Perolehan Omset Menurun, Namun Masih Eksis dengan Pelanggan dari Luar Kota
Oleh:
Sawawi, Kabupaten Situbondo
Di tengah era modern dan serba digital, salah satu usaha sablon kecil milik Umar Hadi, di Dusun Nangkaan, Desa Paowan, Kecamatan Panarukan, Kabupaten Situbondo masih eksis hingga saat ini. Apa saja kunci rahasianya ?
Tepat pukul 07.00 wib, Kamis (11/6) kemarin Umar Hadi bersama salah satu pekerjanya sudah siaga ditempat usaha sablon kecil nan sederhana, di rumahnya, di pinggir jalan raya Desa Paowan, Kecamatan Panarukan, Kabupaten Situbondo.
“Saya tiap pagi sudah memulai usaha sablon di sini. Dahulu pekerja saya jumlahnya belasan orang. Karena perlahan lahan banyak usaha yang bangkrut, akhirnya sekarang pekerja saya hanya tersisa satu orang saja. Tetapi meski hanya seorang pekerja, cukup mendukung usaha sablon ini,” tutur Umar Hadi.
Jebolan PGAN Situbondo tahun 1992 itu melanjutkan, minimnya jumlah pekerja tersebut justeru banyak sisi positifnya, yakni ada kecepatan penyelesaian pemesanan sablon. ‘Yang biasanya order besar dengan sistem partai baru selesai berhari hari, kini dengan bantuan alat baru sudah bisa selesai dalam sehari,” aku Umar Hadi.
Umar Hadi menjelaskan, usaha sablon mulai ia rintis sejak tahun 1996 silam selepas usaha dagang pisang dan kain dalam beberapa tahun lamanya setelah lulus PGAN Situbondo, pada tahun 1992. Seingat Umar Hadi, ia dulu belajar bekerja berdagang pisang kepada Rudianto, teman seangkatan di PGAN Situbondo.
“Ada dua tahun lebih saya buka usaha dagang pisang. Setelah itu kurang prospek saya beralih buka usaha jual kain dengan cara berkeliling naik motor. Sedangkan Rudianto, kolega saya memilih bekerja merantau ke Pulau Dewata Denpasar Bali. Pekerjaan ini juga ada dua tahunan, sebelum saya positif membuka usaha salon,” kupas Umar Hadi.
Berapa harga memesan usaha sablon stiker makanan dan minuman ? Kata Umar Hadi harganya bervariasi, tergantung besar kecilnya orderan. Jika order dalam bentuk partai, harganya cukup murah yakni Rp 400 perlembar. Sebaliknya, sambung Umar Hadi, jika pesan sablon stiker dalam jumlah kecil, harganya sebesar Rp 1000 per lembar.
“Ada stiker kresek buat pertokoan, mall, UMKM, usaha makanan dan minuman. Seperti rengginang, nasi kotak, kertas serta sablon untuk kue dan berbagai macam aneka minuman yang dipesan pelanggan. Alhamdulillah meski kini omset pemesanan mengalami penurunan, usaha sablon saya ini masih bisa eksis,” papar pria dua anak itu.
Dari berbagai pelanggan tetap selama ini, lanjut Umar Hadi, pelanggan Situbondo jumlahnya yang paling mendominasi. Namun juga, beber Umar Hadi, pelanggan dari luar Kota Situbondo juga lumayan banyak. “Misalnya dari Bondowoso dan Jember,” sebut Umar Hadi di tempat usaha sablon kemarin.
Ada berbagai elemen yang membuat usaha sablon kini kian merosot, ujar Umar Hadi, salah satunya adanya sistem digital yang cukup modern saat mencetak stiker. Selain itu, kupas Umar Hadi, banyak pemilik usaha yang mulai enggan menggunakan jasa usaha sablon tradisional.
“Kalau biaya sablon itu sebesar Rp 1.100, lembar/lembar. Kalau kaos bisanya Rp 10 ribu. Itu kalau pemesanan dalam skala kecil. Namun jika memesan dalam jumlah besar, seperti tas kresek, hanya dibanderol Rp 400 per lembar,” imbuh Umar Hadi.
Berapa pendapatan Umar Hadi setiap harinya ? Umar Hadi tidak mau menyebut keuntungan usaha sablon dalam skala tetap, karena jumlah pelanggan yang memesan tiap harinya tidak sama. “Ya, ada pendapatan sekitar Rp 5.000 dikalikan 115. Itu silahkan dijumlahkan sendiri. Itu bagi saya sudah cukup,” pungkas Umar Hadi. [awi.gat]


