Oleh:
Fathma Anggraita
New civitas PGSD-2026 FIP Universitas Negeri Padang (UNP)
Menjadi guru hari ini tampaknya memang membutuhkan kemampuan tambahan di luar mengajar. Bukan lagi soal menguasai materi pelajaran atau memahami psikologi siswa, melainkan kemampuan bertahan hidup di tengah era ketika semua orang merasa lebih pintar daripada guru.
Dulu murid takut dipanggil ke ruang guru. Sekarang guru yang sering takut dipanggil orang tua murid.Sedikit suara meninggi bisa dianggap kekerasan verbal. Sedikit ketegasan bisa berubah menjadi video viral lengkap dengan musik sendu dan tulisan: ‘Miris… masih ada guru seperti ini.’ Setelah itu, netizen bekerja seperti sidang Mahkamah Agung versi komentar Instagram.
Vonis dijatuhkan dalam hitungan menit.Aneh memang. Di negeri ini, orang yang paling mudah diminta membentuk karakter justru orang yang paling sedikit diberi ruang untuk bersikap tegas.
Guru diminta mencetak generasi disiplin, tetapi tidak boleh terlalu keras. Diminta membangun akhlak, tetapi jangan sampai membuat murid tersinggung. Diminta mendidik moral, tetapi tetap harus ramah seperti layanan pelanggan.
Sekolah perlahan berubah seperti pusat perbelanjaan pendidikan. Murid adalah konsumen. Orang tua pelanggan. Guru? Ya, semacam petugas layanan yang wajib selalu tersenyum meskipun batinnya mungkin sudah seperti printer sekolah: macet, panas, dan bunyi terus.
Lucunya, masyarakat tetap heran ketika wibawa guru menurun.Padahal kita hidup di zaman ketika otoritas kalah oleh popularitas. Anak-anak sekarang lebih percaya konten motivasi berdurasi 15 detik dibanding nasihat guru selama satu semester. Yang penting bukan lagi siapa yang paling memahami persoalan, melainkan siapa yang paling menarik perhatian algoritma.
Marshall McLuhan (1964) pernah mengatakan bahwa media tidak hanya menyampaikan pesan, tetapi juga membentuk cara manusia memandang dunia. Dalam iklim digital hari ini, media sosial perlahan mengubah relasi pendidikan menjadi relasi popularitas. Guru kalah bukan karena tidak memiliki ilmu, melainkan karena kalah cepat dari arus hiburan.
Akibatnya, guru tidak lagi dipandang sebagai pendidik, melainkan salah satu akun yang opininya boleh disukai atau dibatalkan kapan saja.Dalam situasi seperti itu, banyak guru akhirnya memilih strategi bertahan paling aman: jangan terlalu peduli.
Masuk kelas, jelaskan materi, beri tugas, isi administrasi, pulang. Tidak banyak menegur. Tidak terlalu dekat dengan siswa. Tidak terlalu terlibat secara emosional. Sebab di zaman sekarang, niat baik pun bisa berubah menjadi masalah administrasi.Pendidikan akhirnya berjalan seperti layanan otomatis. Yang penting sistem bergerak. Soal manusia tumbuh atau tidak, itu urusan nanti.
Ironisnya, sekolah justru semakin sibuk dengan hal-hal yang tampak modern. Semua berlomba bicara transformasi digital, kecerdasan artifisial, pembelajaran adaptif, dan berbagai istilah futuristik yang kadang bahkan lebih sulit dipahami daripada rumus fisika.Padahal banyak ruang kelas hari ini bahkan kehilangan hal paling sederhana: hubungan manusiawi antara guru dan murid.
Guru sibuk mengisi laporan digital. Murid sibuk membuka tab lain di laptop. Orang tua sibuk mengecek nilai. Negara sibuk mengganti istilah kurikulum. Semua tampak bekerja. Semua tampak bergerak maju.Hanya pendidikan yang kadang tertinggal di belakang.
Dalam perspektif sosiologi pendidikan, masalah ini sebenarnya bukan sekadar soal perilaku siswa yang makin sulit diatur. Ini soal perubahan struktur sosial yang membuat otoritas moral perlahan kehilangan tempatnya.
Keluarga makin sibuk. Percakapan di rumah makin pendek. Anak lebih lama menatap layar daripada wajah orang tua. Sekolah lalu diminta menggantikan seluruh fungsi sosial yang hilang itu dalam waktu tujuh jam pelajaran.
Tentu saja mustahil.Namun seperti biasa, dunia pendidikan kita memang gemar diberi target yang terdengar heroik. Guru diminta membangun generasi emas, memperkuat karakter bangsa, menciptakan pelajar kritis, sekaligus menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi global.
Lengkap sekali. Tinggal ditambah tugas memperbaiki cuaca nasional.Sementara itu, kesejahteraan psikologis guru jarang dibicarakan serius. Yang dibahas biasanya dedikasi. Seolah-olah profesi guru harus selalu identik dengan pengorbanan tanpa batas. Guru yang lelah dianggap kurang ikhlas. Guru yang mengeluh dianggap tidak profesional.
Padahal manusia biasa pun bisa habis energinya jika terus-menerus diminta menjadi teladan di tengah masyarakat yang makin gemar mencemooh.Paulo Freire (1970) menyebut pendidikan sebagai proses memanusiakan manusia. Persoalannya, pendidikan kita hari ini kadang terlalu sibuk mengejar performa sampai lupa menjaga manusianya: baik murid maupun gurunya.
Di ruang digital, penghormatan kepada guru sering tinggal seremoni tahunan. Hari Guru dipenuhi ucapan manis dan video haru. Besoknya, guru kembali menghadapi kenyataan: tekanan administratif, ketidakpercayaan sosial, dan murid yang lebih fokus pada baterai ponsel daripada pelajaran di papan tulis.
Yang lebih menarik, masyarakat kita sebenarnya masih suka menyalahkan guru atas hampir semua hal. Tawuran? Salah pendidikan. Korupsi? Salah pendidikan. Etika publik rusak? Lagi-lagi pendidikan.Guru tampaknya sudah menjadi profesi multiguna: mengajar matematika, membentuk moral bangsa, sekaligus menanggung dosa sosial masyarakat.
Padahal sekolah tidak pernah bekerja sendirian. Pendidikan selalu bergantung pada ekosistem sosial yang lebih luas. Emile Durkheim (1925) menegaskan bahwa pendidikan adalah sarana masyarakat mewariskan nilai moral dan menjaga keteraturan sosial. Ketika otoritas guru melemah, yang terganggu bukan hanya disiplin kelas, melainkan juga proses pewarisan nilai antargenerasi.
Karena itu, ketika guru tidak lagi didengar, sesungguhnya yang sedang bermasalah bukan hanya ruang kelas.Yang sedang retak adalah cara masyarakat memandang ilmu, keteladanan, dan otoritas moral itu sendiri.
Dan jika keadaan ini terus dianggap biasa, mungkin beberapa tahun lagi guru masih tetap berdiri di depan kelas. Masih mengajar. Masih memberi nilai.Hanya saja, perlahan mereka berubah menjadi dekorasi pendidikan: ada, tetapi tidak benar-benar dianggap penting.
————— *** ——————-


