28.9 C
Sidoarjo
Wednesday, June 3, 2026
spot_img

Mengukur Harga Telur

Sebanyak satu juta butir telur ayam (62,5 ton) dibagikan gratis, sebagai aksi demo damai peternak ayam petelur di seantero Blitar raya. Harga telur saat ini turun drastis, hanya sekitar Rp 21 ribu (di kandang), dibanding harga acuan pemerintah (HAP) di pasar sebesar Rp 30 ribu per-kilogram. Peternak merugi, karena harga pakan impor melonjak tajam. Begitu pula bahan pakan tradisional (dedak) juga naik. Padahal konon, kebutuhan semakin besar berkait MBG (Makan Bergizi Gratis). Realitanya, konsumen telur tetap.

Bisa jadi, peternak ayam petelur akan semakin ter-pinggir-kan, manakala BGN (Badan Gizi Nasional) menambah kapasitas produksi telur. Terutama investor asing, dengan padat modal dan padat teknologi. BGN (Badan Gizi Nasional) me-wacana-kan penambahan sebanyak 1,5 juta peternak baru, untuk mengelola ayam sebanyak 6 juta ekor. Angka ini sangat ironis, karena setiap peternak “dijatah” 4 ekor ayam. Padahal jika 4 ekor ayam, cukup dititipkan kepada peternak yang sudah ada.

Namun jika dikelolakan pada perusahaan asing, akan menjadi persaingan tidak seimbang dengan peternak lokal (mandiri). Perkiraan kebutuhan telur MBG diduga mencapai 127 juta kilogram, setara dengan 700 juta butir per-tahun. Tidak terlalu besar, hanya 1,96% kapasitas produksi telur nasional. Tetapi dengan estimasi jumlah penerima manfaat yang meningkat (sampai 92 juta sasaran), akan semakin besar, sekitar 15,36% kapasitas produksi nasional.

Yang wajib diperhitungkan seksama, adalah kebutuhan pakan. Terutama karena pelemahan nilai rupiah, maka harga pakan impor juga naik pesat. Sebanyak 35% bahan pakan, dan konsentrat, masih harus di-impor. Misalnya, tepung bungkil kedelai (Soybean Meal, SBM), di-impor dari Amerika Serikat, dan Argentina. Dipilih pakan impor (SBM) karena kandungan protein sangat tinggi (sampai 50%). Sedangkan pakan lokal (bungkil kelapa, dan bungkil sawit) kadar protein hanya 18%.

Berita Terkait :  Bupati dan Sekda Kecewa, Angka SAKIP di Sidoarjo Terus Menurun

Begitu pula harga dedak, dan jagung, sebagai bahan pakan utama (55%) turut naik. Bahkan saat ini terjadi tren harga pakan semakin naik. Termasuk konsentrat produk pabrik dalam negeri. HAP (Harga Acuan Pembelian) telur ditentukan oleh Bapanas melalui Peraturan Bapanas Nomor 6 Tahun 2024. Pada tingkat kandang sebesar Rp 24 – Rp 26.500,- ribu per-kilogram. Sedangkan di tingkat konsumen menjadi Rp 30 ribu. Sedangkan saat ini harga telur (Rp 21 ribu). Artinya, belum mencapai harga ke-ekonomi-an peternak.

Peternak tekor. Lebih lagi, pakan ayam di-monopoli oleh satu perusahaan BUMN (PT. Berdikari). Tak jarang, cukup sulit mencari pakan, menyebabkan harga lebih mahal. Sudah berkali-kali dalam satu dekade, peternak ayam selalu diguncang ke-tidak stabilan harga telur. Melalui Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan, pemerintah coba menyeimbangkan antara biaya produksi dengan harga pasar.

Terutama stabilitas harga pakan, berkonsultasi dengan pabrik agar tidak menaikkan harga pakan. Juga mensubsidi khusus harga jagung dengan harga Rp 5.500,- per-kilogram. berlaku tertutup dan temporer (waktu terbatas). Tetapi aksi demo damai peternak ayam dilakukan lagi, di seantero Blitar (termasuk Kediri, Tulungagung, dan Trenggalek). Bahkan Presiden ke-7, Jokowi, merespons langsung aksi demo, dengan mengirim dua truk jagung pakan ayam untuk peternak Blitar. Serta membayar selisih kemahalan harga jagung sebagai subsidi.

Komoditas telur bisa memiliki harga ke-ekonomi-an yang stabil. Khususnya di Jawa Timur bagian tengah dikenal sebagai sentra produksi telur (dan ayam) level nasional, dan global. Sehingga harga telur bisa dikendalikan di pusatnya. Terdapat Perpres Nomor 66 Tahun 2021, di dalamnya di-amanat-kan berisi jenis pangan yang “diwaspadai.” Termasuk telur unggas.

Berita Terkait :  Pegawai dan PIPAS Cabang Rutan Situbondo Kompak Ikuti Donor Darah

——— 000 ———

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!