32.6 C
Sidoarjo
Monday, May 11, 2026
spot_img

Saat Gayamu Jadi Beban Bumi dan Bagaimana Kainku Memberi Solusi


Oleh :
Wisnu Rama Ardana
Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya

Fenomena “lapar mata” saat melihat diskon outfit di aplikasi belanja online sudah menjadi pemandangan sehari-hari. Membeli baju baru memang mudah dan menyenangkan, tapi sayangnya, banyak dari kita yang hanya semangat saat membeli namun abai ketika pakaian tersebut sudah tidak terpakai. Alhasil, lemari penuh sesak, dan ujung-ujungnya pakaian bekas tersebut hanya berakhir di tempat sampah, menumpuk menjadi limbah tekstil yang sulit terurai. Dunia fesyen saat ini bergerak secepat jempol kita melakukan scrolling di layar ponsel. Di tengah gempuran tren yang silih berganti setiap minggunya, masyarakat urban termasuk di Surabaya, terjebak dalam siklus konsumerisme yang masif. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), total transaksi e-commerce pada triwulan III 2025 tumbuh 6,19 persen dibandingkan triwulan sebelumnya. Kenaikan tersebut mencerminkan semakin bergairahnya aktivitas perdagangan online di berbagai daerah, termasuk Kota Surabaya yang menjadi salah satu pusat transaksi digital di Jawa Timur.

Membeli pakaian baru bukan lagi sekadar kebutuhan untuk melindungi tubuh, melainkan sudah menjadi gaya hidup, pelampiasan stres, atau sekadar memenuhi ambisi konten media sosial agar selalu terlihat berbeda dalam setiap unggahan. Namun, di balik kemudahan menekan tombol “Checkout” dan kemudian plastik bekas paket kiriman kurir menumpuk, disitulah tersimpan sebuah ancaman nyata yang sering kali kita abaikan begitu saja. Fenomena ini melahirkan kelompok masyarakat yang sangat mahir dalam berbelanja outfit terkini, namun mendadak buta dan tuli saat pakaian-pakaian mereka sudah mulai pudar warnanya, sedikit robek, atau sekadar tidak lagi dianggap keren. Mereka adalah konsumen yang hanya mau menikmati estetika tetapi enggan memikul tanggung jawab atas sisa konsumsinya.

Realita pahitnya adalah pakaian yang kita anggap murah dan mudah dibuang itu memiliki dampak ekologis yang sangat mahal harganya. Banyak orang mengira bahwa membuang baju bekas ke tempat sampah adalah akhir dari segalanya, padahal itu justru awal dari bencana lingkungan yang lebih besar. Serat kain sintetis seperti polyester dan nilon sebenarnya adalah plastik dalam bentuk lain. Ketika pakaian-pakaian ini berakhir di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Benowo, mereka tidak akan hancur dalam waktu satu atau dua tahun. Butuh puluhan hingga ratusan tahun bagi serat-serat tersebut untuk terurai.. dan dalam prosesnya, mereka melepaskan gas metana yang memperburuk pemanasan global serta mikroplastik yang mencemari air tanah kita. Sikap abai terhadap sampah kain ini mencerminkan mentalitas SAMPAH “buang dan lupakan” yang sangat berbahaya.

Berita Terkait :  Koalisi "Plus Minus"

Menyadari urgensi masalah limbah tekstil ini, Bank Sampah Induk Surabaya hadir sebagai garda terdepan dalam pengelolaan sampah kota yang lebih modern dan sirkular. BSIS bukan sekadar tempat mengumpulkan botol plastik atau kertas bekas, melainkan sebuah tempat yang terus berinovasi untuk menangani berbagai jenis limbah yang dihasilkan oleh warga kota. Salah satu terobosan yang patut menjadi sorotan adalah layanan bernama Kainku. Layanan ini lahir dari keprihatinan atas tingginya volume sampah kain yang masuk ke sistem pembuangan kota tanpa ada proses pengolahan yang memadai. Melalui Kainku, BSIS berupaya memberikan kesempatan kedua bagi pakaian-pakaian bekas dan sisa potongan kain jahitan yang biasanya hanya berakhir di tempat pembakaran sampah atau menyumbat saluran air di permukiman padat penduduk.

Layanan Kainku bekerja dengan prinsip yang sangat sederhana namun berdampak luar biasa, Masyarakat diajak untuk tidak lagi mencampur sampah kain dengan sampah organik atau sampah rumah tangga lainnya. Kain-kain yang disetorkan ke BSIS melalui program Kainku akan dipilah berdasarkan jenis material dan kondisinya. Untuk kain-kain yang sudah tidak layak pakai, robek, atau berupa potongan sisa (perca), BSIS melakukan proses upcycling atau daur ulang kreatif dengan membayar 10 ribu/ Kg. Limbah yang tadinya dianggap kotor dan tidak bernilai diubah menjadi barang-barang fungsional seperti keset berkualitas, tas belanja yang kuat, isian bantal, hingga produk kerajinan tangan estetik lainnya yang memiliki nilai ekonomi baru.

Berita Terkait :  Polemik Kebijakan Cleansing Guru Honorer

Pesan utama yang ingin disampaikan oleh layanan Kainku kepada warga Surabaya adalah bahwa tanggung jawab terhadap barang yang kita beli melekat selamanya, bahkan setelah barang tersebut tidak lagi bisa dipakai. Membeli outfit tanpa memikirkan bagaimana cara membuangnya nanti adalah bentuk ketidakpedulian sosial. Kita sering kali merasa bangga bisa tampil modis dengan harga murah, namun kita jarang bertanya pada diri sendiri.. “Siapa yang harus menanggung beban sampah dari baju ini nanti?”. Jika jawabannya adalah bumi dan generasi mendatang, maka gaya hidup kita saat ini sebenarnya sangatlah egois. Kainku hadir untuk memutus rantai keegoisan tersebut dengan menyediakan wadah bagi mereka yang ingin mulai bertanggung jawab secara nyata terhadap limbah gaya hidupnya.

Selain aspek lingkungan, program Kainku dari Bank Sampah Induk Surabaya juga memiliki misi edukasi yang kuat mengenai konsep ekonomi sirkular. Dalam ekonomi sirkular, tidak ada istilah “sampah” karena setiap material harus diusahakan tetap berada dalam siklus penggunaan selama mungkin. Dengan menyetorkan limbah tekstil ke Kainku, masyarakat diajak untuk berpikir kreatif dan menyadari bahwa bahan baku itu terbatas. Mengolah kembali kain bekas jauh lebih ramah energi dibandingkan harus memproduksi kain baru dari serat perawan yang membutuhkan ribuan liter air dan penggunaan pestisida pada perkebunan kapas. BSIS berupaya menyadarkan kita bahwa setiap helai benang dalam pakaian kita memiliki jejak karbon, dan mengabaikannya begitu saja di tempat sampah adalah bentuk keegoisan diri kita.

Berita Terkait :  In Memoriam Profesor Bustami Rahman (1): Api nan Tak Pernah Padam

Bagi warga Surabaya yang mengaku mencintai kota ini, mendukung layanan seperti Kainku adalah sebuah kewajiban moral. Surabaya sebagai kota metropolitan tentu memiliki tantangan sampah yang sangat kompleks. Jika setiap individu tetap mempertahankan kebiasaan lama yang gampang membeli tapi malas mengelola sampah, maka TPA kita akan penuh lebih cepat dari yang diperkirakan. Melalui Kainku, BSIS memberikan kemudahan akses bagi warga untuk berkontribusi. Prosedurnya pun dibuat mudah agar tidak ada lagi alasan repot atau tidak tahu ke mana harus membuang baju bekas. Dengan menjadi nasabah Bank Sampah Induk Surabaya, warga tidak hanya membantu lingkungan, tetapi juga bisa mendapatkan nilai ekonomi tambahan dari sampah yang mereka setorkan, yang nantinya bisa dikonversi menjadi saldo tabungan.

Marilah kita mulai merenungkan kembali isi lemari pakaian kita masing-masing. Penting untuk diingat bahwa menjadi modis tidak harus berdosa pada alam. Estetika yang sejati adalah ketika penampilan kita selaras dengan kepedulian kita terhadap bumi. Bank Sampah Induk Surabaya melalui layanan Kainku telah membuka pintu lebar-lebar bagi kita semua untuk memperbaiki hubungan kita dengan barang-barang yang kita miliki. Jangan tunggu sampai limbah tekstil memenuhi sungai-sungai kita atau menyebabkan banjir karena saluran air yang tersumbat kain. Mari bertindak sekarang, pilah pakaian bekasmu, dan antarkan ke Bank Sampah Induk Surabaya. Tunjukkan bahwa sebagai masyarakat yang maju dan melek informasi, kita mampu bertanggung jawab atas setiap keputusan belanja yang kita buat. Gaya hidup berkelanjutan bukan lagi sekadar pilihan, melainkan sebuah kebutuhan mendesak demi Surabaya yang lebih bersih dan masa depan yang lebih hijau bagi kita semua. [why]

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!