Surabaya, Bhirawa – Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) mengembangkan sensor pendeteksi gempa bumi berbiaya rendah yang berpotensi dipasang di rumah-rumah masyarakat. Inovasi tersebut dikembangkan untuk memperkuat sistem mitigasi bencana di Indonesia yang memiliki tingkat kerawanan gempa cukup tinggi.
Wakil Kepala Pusat Studi Mitigasi Kebencanaan dan Perubahan Iklim (MKPI) ITS, Dr Ir Berlian Al Kindhi SST MT, mengatakan sensor tersebut merupakan hasil kolaborasi Departemen Teknik Elektro Otomasi dan Departemen Teknik Sipil ITS bersama mitra Rabasa Beton, Ponorogo. “Sensor ini berbiaya rendah sehingga dapat dikembangkan dan diaplikasikan di berbagai rumah penduduk,” ujar Berlian.
Menurutnya, sensor tersebut menggunakan teknologi berbasis mikrokontroler yang mampu mendeteksi getaran tanah secara real-time. Ketika sensor mendeteksi getaran yang melampaui ambang tertentu, sistem secara otomatis mengirimkan notifikasi sekaligus mengaktifkan alarm peringatan.
Selain itu, informasi geolokasi dan data historis hasil deteksi dapat ditampilkan melalui situs web pemantauan insamo.id. Sensor yang terpasang juga menjadi bagian dari ekosistem mitigasi bencana berbasis digital yang terintegrasi dengan aplikasi pemantauan.
Data yang diterima aplikasi melalui sensor saat terjadi bencana dapat dimanfaatkan untuk memetakan potensi bencana di sekitar lokasi. Teknologi tersebut tidak hanya dikembangkan untuk mendeteksi gempa, tetapi juga dapat memantau ketinggian air sebagai bagian dari mitigasi banjir dan tanah longsor.
Berlian menilai keunggulan lain dari sensor tersebut terletak pada biaya produksinya yang lebih rendah dibandingkan sensor sejenis yang telah tersedia di pasaran. Dengan biaya yang lebih terjangkau, teknologi tersebut diharapkan dapat menjangkau lebih banyak masyarakat, termasuk dipasang pada rumah-rumah warga.
Pengembangan sensor tersebut dilakukan ITS bersamaan dengan uji coba terhadap prototipe bangunan tahan gempa di Ponorogo, Kamis (20/8). Dosen Departemen Teknik Sipil ITS Ahmad Basshofi Habieb ST MT PhD bersama tim mengembangkan prototipe bangunan yang dirancang untuk mengurangi risiko kerusakan akibat gempa.
Basshofi mengatakan lingkungan hunian menjadi salah satu bagian yang perlu mendapat perhatian dalam mitigasi gempa karena kerusakan bangunan dapat berdampak langsung terhadap keselamatan masyarakat. “Prototipe ini diharapkan menjadi solusi untuk membangun rumah dan pemukiman yang lebih aman apabila saat terjadi gempa,” ujarnya.
Prototipe bangunan tersebut terdiri atas dua lantai dan dibangun di atas base isolator. Teknologi tersebut bekerja dengan memisahkan gerakan tanah dari struktur bangunan sehingga pergerakan bangunan dapat lebih terkontrol ketika menerima guncangan.
Bangunan juga dirancang menggunakan dinding hebel yang lebih tebal serta struktur atas tanpa rangka beton bertulang untuk meningkatkan efisiensi biaya.
Basshofi berharap pengembangan kedua inovasi tersebut dapat dilanjutkan melalui kolaborasi dengan berbagai lembaga sehingga dapat segera diimplementasikan secara lebih luas, terutama di wilayah yang memiliki risiko gempa tinggi. “Saya berharap hasil penelitian ini dapat segera diimplementasikan agar dampak akibat gempa yang kerap terjadi di Indonesia dapat diminimalkan,” tuturnya.
Pengembangan sensor pendeteksi gempa dan prototipe bangunan tahan gempa tersebut menjadi bagian dari upaya ITS memperkuat mitigasi bencana sekaligus membangun masyarakat dan lingkungan hunian yang lebih tangguh menghadapi bencana. [ina.wwn]

