Sampang, Bhirawa
Kasus campak di Kabupaten Sampang telah mencapai 90 kasus pada awal tahun 2026. Temuan Dinas Kesehatan dan Keluarga Berencana (Dinkes KB) Kabupaten Sampang mulai khawatir lonjakan kasus campak, dipicu lantaran cakupan vaksinasi masih tergolong rendah.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes KB Sampang, Samsul Hidayat, melalui Ketua Tim Surveilans dan Imunisasi, Laili Nafilah, menyampaikan bahwa sejauh ini tingkat kesadaran masyarakat terhadap vaksinasi masih rendah.
“Sebelum Covid-19, Sampang ini memang cakupannya sangat rendah. Ditambah lagi saat Covid-19, memang tidak ada kegiatan imunisasi sama sekali. Di situlah cakupan imunisasinya sangat rendah,” katanya, Senin, (13/4/ 26).
Meski demikian, pihak Dinkes Sampang terus berupaya meningkatkan promosi kesehatan, baik melalui jejaring media sosial (medsos) maupun secara langsung oleh para tenaga kesehatan (nakes). “Kami memasang dan menyebarkan video serta brosur hingga poster. Bahkan kami menyarankan dan mewajibkan semua petugas kesehatan agar beberapa ulasan atau video informasi dan edukasi dijadikan status dan dimasukkan ke media sosial masing-masing,” terangnya.
Menurutnya, sejumlah video informasi yang telah dibagikan kepada petugas kesehatan berisi edukasi tentang campak, termasuk tanda dan gejala penyakit tersebut. “Kami mewajibkan teman-teman membuat status mengenai campak, agar masyarakat yang belum tahu nantinya menjadi tahu,” ujarnya.
Di sisi lain, dalam upaya meningkatkan cakupan vaksinasi, pihaknya berencana berkolaborasi dengan tokoh agama melalui Kementerian Agama (Kemenag). “Ini masih rencana. Kami akan meminta bantuan dengan bersurat ke Kemenag, Bupati, dan Wakil Bupati agar dapat membuat video edukasi sehingga masyarakat mau melakukan imunisasi, serta menumbuhkan kepercayaan bahwa imunisasi atau vaksinasi itu aman,” harapnya.
Menurutnya, untuk mencegah berbagai penyakit seperti polio, difteri, hingga campak, masyarakat harus melakukan vaksinasi. “Misalnya ada penyakit yang bisa dicegah dengan imunisasi seperti difteri, yaitu penyakit yang menyebabkan kesulitan menelan karena adanya bercak putih di dalam tenggorokan. Jika pecah, racunnya akan menyebar ke seluruh tubuh dan tingkat kematiannya tinggi.
Sementara pelayanan imunisasi bisa dilakukan di berbagai fasilitas kesehatan, baik di posyandu, puskesmas, rumah sakit, maupun klinik. Untuk campak ini menggunakan vaksin MR,” tegasnya.[lis.ca]


