Situbondo, Bhirawa – Memasuki musim kemarau, Pemkab Situbondo terus memperkuat penanganan kekeringan dengan menambah distribusi air bersih sekaligus menyiapkan solusi jangka panjang berupa pembangunan sumur bor. Tahun ini, pemerintah daerah telah menganggarkan pembangunan sumur bor di wilayah yang mengalami kesulitan air.
Kebijakan tersebut disampaikan Bupati Situbondo Yusuf Rio Wahyu Prayogo atau Mas Rio saat turun langsung ke Desa Gunung Putri, Kecamatan Suboh bersama organisasi perangkat daerah (OPD) terkait. Dalam kunjungan itu, Mas Rio melihat kondisi warga sekaligus meninjau sumber mata air yang selama ini menjadi salah satu tumpuan masyarakat.
Seperti diketahui sumber mata air tersebut berada sekitar 1,5 kilometer dari permukiman warga. Kondisi itu membuat masyarakat harus menempuh jarak cukup jauh untuk mendapatkan air, terutama saat sumber air di sekitar rumah mulai mengering.
Ia mengatakan penanganan kekeringan tidak cukup hanya dengan mengandalkan distribusi air bersih. Karena itu, pemerintah juga telah menyiapkan sumber air yang bisa dimanfaatkan masyarakat dalam jangka panjang.
“Tahun ini kita sudah anggarkan untuk pembangunan sumur bor. Ini salah satu upaya kita supaya masyarakat tidak terus mengalami kesulitan air setiap musim kemarau,” kata Mas Rio, Selasa (1/9/2026).
Menurut orang nomor satu di lingkungan Pemkab Situbondo itu, pembangunan sumur bor diharapkan dapat mendekatkan akses sumber air kepada masyarakat. Dengan demikian, warga tidak harus terus berjalan kaki yang jauh maupun membeli air ketika musim kemarau berlangsung.
Sementara untuk kebutuhan mendesak, kata Mas Rio, distribusi air bersih akan ditingkatkan. Pengiriman air yang sebelumnya dilakukan satu kali dalam sepekan akan ditambah menjadi dua hingga tiga kali dalam sepekan, termasuk peningkatan volumenya.
“Volumenya kita tambah dari seminggu sekali menjadi seminggu dua kali atau tiga kali,” ujarnya.
Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Situbondo, sebanyak 4.271 KK atau 11.409 jiwa terdampak kekeringan di Kabupaten Situbondo. Sedangkan kecamatan Suboh menjadi salah satu wilayah dengan jumlah warga terdampak cukup besar, yakni sebanyak 1.064 KK atau 3.302 jiwa.
Salah seorang warga Desa Gunung Putri bernama Maimunah, mengatakan kesulitan air telah dirasakan selama sekitar tiga hingga empat bulan terakhir. “Kalau di sini sekitar tiga sampai empat bulan,” kata Maimunah.
Untuk mendapatkan air, kata Maimunah, warga harus berjalan kaki menuju sungai yang berjarak sekitar 1,5 kilometer. Sementara jika membeli air, warga harus menempuh jarak sekitar satu kilometer.
“Kalau ke sungai di sini hampir 1,5 kilometer jalan kaki. Kalau beli di sini lumayan, hampir satu kilometer juga,” ujarnya.
Harga air yang dibeli warga berkisar Rp500 hingga Rp1.000 per jeriken. Air tersebut digunakan untuk berbagai kebutuhan, mulai dari minum, memasak, mandi hingga kebutuhan ternak.
“Harapan kami terus dikirimi air, supaya desa di sini tidak kesulitan air. Buat minum, buat sapi juga, buat mandi, buat masak,” pungkas Maimunah. [awi.kt]

