31.2 C
Sidoarjo
Friday, May 8, 2026
spot_img

Tekan Biaya Penggunaan Listrik

Bahtiar Santoso
Tahun 2026 ini, merupakan tahun yang identik dengan mengencangkan ikat pinggang. Betapa tidak, selain dicanangkan sebagai tahun efisiensi, tahun 2026 juga momen bagi tiap warga dan juga PNS untuk irit dalam menggunakan anggaran yang dimiliki.

Pun demikian yang dilakukan Bahtiar Santoso, Kepala UPT BLK Kabupaten Situbondo, sejak awal tahun 2026 berkomitmen mengikuti arahan pimpinan Pemprov Jatim untuk piawai berhemat.

“Tak hanya hemat anggaran, kami juga harus menekan biaya penggunaan listrik,” terang mantan Kepala UPT BLK Kabupaten Sumenep, Madura itu.

Masih kata Bahtiar Santoso, upaya tersebut terus dilakukan agar anggaran penggunaan listrik di UPT BLK Situbondo tercukupi selama satu tahun kedepan. Caranya, sebut pria asli Jember itu, mematikan lampu dan AC yang tidak digunakan.

Tak hanya itu, urai Bahtiar Santoso, sejumlah titik lampu diberbagai kawasan ikut dicopot untuk mengurangi beban biaya listrik. Meski UPT BLK Situbondo banyak menggunakan mesin besar, upaya efisiensi penggunaan biaya listrik optimis terwujud.

“Ya, lampu lampu itu kami copot, karena penerangannya dirasa sudah cukup. Artinya, lampu itu tidak kami pasang dahulu, agar biaya beban pembayaran listrik bisa mencukupi dalam setahun. Meski anggaran listrik cukup, tetapi kami terus menekan sekecil mungkin penggunaannya,” ungkap mantan PLT Kepala UPT BLK Kabupaten Jember itu.

Berapa anggaran listrik setahun di UPT BLK Situbondo ? Kata Bahtiar Santoso, instansi yang ia pimpin setahun mendapatkan anggaran listrik sebesar Rp 150 juta. Angka sebesar itu, beber Bahtiar Santoso, sangat cukup untuk biaya listrik dalam rentang waktu setahun. Di UPT BLK Situbondo.

Berita Terkait :  Program ASN Berbagi untuk Sesama

“Jika dana atau anggaran biaya listrik itu lebih, kami distribusikan secara silang untuk kebutuhan biaya pembayaran listrik di UPT BLK Kabupaten lain yang ada di Jawa Timur. Kebijakan bantuan silang ini sudah cukup lama di lakukan,” tandas Bahtiar.

Dalam pandangan Bahtiar, program efisiensi sangat cocok diterapkan saat ini mengingat, dampak perang Timur Tengah dengan USA-Israel, ikut terasa di seluruh belahan dunia. “Kami juga dituntut efisiensi dibidang BBM. Kalau ada program WFH atau bekerja naik sepeda onthel, kami sudah terbiasa. Jadi kami sangat mendukung,” pungkas bapak disabilitas, sebutan yang lama disandang Bahtiar Santoso karena punya perhatian lebih kepada kalangan disabilitas itu. [awi.gat]

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!