28 C
Sidoarjo
Monday, April 27, 2026
spot_img

Menguatkan Kembali Makna Hidup Bersama di Sekolah

Oleh:
Fathma Anggraita
New civitas PGSD-2026 FIP Universitas Negeri Padang
(UNP)

Kemajuan pendidikan kerap kita ukur dari hal hal yang tampak: angka partisipasi yang meningkat, akses sekolah yang semakin luas, serta penggunaan teknologi yang kian masif di ruang kelas. Namun di balik capaian tersebut, ada satu pertanyaan mendasar yang jarang benar benar kita ajukan: apakah pendidikan kita telah mengajarkan manusia untuk hidup bersama?

Pertanyaan ini penting, bahkan mendesak. Sebab, di tengah dunia yang semakin terhubung, justru muncul gejala yang berlawanan. Polarisasi menguat, intoleransi meningkat, dan ruang publik kian mudah terbelah oleh perbedaan. Dalam situasi seperti ini, pendidikan semestinya hadir sebagai perekat sosial. Namun, dalam banyak hal, fungsi itu belum sepenuhnya berjalan.

Sejak lama, gagasan ini sebenarnya telah ditegaskan. Jacques Delors (1996) menempatkan kemampuan hidup bersama sebagai salah satu pilar utama pendidikan. Pendidikan tidak cukup hanya mengajarkan pengetahuan dan keterampilan, tetapi juga harus membekali manusia dengan kemampuan memahami orang lain, mengelola perbedaan, dan bekerja sama.

Namun, dalam praktiknya, orientasi pendidikan kita masih cenderung bertumpu pada capaian individual. Nilai, peringkat, dan kompetisi menjadi ukuran utama keberhasilan. Peserta didik didorong untuk unggul secara personal, tetapi tidak selalu dibekali kemampuan untuk berinteraksi secara sehat dalam masyarakat yang majemuk. Sekolah menjadi sangat efektif dalam menghasilkan kecerdasan kognitif, tetapi belum optimal dalam membangun kecerdasan sosial.

Data global menunjukkan persoalan ini tidak sederhana. Hingga kini, sekitar 251 juta anak dan remaja di dunia masih berada di luar sekolah. Bahkan dalam hampir satu dekade terakhir, penurunannya berjalan sangat lambat. Di sisi lain, jutaan anak memang berhasil masuk ke sistem pendidikan. Ini menunjukkan bahwa akses membaik, tetapi kualitas dan arah pendidikan masih menjadi tantangan besar.

Berita Terkait :  Ketum PBNU Dipecat

Masalahnya bukan hanya soal siapa yang bersekolah, tetapi apa yang mereka pelajari di dalamnya. Dalam banyak kasus, pendidikan masih berjalan dalam logika yang individualistik. Peserta didik dinilai secara personal, diperingkatkan, dan diarahkan untuk bersaing. Secara tidak langsung, sistem ini membentuk cara pandang bahwa keberhasilan adalah urusan individu, bukan hasil dari kerja bersama. Padahal, kehidupan sosial justru menuntut kemampuan sebaliknya.

Paulo Freire (1970) telah lama mengingatkan bahwa pendidikan tidak pernah netral. Ia bisa menjadi alat pembebasan, tetapi juga bisa memperkuat keterpisahan jika hanya berfokus pada transfer pengetahuan. Ketika pendidikan mengabaikan dimensi sosial, maka ia berisiko melahirkan individu yang cerdas tetapi terputus dari realitas masyarakat.

Indonesia menghadapi tantangan yang lebih kompleks. Keragaman etnis, agama, dan latar sosial merupakan kekayaan sekaligus ujian. Namun dalam praktiknya, pendidikan kita belum sepenuhnya menjadikan keragaman sebagai pengalaman belajar. Banyak peserta didik tumbuh dalam lingkungan yang relatif homogen, sehingga perbedaan lebih sering dipahami sebagai konsep daripada realitas yang dihadapi sehari hari.

Akibatnya, toleransi sering kali berhenti pada tataran wacana. Ia diajarkan sebagai nilai, tetapi tidak dibiasakan sebagai praktik. Padahal, John Dewey (1916) menegaskan bahwa pendidikan adalah proses sosial itu sendiri. Artinya, belajar hidup bersama tidak cukup melalui penjelasan, tetapi harus dialami. Sekolah seharusnya menjadi ruang perjumpaan, tempat peserta didik belajar berinteraksi, bernegosiasi, dan membangun pemahaman bersama.

Berita Terkait :  Pemkab Lamongan Raih Penghargaan Manajemen Kenaikan Pangkat Terbaik II

Dalam konteks yang lebih luas, Jürgen Habermas (1984) menekankan pentingnya komunikasi yang terbuka dan setara dalam kehidupan sosial. Pendidikan, dalam hal ini, perlu menjadi ruang latihan bagi peserta didik untuk berdialog secara rasional dan saling menghargai. Tanpa itu, demokrasi hanya akan berjalan secara prosedural, tetapi miskin substansi.

Namun, realitas di lapangan menunjukkan bahwa ruang dialog dalam pendidikan masih terbatas. Kurikulum yang padat, tekanan akademik yang tinggi, serta beban administratif membuat pembelajaran cenderung satu arah. Guru lebih banyak dituntut untuk menuntaskan materi daripada membangun kualitas interaksi. Proses belajar menjadi efisien secara administratif, tetapi kurang kaya secara sosial.

Di sinilah letak persoalan yang perlu segera dibenahi. Pertama, sistem evaluasi perlu diperluas. Selama keberhasilan pendidikan hanya diukur melalui capaian kognitif, maka dimensi sosial akan terus terpinggirkan. Kemampuan bekerja sama, empati, dan komunikasi perlu menjadi bagian dari indikator keberhasilan.

Kedua, sekolah harus diposisikan sebagai ruang perjumpaan yang nyata. Interaksi lintas perbedaan perlu dirancang secara sadar melalui pembelajaran kolaboratif, diskusi terbuka, dan kegiatan yang melibatkan keberagaman. Keberagaman tidak cukup diakui, tetapi harus diolah sebagai sumber belajar.

Ketiga, peran guru perlu diperkuat. Lev Vygotsky (1978) menegaskan bahwa pembelajaran terjadi melalui interaksi sosial. Artinya, guru tidak hanya berperan sebagai penyampai materi, tetapi juga sebagai fasilitator yang mengelola dinamika sosial di kelas.

Berita Terkait :  FGD Lelang Hak Tanggungan di gelar di Kantor OJK Malang.

Keempat, orientasi pendidikan perlu bergeser dari individu menuju kolektivitas. Pendidikan tidak hanya membentuk manusia yang unggul secara pribadi, tetapi juga manusia yang mampu hidup bersama.

Taruhannya tidak kecil. Kita sering berbicara tentang bonus demografi sebagai peluang besar. Namun tanpa kemampuan hidup bersama, peluang itu bisa berubah menjadi beban sosial. Generasi yang cerdas tetapi tidak mampu bekerja sama berpotensi memperbesar konflik dan memperlemah kohesi sosial.

Sebaliknya, generasi yang memiliki kemampuan hidup bersama akan menjadi fondasi bagi masyarakat yang inklusif, stabil, dan produktif. Mereka tidak hanya mampu bersaing, tetapi juga mampu berkolaborasi. Mereka tidak hanya berpikir untuk diri sendiri, tetapi juga untuk kepentingan bersama.

Pada akhirnya, pendidikan tidak hanya tentang mencerdaskan kehidupan bangsa, tetapi juga tentang menata cara hidup bersama di dalamnya. Dan kehidupan bersama tidak pernah terjadi dengan sendirinya. Ia harus diajarkan, dilatih, dan dibiasakan.

Di situlah makna learning to live together. Ia bukan sekadar salah satu tujuan pendidikan, melainkan inti dari seluruh proses pendidikan. Tanpa itu, pendidikan mungkin berhasil melahirkan individu yang pintar, tetapi gagal membangun masyarakat yang utuh.

————– *** —————

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru