Jember, Bhirawa
Pegon merupakan alat transportasi sederhana berupa gerobak kayu yang ditarik dua ekor sapi. Pada abad ke-19, kendaraan tradisional ini digunakan masyarakat pesisir selatan Kabupaten Jember untuk mengangkut hasil bumi.
Hingga kini, pegon masih dilestarikan oleh masyarakat setempat, meski jumlahnya tidak lagi sebanyak pada era 1800-an saat menjadi sarana transportasi utama warga pesisir selatan. Gerobak yang ditarik dua sapi tersebut kini menjelma menjadi simbol budaya masyarakat, khususnya di Kecamatan Ambulu, Kabupaten Jember.
Upaya pelestarian dilakukan melalui Festival Pegon, yakni arak-arakan pegon yang dihias beragam ornamen. Rombongan berangkat dari Balai Desa Sumberejo, Kecamatan Ambulu, menuju Pantai Watu Ulo. Tradisi ini digelar tujuh hari setelah Lebaran, bertepatan dengan perayaan Lebaran Ketupat.
Dalam prosesi tersebut, warga membawa bekal ketupat, sayur, serta berbagai olahan hasil bumi untuk disantap bersama di Pantai Watu Ulo. Kegiatan itu juga diiringi lantunan doa sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Pelaksana Tugas (Plt) Camat Ambulu, Fahrul Asrori, mengatakan tradisi tahunan yang digelar setiap Lebaran Ketupat tersebut bukan sekadar perayaan, melainkan simbol kebanggaan sekaligus kekayaan budaya masyarakat Ambulu dan sekitarnya yang harus terus dijaga keberadaannya.
Meski zaman semakin modern, pegon masih memiliki tempat di hati masyarakat. Dalam keseharian, kendaraan tradisional ini tetap digunakan para petani untuk mengangkut pupuk, hasil panen, hingga material bangunan. Jumlahnya memang semakin berkurang, namun tradisi penggunaannya tetap dipertahankan.
“Arak-arakan pegon ini merupakan kebanggaan masyarakat sekaligus ikon Desa Sumberejo, Kecamatan Ambulu, yang diselenggarakan setiap hari ketujuh bulan Syawal,” ujarnya.
Saat Festival Pegon berlangsung, gerobak kayu yang biasanya digunakan untuk bekerja beralih fungsi menjadi kendaraan hias yang membawa keluarga untuk bersilaturahmi sekaligus berwisata menuju Pantai Watu Ulo. Momentum tersebut menjadi sarana mempererat tali persaudaraan antarwarga di Kecamatan Ambulu dan sekitarnya.
Festival Pegon sendiri berawal dari tradisi yang pertama kali digelar pada 1989, tepatnya pada hari ketujuh setelah Hari Raya Idul Fitri atau saat Lebaran Ketupat.
Sebanyak 36 pegon dari Kecamatan Ambulu, Wuluhan, dan Jenggawah turut memeriahkan festival yang kini menjadi ikon wisata Pantai Watu Ulo, Jember. Ribuan warga dan wisatawan memadati kawasan pesisir selatan Jawa tersebut untuk menyaksikan arak-arakan pegon.
Warga Desa Sumberejo berharap festival ini terus digelar guna menjaga tradisi turun-temurun yang mulai terancam punah seiring berkurangnya jumlah pemilik pegon akibat perkembangan transportasi modern.
Dongkrak pariwisata
Keunikan tradisi lokal seperti Festival Pegon menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan luar daerah untuk berkunjung ke Pantai Watu Ulo.
Salah seorang wisatawan asal Surabaya, Nurul Fatmawati, mengaku tertarik menyaksikan Festival Pegon karena kebetulan keluarganya sedang bersilaturahmi Lebaran di Kabupaten Jember.
Menurutnya, pegon hampir tidak lagi ditemui di kota besar. Karena itu, ia ingin mengenalkan kendaraan tradisional tersebut kepada anak-anaknya melalui festival unik di Desa Sumberejo.
Arak-arakan pegon terbukti menjadi magnet wisata saat libur Lebaran di Pantai Watu Ulo. Data Dinas Kepemudaan, Olahraga, Kebudayaan, dan Pariwisata (Disporabudpar) menunjukkan kunjungan wisatawan meningkat selama festival berlangsung.
Kepala Disporabudpar Kabupaten Jember, Bobby Arie Sandy, mengatakan antusiasme masyarakat mengunjungi Pantai Watu Ulo meningkat pada libur Lebaran 2026, dengan Festival Pegon menjadi salah satu daya tarik utama kawasan pesisir selatan Jember.
Selain itu, penerapan kebijakan tiket terintegrasi di kawasan wisata Pantai Papuma dan Watu Ulo sebesar Rp12.500 turut memberikan dampak positif terhadap peningkatan kunjungan wisatawan.
Tercatat, jumlah kunjungan wisatawan pada periode 21–29 Maret 2026 mencapai 57.806 orang. Lonjakan mulai terlihat pada 21 Maret dengan 1.079 pengunjung, kemudian meningkat tajam menjadi 3.742 orang pada 22 Maret.
Jumlah tersebut terus naik secara konsisten, yakni 6.121 wisatawan pada 23 Maret, meningkat menjadi 6.885 orang pada 24 Maret, dan relatif stabil di angka 6.337 pengunjung pada 25 Maret.
Tren positif kembali terlihat pada 26 Maret dengan 6.584 wisatawan dan 6.579 orang pada hari berikutnya. Puncak kunjungan terjadi pada 28 Maret, bertepatan dengan pelaksanaan Festival Pegon, dengan jumlah pengunjung mencapai 9.148 orang, sebelum sedikit menurun menjadi 8.016 wisatawan pada 29 Maret 2026.
Tingginya kunjungan saat Festival Pegon menjadi bukti bahwa kearifan lokal masyarakat pesisir selatan Jember mampu mendongkrak sektor pariwisata daerah.
Peningkatan tersebut juga menunjukkan masyarakat menyambut baik skema pengelolaan terintegrasi dua objek wisata tersebut. Partisipasi warga lokal dalam pengelolaan potensi wisata terbukti memberikan dampak ekonomi langsung bagi lingkungan sekitar.
Warisan budaya
Pelestarian pegon tidak hanya dilakukan melalui festival, tetapi juga ditempuh melalui jalur formal dengan mengajukannya sebagai warisan budaya tak benda.
Pemerintah Kabupaten Jember mengambil langkah serius untuk melindungi tradisi turun-temurun masyarakat pesisir selatan dengan mengusulkan budaya pegon sebagai Warisan Budaya Tak Benda kepada Kementerian Kebudayaan RI.
Warisan budaya tak benda merupakan bagian penting dari kekayaan budaya bangsa karena mencakup nilai, tradisi, dan praktik yang diwariskan lintas generasi serta membentuk identitas kultural suatu masyarakat.
“Langkah ini dilakukan agar keaslian dan sejarah pegon di Kabupaten Jember mendapatkan pengakuan resmi secara nasional. Tradisi masyarakat pesisir selatan yang berlangsung lintas generasi harus terus dijaga kelestariannya,” kata Bobby.
Penetapan pegon sebagai warisan budaya tak benda diharapkan tidak hanya menjaga keberlanjutan tradisi, tetapi juga meningkatkan daya tarik wisata serta membuka peluang ekonomi lokal melalui penjualan produk tradisional dan kegiatan budaya, sehingga pariwisata dan ekonomi masyarakat dapat tumbuh bersama. [ant.kt]


