Oleh:
Aisyah Anggraeni
adalah mahasiswa Prodi S3/Doktor Pendidikan Dasar FIP Universitas Negeri Padang (UNP) Sumbar; alumni S1 PGSD & S2 Pendas UNP.
Pendidikan Indonesia barangkali adalah salah satu institusi paling rajin bergerak di negeri ini. Ia bergerak hampir setiap saat. Kurikulumnya bergerak. Sistem penilaiannya bergerak. Istilah-istilahnya bergerak. Bahkan nama programnya bergerak lebih cepat daripada hasil yang ingin dicapai.
Begitu sering bergerak sehingga kadang muncul pertanyaan yang agak tidak sopan: sebenarnya pendidikan kita sedang berjalan ke depan atau sedang jogging di atas treadmill?. Dari jauh tampak melaju. Dari dekat ternyata tetap di tempat.
Setiap beberapa tahun, publik disuguhi optimisme baru. Program baru lahir. Platform baru diluncurkan. Aplikasi baru diperkenalkan. Seminar digelar. Webinar diselenggarakan. Spanduk dicetak. Foto bersama diambil. Laporan dibuat. PowerPoint dipresentasikan.Negeri ini memang luar biasa produktif dalam menghasilkan kegiatan.Hanya saja, kegiatan dan kemajuan sering kali merupakan dua makhluk yang berbeda spesies.
Tahun 2026, anggaran pendidikan menembus sekitar Rp757 triliun. Angka yang begitu besar sehingga jika ditulis di secarik kertas, sebagian orang mungkin perlu menarik napas terlebih dahulu sebelum membacanya. Anggaran sebesar itu seharusnya membuat kita optimistis. Dan memang kita optimistis. Setidaknya sampai membaca berbagai data tentang kualitas pembelajaran.Di situlah senyum mulai berubah menjadi senyum miring.
Rata-rata lama sekolah penduduk Indonesia masih berada di kisaran sembilan tahun. Berbagai asesmen menunjukkan kemampuan literasi dan numerasi peserta didik masih menghadapi tantangan serius. Sementara dunia di luar sana sudah berdebat tentang kecerdasan buatan, robotika, dan masa depan pekerjaan, sebagian ruang kelas kita masih bergulat dengan persoalan yang sangat mendasar: bagaimana membuat siswa benar-benar memahami apa yang dibacanya.
Kondisi ini mengingatkan pada sebuah ironi klasik. Kita berhasil membawa semakin banyak anak masuk sekolah, tetapi belum selalu berhasil membawa sekolah masuk ke dalam proses belajar mereka.Gedungnya ada.Seragamnya ada.Ijazahnya ada.Belajarnya kadang-kadang menyusul.
John Dewey (1916) pernah mengatakan bahwa pendidikan adalah kehidupan itu sendiri. Kalau pernyataan itu dibawa ke Indonesia hari ini, mungkin ia akan menemukan bahwa kehidupan pendidikan kita cukup sibuk mengurus berbagai hal di luar belajar. Kita seperti memiliki bakat istimewa untuk membuat sesuatu yang sederhana menjadi sangat administratif.
Guru ingin mengajar.Lalu datang laporan.Laporan selesai.Datang formulir.Formulir selesai.Datang aplikasi.Aplikasi selesai.Datang pembaruan aplikasi.Akhirnya, kegiatan mengajar harus mencari celah waktu di antara berbagai kewajiban yang dirancang untuk mendukung kegiatan mengajar.Barangkali hanya di dunia pendidikan seseorang bisa menghabiskan banyak waktu untuk membuktikan bahwa ia sedang mengajar, daripada untuk mengajar itu sendiri.
Di tengah situasi itu, dunia berubah dengan kecepatan yang hampir tidak masuk akal. Kecerdasan buatan kini dapat menulis artikel, membuat gambar, menerjemahkan bahasa, menyusun laporan, bahkan menjawab pertanyaan yang dahulu membutuhkan berjam-jam pencarian.Mesin mulai belajar.Manusia justru sibuk mengurus administrasi belajar.Inilah mungkin bentuk humor paling gelap yang ditawarkan abad ke-21.
Yuval Noah Harari (2018) mengingatkan bahwa tantangan terbesar masa depan bukan kekurangan informasi, melainkan limpahan informasi. Persoalannya bukan lagi bagaimana memperoleh pengetahuan, melainkan bagaimana memilahnya. Namun sebagian sistem pendidikan kita masih bertingkah seolah informasi adalah barang langka yang harus dihafalkan sebanyak mungkin.
Anak-anak hidup di era internet tanpa batas.Sekolah kadang masih bertindak seolah Google belum ditemukan.Lebih ironis lagi, keberhasilan pendidikan sering diukur dari hal-hal yang paling mudah dihitung, bukan yang paling penting. Jumlah pelatihan. Jumlah sertifikat. Jumlah peserta. Jumlah kegiatan. Jumlah unggahan.
Sementara kemampuan berpikir kritis, rasa ingin tahu, keberanian bertanya, dan kecakapan bernalar (yang justru menjadi inti pendidikan) tidak selalu muncul dalam tabel rekapitulasi.Padahal masa depan tidak terlalu peduli berapa banyak formulir yang pernah diisi seseorang.Masa depan lebih peduli apakah ia mampu berpikir.
Paulo Freire (1970) pernah mengkritik pendidikan yang memperlakukan peserta didik seperti rekening bank kosong yang tinggal diisi. Kritik itu terdengar semakin relevan sekarang. Sebab pendidikan yang hanya menumpuk informasi tanpa melatih nalar pada akhirnya hanya menghasilkan gudang data yang kebetulan bisa berjalan.
Masalahnya, dunia masa depan tidak membutuhkan gudang.Dunia membutuhkan kompas.Informasi bisa dicari dalam hitungan detik. Tetapi kebijaksanaan, penalaran, dan kemampuan mengambil keputusan tidak dapat diunduh seperti aplikasi.
Karena itu, persoalan terbesar pendidikan Indonesia mungkin bukan kekurangan anggaran, bukan kekurangan program, bahkan bukan kekurangan teknologi. Persoalan terbesarnya adalah kegemaran kita menganggap perubahan kemasan sebagai perubahan isi.
Kita terlalu sering merayakan proses.Terlalu jarang memeriksa hasil.Terlalu sibuk bergerak.Terlalu sedikit bertanya ke mana arah gerakan itu.Pada akhirnya, pendidikan tidak membutuhkan revolusi istilah setiap beberapa tahun. Pendidikan membutuhkan keberanian yang jauh lebih sederhana: memastikan bahwa setiap perubahan benar-benar membuat anak belajar lebih baik.
Sebab ada perbedaan besar antara bergerak dan berpindah.Jarum jam bergerak sepanjang hari, tetapi setiap malam kembali ke angka yang sama.Jangan-jangan, setelah sekian lama berlari, pendidikan kita sedang mengalami nasib yang serupa.Sibuk berputar.Lelah bergerak.Dan diam-diam tetap berada di tempat yang sama.
————- *** —————


