Oleh :
Oryz Setiawan
Alumni Fakultas Kesehatan Masyarakat (Public Health) Unair Surabaya.
Pemerintah telah mengeluarkan edaran kepada seluruh kementerian, lembaga dan pemerintah daerah untuk memulai gerakan bersepeda ke kantor (Bike to Work/B2) yang mulai digalakkan pada April 2026, termasuk di Kabupaten/Kota di Jawa Timur. Selain sebagai momentum untuk menghemat energi akibat dampak politik global terutama perang di Timur Tengah antara Amerika dan Iran, juga sekaligus mengurangi emisi, dan meningkatkan budaya hidup sehat di lingkungan aparatur negara baik di tingkat pusat maupun daerah.
Meski dalam penerapan sangat kondisional atau kontektual sesuai karakteristik pegawai baik jarak tempuh, kondisi kesehatan hingga sisi geografis-topografis yang berbeda-beda setiap daerah namun semangatnya adalah bagaimana setiap aparatur sipil negara menjadi contoh pertama dan utama dalam penerapan gerakan hidup sehat, hemat dan sederhaan di lingkungan birokrasi di tengah efisiensi ketat energi dan keuangan/ fiskal negara dan daerah. Setidaknya tiga aspek yang mendasari gerakan bersepeda yakni aspek kesehatan dimana dapat meningkatkan kondisi kesehatan dengan anggota badan yang “aktif bergerak ” yang melibatkan otot paha depan, paha belakang, pantat dan betis secara aktif. Aktivitas bersepeda secara rutin terbukti menurunkan risiko penyakit kardiovaskular dan kanker hingga 45-46 persen dibandingkan penggunaan kendaraan bermotor.
Aspek lingkungan dan fiskal yang mendukung penghematan BBM nasional dan mengurangi beban anggaran untuk kendaraan dinas serta aspek membangun etos dan budaya kerja yang dimanifestasikan pada kedisiplinan dan sinergi antarpegawai melalui kegiatan gowes bersama. Dengan kata lain, momentum ini harus dimaknai sebagai upaya pemerintah untuk menjadi birokrasi yang responsif atas setiap situasi dan kondisi tekanan geopolitik global yang berdampak pada perekonomian negara.
Harus diakui bahwa budaya hidup sehat di Indonesia terutama para abdi negara relatif masih tertinggal dari negara-negara lain yang sejak dahulu telah membudayakan hidup sehat dan sederhana sebagai ekosistem budaya berperilaku sehat. Dibutuhkan konsistensi dan berkelanjutan dimulai dengan satu hari dalam seminggu, misalnya setiap hari Jumat. Aspek keamanan dan kenyamanan dengan mematuhi rambu-rambu lalu lintas dan gunakan lajur khusus sepeda jika tersedia serta menjaga kondisi sepeda dalam kondisi prima sebelum digunakan. Selain itu tak kalah penting adalah menggunakan pakaian yang sesuai dan pelindung (helm) untuk keamanan serta teknik ergonomis bersepeda dimana perlu memperhatikan posisi tubuh dan irama kayuhan agar tidak cepat lelah saat tiba di kantor.
Contoh Nyata, Bukan Seremoni
Gerakan bersepeda sejatinya lebih merupakan upaya transformasi budaya kerja ASN. Oleh karena budaya kerja, maka menciptakan pembaharuan nilai, norma, kepercayaan, dan kebiasaan yang dianut bersama oleh semua pihak di organisasi tanpa kecuali sehingga mampu memengaruhi perilaku melalui praktik kepemimpinan, dan kebijakan organisasi atau unit kerja. Kondisi tersebut harus menjadi pedoman bertingkah laku yang terwujud dalam keseharian dalam rangka meningkatkan produktivitas, retensi, dan mencapai tujuan, bukan sekedar aktivitas seremonial yang bersifat sesaat (temporer). Selain itu juga sebagai aksi kolektif, sinergi dan kolaborasi antar pegawai, pimpinan dan stakeholder di dalamnya sehingga mendorong energi baru yang positif dalam membangun semangat kerja dan berkinerja.
Setidaknya terdapat tiga makna utama Gerakan B2W adalah pertama, adanya komitmen bersama dan berkelanjutan. Kegiatan ini diharapkan menjadi rutinitas harian atau mingguan bagi ASN di beberapa daerah dalam rangka untuk mendukung gaya hidup sehat dan penghematan BBM.
Kedua, upaya memasifkan efisiensi dan penghematan di berbagai lini. Di beberapa wilayah lebih dikaitkan dengan upaya efisiensi anggaran pemerintah daerah dan pembatasan penggunaan BBM. Selain itu dapat menekan biaya BBM, parkir, dan perawatan kendaraan bermotor secara signifikan, serta meminimalisir dampak lingkungan yang berkontribusi langsung pada Net Zero Emission dengan mengurangi ketergantungan pada kendaraan bermotor. Ketiga, momentum transformasi budaya dengan menghapus stigma bahwa bersepeda ke kantor hanyalah tren sesaat atau kegiatan akhir pekan, melainkan sebuah solusi transportasi yang nyata bagi pegawai, pekerja maupun masyarakat umum untuk berbagai aktivitas.
Di sisi lain hal tersebut didesain sebagai inisiatif strategis untuk mengintegrasikan aktivitas fisik ke dalam rutinitas harian guna meningkatkan kesehatan, menghemat energi, dan mendukung keberlanjutan lingkungan. Keempat, memberikan aspek manfaat kesehatan nyata. Penelitian menunjukkan bahwa rutin bersepeda ke tempat kerja dapat menurunkan risiko penyakit jantung hingga 46 prosen dan kanker hingga 45 prosen jika dibandingkan menggunakan mobil atau menggunakan kendaraan lainnya yang berbasis fosil.
————– *** —————


