32 C
Sidoarjo
Friday, April 17, 2026
spot_img

Sosok Syaifun dan Romansa Malaikat Subuh di Jantung Sidoarjo

Di tengah sengatan langit pusat kota, siluet kereta kayu beroda besar nampak kontras di antara deru mesin modern yang berlalu lalang. Di sana, Mokhammad Syaifunnawal (25), atau yang akrab disapa Saifun, duduk tenang menanti pelanggan bersama “keluarga” yang telah menemaninya selama 10 tahun terakhir. Seekor kuda jantan yang ia beri nama Malaikat Subuh, sebuah nama yang bukan sekadar panggilan, melainkan harapan. Di setiap sebutannya, terselip doa-doa sunyi, seolah sang kuda akan mengantarnya menjemput rezeki sejak fajar pertama menyingsing.

Oleh: Ayun Permata Syahrir, Kabupaten Sidoarjo

 Sejak kecil, hidupnya tak pernah jauh dari bau jerami dan suara ringkik kuda. Lingkungan itulah yang menumbuhkan ketertarikan Saifun untuk semakin dekat dengan pekerjaan sebagai kusir delman. Bagi Saifun, delman bukan sekadar alat transportasi yang dianggap usang. Ia adalah bagian dari sejarah hidupnya dan warisan yang ia peluk erat sejak masih berseragam SMP pada 2014 silam. Di saat teman-teman sebayanya beralih ke kendaraan bermesin, Saifun justru memilih untuk melestarikan apa yang ia sebut sebagai ikon Sidoarjo. 

 “Karena menurut saya, delman ini, dengan berkembangnya zaman, saya akan melestarikan transportasi tradisional. Kan sudah jarang nih, terus anak-anak kecil nih kalau kita tidak mengenalkan, ya kapan lagi. Selain itu, ini juga salah satu ikon Kota Sidoarjo” ujar Saifun dengan nada mantap saat ditemui di pojok Alun-Alun Sidoarjo, Senin (2/3).

Berita Terkait :  Melihat Prasasti Kamulan, Erma Ingatkan Sejarah Harus Dipelihara dan Dijadikan Contoh

 Hubungan Saifun dengan kudanya jauh melampaui hubungan majikan dan hewan beban. Baginya, Malaikat Subuh adalah bagian dari keluarga yang sudah menemaninya selama 15 tahun. Setiap pagi sebelum berangkat menarik delman, Saifun selalu menyempatkan diri mengelus kepala kuda kesayangannya. Ia lalu berbisik pelan di dekat telinganya. “Ayo, Le, semangat. Ayo, Le, nyambut gawe.” Kalimat yang mungkin terdengar biasa, namun baginya adalah titik-titik di ujung doa keselamatan pembuka jalan. Rutinitas ini menjadi ritual khusus bagi Saifun setiap kali menempuh perjalanan menuju jantung Kota Sidoarjo.

 Konsistensi Saifun dalam merawat Malaikat Subuh pun terbilang luar biasa. Meski pendapatan harian tidak menentu, yang terkadang hanya mendapatkan 4 sampai 5 penumpang sehari, Saiful tetap memprioritaskan kesehatan kudanya. “Kalau kita tulus, ikhlas, dan kasih sayang terhadap hewan, Insya Allah rezeki itu ada,” ucapnya.

 Pemuda asal Magersari, Sidoarjo, itu mengaku lebih baik dirinya yang merasa tidak nyaman daripada membiarkan hewan kesayangannya menderita sakit, terutama penyakit perut yang rawan menyerang kuda di musim dingin. Namun, perjalanannya tak selalu mulus. Ia mengenang masa sulit saat pandemi COVID-19 melanda, di mana ia terpaksa harus berhenti menarik dan kehilangan banyak pendapatan.

 Selama bulan Ramadan, tantangannya adalah cuaca yang menyengat. Di hari-hari biasa, seperti Senin hingga Sabtu, ia biasanya mulai mangkal pukul 16.00 sore hingga 21.00 malam. Sementara di hari Minggu atau libur, ia akan mangkal lebih pagi mulai pukul 06.30 dan pulang ketika matahari sudah mulai terik pada pukul 10.00 atau 11.00 siang. Tetapi jika ada Car Free Day (CFD), Saifun akan masuk pukul 9.00 pagi hingga 13.00 siang dan kembali di malam hari.

Berita Terkait :  Kemkomdigi Blokir 6,3 Juta Konten Judi, Jatim Harus Tangani Lintas Sektor

 Meski zaman telah berganti dan delman semakin jarang dilirik, Saifun tetap menjaga etika dan penampilan. Ia percaya bahwa keramahan, kesopanan, dan kebersihan adalah kunci agar pelanggan tetap mau kembali menaiki delmannya. Baginya, kebahagiaan sejati bukan soal tumpukan rupiah di akhir hari. “Bagian yang paling membahagiakan adalah ketika melihat pelanggan tersenyum. Ada kebanggaan tersendiri saat mereka merasa senang naik delman saya,” pungkas Saifun sambil mengelus surai Malaikat Subuh.

 Di sela-sela penantiannya menunggu pelanggan, Saifun menyimpan sebuah harapan besar. Ia ingin pemerintah lebih memperhatikan nasib para kusir delman, seperti yang dilakukan di Kota Batu. “Semoga pemerintah bisa membantu menyediakan tempat mangkal, terutama di tengah kota seperti Sidoarjo atau di destinasi wisata. Sama halnya seperti di daerah Kota Batu, kusir dan delmannya itu mendapat gaji bulanan dari pemerintah,” tuturnya penuh harap. Ia mengaku, perhatian itu bukan sekadar soal penghasilan, melainkan tentang menjaga agar warisan yang ia cintai tetap hidup di tengah laju zaman yang kian cepat. mg5.wwn

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!