29.4 C
Sidoarjo
Tuesday, May 12, 2026
spot_img

Waspada Hantavirus

Oleh :
Oryz Setiawan
Alumni Fakultas Kesehatan Masyarakat (Public Health) Unair Surabaya

Ancaman sejumlah penyakit terutama jenis virus kian terus mengintai dari tahun ke tahun seiring dengan perubahan global dan mobilitas penduduk yang kian tinggi yang berpotensi menyebarkan sumber penyakit baru secara cepat. Sebenarnya kasus ini sudah terjadi pada Mei 2026, dilaporkan kasus suspek hantavirus di Jakarta dan Yogyakarta dengan tingkat kematian atau case fatality rate (CFR) mencapai 13 persen. Berdasarkan data Kemenkes, dari total 251 kasus suspek yang diperiksa, sebanyak 23 kasus dinyatakan positif. Dari jumlah tersebut, 20 pasien dinyatakan sembuh, sementara tiga lainnya meninggal dunia, sehingga terjadi tren kasus menunjukkan peningkatan signifikan terjadi pada 2025 dengan total 17 kasus terkonfirmasi. Sementara pada 2024 tercatat satu kasus dan pada 2026 sejauh ini terdapat lima kasus. Walaupun jumlah kasusnya belum besar, tingkat fatalitas yang mencapai 13 persen tidak boleh dianggap ringan. Pemerintah harus bergerak cepat memperkuat deteksi dini, surveillance, dan edukasi kesehatan masyarakat.

Apa itu hantavirus
Hantavirus adalah kelompok virus serius yang ditularkan dari hewan pengerat (tikus) ke manusia. Meski mirip dengan leptospirosis yang sama ditularkan melalui perantara tikus, namun leptospirosis lebih menular melalui kontak langsung dengan urine tikus atau air atau tanah yang terkontaminasi urine tikus, terutama melalui luka terbuka di kulit atau selaput lendir (mata, hidung, mulut), sering terjadi saat banjir. Sedangkan hantavirus ditularkan melalui jenis virus dari keluarga Hantaviridae yang menular melalui menghirup (inhalasi) debu yang terkontaminasi urine, kotoran, atau air liur tikus yang mengering. Dalam kondisi tertentu penyakit zoonosis ini menyebabkan infeksi saluran pernapasan parah (Hantavirus Pulmonary Syndrome/HPS) atau gangguan ginjal (Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome/HFRS) yang dapat berakhir dengan kematian. Penyebab dan penularan dibawa oleh urine, kotoran, atau air liur tikus. Sedangkan manusia tertular melalui menghirup partikel virus yang terbawa udara dari kotoran tersebut dengan gejala: awalnya mirip flu (demam, sakit kepala, otot kaku), namun berkembang cepat menjadi sesak napas berat dan masalah kardiovaskular. Upaya pencegahan adalah menghindari kontak dengan hewan pengerat dan menjaga kebersihan lingkungan dari sarang tikus. Secara karakteristik hantavirus tidak menyebar dari manusia ke manusia seperti influenza dan terkadang tidak menimbulkan wabah besar yang langsung, namun justru menjadi lebih berbahaya, silent threat yang bergerak perlahan di balik bayangan lingkungan kita sendiri dan lebih mengkhawatirkan adalah Indonesia bukanlah wilayah bebas hantavirus.

Berita Terkait :  Jaga Stabilitas Nasional, Satsamapta Berkolaborasi Bersama SMAN 1 Panji

Ancaman Tak Terlihat
Banyak orang mengira hantavirus adalah penyakit langka dari luar negeri. Padahal, penelitian menunjukkan bahwa virus ini telah lama ada di Indonesia, bahkan sejak tahun 1980-an. Studi komprehensif yang dilakukan di berbagai kota besar menemukan bahwa seroprevalensi hantavirus pada manusia di Indonesia mencapai sekitar 11,6 persen. Artinya, dari setiap 10 orang, setidaknya satu pernah terpapar virus ini, meskipun mungkin tidak pernah terdiagnosis. Terlebih jumlah populasi tikus sebagai reservoir utama, angka infeksi bahkan bisa mencapai 0-34 persen. Ini menunjukkan bahwa virus tersebut beredar aktif di lingkungan, terutama di wilayah dengan kepadatan rodensia tinggi. Kasus hantavirus dapat disebut sebagai zoonosis emerging, penyakit baru yang muncul dan berpotensi berkembang menjadi ancaman kesehatan masyarakat. Masalahnya bukan sekadar ada atau tidaknya virus ini. Masalah utamanya adalah kita sering tidak menyadari keberadaannya, ini yang berbahaya dalam perspektif keilmuan kesehatan masyarakat.

Ada tiga alasan utama mengapa hantavirus perlu menjadi perhatian serius. Pertama, sifatnya yang underdiagnosed dan underrated atau suatu kondisi ketika sebuah penyakit atau gangguan kesehatan tidak terdeteksi, tidak terdiagnosis, atau dianggap ringan padahal sebenarnya serius dan memerlukan penanganan medis. Situasi ini berbahaya karena bisa menunda pengobatan yang tepat, menyebabkan komplikasi fatal, dan sering terjadi akibat self-diagnosis. Di banyak kasus tidak terdeteksi karena gejalanya mirip penyakit lain. Kedua, reservoir melimpah dimana memiliki habitat alami dapat berupa manusia, hewan, tumbuhan, tanah, atau zat organik, tempat agen infeksius (bakteri, virus, parasit) hidup, tumbuh, dan berkembang biak serta di Indonesia memiliki setidaknya 15 spesies tikus yang terkonfirmasi membawa virus. Ketiga, secara epidemiologi terdapat potensi case fatal rate tinggi. CFR dapat mencapai puluhan persen pada kasus berat. Di era pasca pandemi, dunia belajar satu hal penting adalah ancaman kesehatan tidak selalu datang dari yang terlihat besar, tetapi justru dari yang diabaikan. Hantavirus adalah salah satunya, dan seperti banyak ancaman kesehatan lain, ia memberi kita pilihan : bertindak sekarang atau menunggu sampai terlambat.

Berita Terkait :  Gubernur Khofifah Optimis Jatim jadi Gudang Talenta di Indonesia

————- *** ————–

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!