat pengorbanan tersebut bisa kita manifestasikan dalam berbagai bentuk yang lebih luas. Berkorban waktu untuk merawat orang tua, berkorban tenaga untuk membantu tetangga yang sedang kesulitan, hingga berkorban ego untuk menjaga keharmonisan keluarga dan lingkungan sosial. Iduladha mengajarkan kita bahwa pengorbanan yang tulus akan selalu membuahkan hasil yang manis, sebagaimana Allah SWT mengganti pengorbanan Nabi Ismail dengan seekor hewan sembelihan yang agung.
Di lingkungan kita saat ini, semangat berbagi ini sangat dibutuhkan. Banyak saudara kita di luar sana yang mungkin jarang menikmati makanan bergizi seperti daging. Kehadiran daging kurban bukan hanya sekadar pemenuhan kebutuhan jasmani, tetapi juga menjadi bukti nyata bahwa mereka tidak sendirian. Ada kepedulian dari masyarakat sekitarnya.
Oleh karena itu, marilah kita jadikan momentum Iduladha sebagai titik tolak untuk mengevaluasi diri. Sudahkah kita menjadi pribadi yang lebih ikhlas? Sudahkah harta dan tenaga yang kita miliki memberikan manfaat bagi sesama? Jangan sampai ibadah kurban yang kita lakukan hanya menggugurkan kewajiban ritual semata, tanpa membekas pada peningkatan kualitas kepedulian sosial kita kepada lingkungan sekitar.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Fatoni
Warga Keputih, Surabaya


