28.9 C
Sidoarjo
Thursday, June 4, 2026
spot_img

Dosen Unair Imbau Warga Kelola Keuangan Bijak


Surabaya, Bhirawa
Dosen Perbankan dan Keuangan Fakultas Vokasi Universitas Airlangga (UNAIR) menagapai masalah nilai tukar rupiah terhadap dolar AS terus naik menimbulkan kekhawatiran terkait dampaknya terhadap roda perekonomian nasional.

Fenomena penurunan nilai mata uang domestik menimbulkan kekhawatiran terkait dampaknya terhadap perekonomian, terutama dalam pemenuhan kebutuhan sehari-hari, jadi memicu perhatian dari berbagai kalangan, mulai dari pelaku pasar hingga masyarakat awam. Kamis, (4/6/2026)

Dosen Perbankan dan Keuangan Fakultas Vokasi UNAIR, Dr Andi Estetiono SE MM mengatakan pelemahan rupiah membawa dampak terhadap tiga risiko utama perbankan, antara lain risiko likuiditas, risiko pasar, dan risiko kredit dan kenaikan dolar AS terhadap rupiah berdampak terhadap perbankan, bukan hanya dampak terhadap harga atau inflasi.

“Dari sisi likuiditas perbankan, khususnya likuiditas valas, terdapat kecenderungan seseorang memilih mengamankan asetnya dengan mencairkan simpanan rupiah di bank lalu menyimpan dalam bentuk dolar AS, untuk mendapatkan keuntungan sesaat dan konversi ke aset lain seperti emas atau aset lainnya yang dianggap aman,” jelasnya.

Lanjut Andi menjelaskan bahwa pada risiko pasar apabila bank memiliki posisi valas terbuka, maka terkena revaluasi, terjadi net short valas pada bank, rugi selisih kurs langsung tercatat, berdampak pada laba rugi, dan risiko ketiga mengarah pada sektor kredit, bagi para nasabah memiliki pinjaman dalam bentuk dolar AS menjalankan usahanya di dalam negeri dengan pendapatan rupiah, akan berat membayar bunga dan cicilan, kredit bermasalah perbankan atau NPL berpotensi meningkat.

Berita Terkait :  Dewan Pendidikan Surabaya Perkuat Sinergi Hadapi Disrupsi Teknologi di Sekolah

“Mendapatkan penghasilan rupiah, tapi harus mengangsur atau membayar dalam dolar AS, sehingga ketiga risiko tersebut perlu dimitigasi oleh industri perbankan,” kata Andi.

Andi mengukapkan perbankan nasional merespons penahanan dana likuiditas melalui penyesuaian tingkat suku bunga simpanan, pada kondisi itu menjaga kepercayaan nasabah dan menjaga likuiditas bank.

“Bank cenderung menaikkan tingkat bunga simpanan, tetapi untuk bunga pinjaman akan cenderung sulit jika langsung dinaikkan, akibatnya Net Interest Margin (NIM) atau selisih bunga antara pinjaman terhadap simpanan akan semakin menipis, berarti keuntungan bank makin mengecil sehingga bank harus lebih efisien dalam operasionalnya,” ungkapnya.

Andi menyampaikan pada masyarakat tetap tenang dan bijak, tidak usah panik, fokus pada pemenuhan kebutuhan bukan keinginan.

“Masyarakat perlu mempelajari pengelolaan keuangan dengan baik di masa seperti ini, terutama pada portofolio Tabungan, kelola keuangan dengan baik, portofolio ada di tabungan, sebagian deposito, sebagian logam mulia, atau saham, atau investasi langsung ke sektor real yang tetap tumbuh dan aman seperti kafe, dan cara pandangan kita harus selalu positif dan mampu melihat hikmah dari setiap kejadian,” imbuhnya. [ren.kt]

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!