28 C
Sidoarjo
Monday, April 27, 2026
spot_img

Rupiah Rekor Teburuk

Nilai mata uang Indonesia, Rupiah, merosot paling buruk sepanjangan sejarah Keuangan. Dalam sepekan ke-empat April, rupiah tidak mampu bangkit ke level Rp 17.200-an. Kondisinya lebih parah dibanding krisis ekonomi (berujung krisis politk) nasional tahun 1998. Segenap pejabat tidak bisa lagi menyatakan “ekonomi Indonesia baik-baik saja.” Realita harus diakui. Karena beban utang luar negeri pemerintah dan swasta meningkat drastis akibat depresiasi rupiah.

Tim Kementerian Ekonomi wajib segera me-mitigasi program yang “merong-rong” perekonomian negara. Program yang “meromg-rong,” antara lain, Makan Bergizi Gratis (MBG) yang telah memperoleh kritisi sangat luas, dan mendalam. Juga gaji anggota DPR-RI, serta gaji (dan tantiem) jajaran Direksi dan Komisaris BUMN. Realitanya, Fitch Ratings (Lembaga pemeringkat kredit), menurunkan outlook (prospek) empat BUMN perbankan nasional.

Penurunan outlook, berarti surat utang Indonesia lebih berisiko. Total utang luar negeri negara per-Pebruari 2026, sebesar US$215,9 milyar. Sedang utang swasta sebesar US$190,7 milyar. Kini utang dalam rupiah niscaya bertambah besar. Utang jatuh tempo ditaksir mencapai Rp833,96 trilyun. Tertinggi dalam Sejarah! Sebenarnya beberapa analisis telah “me-warning” bakal terjadi kemerosotan ekonomi di Indonesia. Salah satunya dinyatakan oleh Moody’s Investor Service. Menurunkan peringkat (risiko) kredit Indonesia, dari level stabil menjadi negatif.

Sampai Presiden Prabowo Subianto meminta jajaran Kementerian Ekonomi menggelar sarasehan ekonomi bertajuk “Indonesia Economic Outlook.” Tapi tak mempan, karena disusul penurunan peringkat oleh MSCI (Morgan Stanley Capital International). Bahkan MSCI sampai membekukan saham-saham Indonesia dari portofolio miliknya.

Berita Terkait :  Mendadak Puluhan Anggota Polres Sampang Dites Urine

MSCI merupakan industri manajemen aset (dengan membuat indeks dan pemeringkat). Salahsatu yang terbesar di dunia, meliputi saham senilai US$ 139 trilyun. Sehingga keputusannya sangat berpengaruh terhadap negara-negara di seluruh dunia. MSCI menyorot transparansi dan akurasi data free float (jumlah saham yang tersedia untuk publik) di bursa Indonesia. Sering disebut sebagai “gorengan” untuk me-markup harga saham.

Efek negasi MSCI, berbuntut mundurnya Dirut BEI. Diikuti lima komisioner dan pejabat utama OJK (Otoritas Jasa Keuangan). Maka lengkap sudah, tiga pemeringkat di dunia. Bahkan bulan Ramadhan yang biasa menjadi “dewa penolong” perekonomian, tak mampu mengentas nilai rupiah. Tetap bergerak melebihi angka Rp 17 ribu per-US$. Di dalam bulan Ramadhan terdapat THR pegawai negeri, BUMN, BUMD, dan kalangan swasta diperkirakan sebesar Rp 250 trilyun.

Begitu pula nilai total belanja konsumsi rumahtangga selama Ramadhan (sebagai bulan puncak belanja tahunan cukup fantastis. Diperkirakan mencapai Rp 1.188,- trilyun. Seluruhnya dibutuhkan dalam mata uang rupiah. Bank Indonesia (BI) juga melayani penukaran pecahan di bawah Rp 50 ribu. Selama Ramadhan 2026 nilai penukaran sebesar Rp 185,6 trilyun.

Dampak penurunan nilai rupiah, wajib dimitigasi. Karena terdapat “sertaan” kondisi geopolitik global. Terutama protes Tiongkok terhadap Letter of Intent (LoI), bisa mempengaruhi Piagam ASEAN dan Perjanjian Persahabatan dan Kerjasama kawasan. Walau LoI berkait izin lintas udara untuk pesawat AS, tidak tercantum dalam Major Defense Cooperation Partnership (MDCP). Kekhawatiran Tiongkok bisa menghambat investasi ke Indonesia. Realisasi investasi Tiongkok selama kuartal I 2026 mencapai US$2,2 milyar.

Berita Terkait :  Tingkatkan Pemahaman dan Pencegahan TBC, Pemkot Mojokerto Gelar Radiasi Pemula

Pemerintah memikul tanggungjawab men-stabil-kan nilai rupiah, berdasar UU Nomor 7 Tahun 2011 Tentang Mata Uang. Juga UU Nomor 4 Tahun 2023 Tentang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan. Tidak cukup hanya dibebankan kepada BI, dan Menteri Keuangan. Melainkan partisipasi seluruh Kementerian. Masih banyak kebutuhan masyarakat bergantung pada impor (dan kurs rupiah). Terutama bahan pangan susu, daging, dan kedelai.

——— 000 ———

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru